PROKAL.CO- Gelombang kecaman internasional kini tengah memuncak setelah beredarnya sebuah foto kontroversial yang memperlihatkan seorang tentara Israel menghancurkan patung Yesus Kristus di wilayah Lebanon selatan. Gambar yang viral di media sosial sejak 19 April 2026 tersebut memicu reaksi keras dari berbagai belahan dunia, terutama terkait dugaan pelanggaran terhadap simbol-simbol keagamaan di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang masih membara.
Dalam foto tersebut, seorang prajurit terlihat menggunakan palu besar untuk merusak patung Yesus yang terletak di pinggiran Desa Debl, sebuah wilayah dekat perbatasan Israel. Aksi vandalisme ini segera menuai kritik tajam dari para aktivis, politisi, hingga masyarakat sipil yang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk penodaan nyata terhadap kesucian agama.
Militer Israel (IDF) sendiri telah mengonfirmasi keaslian foto yang telah ditonton lebih dari 5 juta kali di platform X tersebut. Pihak militer menyatakan bahwa prajurit dalam gambar memang sedang beroperasi di Lebanon selatan sebagai bagian dari operasi darat yang berlangsung sejak bulan lalu. Menanggapi desakan publik, militer Israel mengeklaim telah membuka investigasi internal dan berjanji akan mengambil langkah tegas terhadap pihak yang terlibat, karena tindakan tersebut dinilai sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka junjung.
Reaksi keras pun datang dari kalangan politisi di Knesset. Ayman Odeh melontarkan sindiran sarkastik terkait narasi keamanan yang sering digunakan, sementara Ahmad Tibi menyoroti adanya pola tindakan serupa yang sering dibiarkan tanpa pertanggungjawaban hukum. Tibi menegaskan bahwa pembiaran terhadap perusakan masjid dan gereja di masa lalu, termasuk pelecehan terhadap rohaniwan Kristen di Yerusalem, menjadi pemicu munculnya rasa bebas bagi oknum prajurit untuk melakukan perusakan serupa di depan publik.
Kecaman ini juga merembet pada kritik terhadap "standar ganda" dunia Barat yang dinilai cenderung diam saat terjadi serangan terhadap situs keagamaan di kawasan tersebut. Berdasarkan data dari Religious Freedom Data Center, tercatat ratusan insiden kekerasan terhadap umat Kristen dan vandalisme terhadap puluhan masjid telah terjadi dalam kurun waktu satu tahun terakhir di wilayah pendudukan.
Meski pihak IDF menyatakan akan membantu komunitas Kristen setempat untuk memulihkan patung yang rusak, langkah tersebut dinilai belum cukup meredakan ketegangan global. Insiden ini menjadi pengingat pahit bahwa di tengah peperangan yang kompleks, perlindungan terhadap simbol-simbol suci dan kebebasan beragama tetap menjadi titik sensitif yang dapat memperdalam jurang konflik antar komunitas dan negara. (*)
Editor : Indra Zakaria