NEW DELHI – Krisis iklim ekstrem tengah mencengkeram wilayah Asia Selatan. Sebagian besar wilayah India kini sedang berjuang melawan gelombang panas (heatwave) yang membakar, sementara negara tetangganya, Bangladesh, justru dilanda badai petir mematikan yang merenggut belasan nyawa.
Di India, suhu udara dilaporkan telah melampaui batas kewajaran hingga menyentuh angka 46,9 derajat Celsius. Berdasarkan data Departemen Meteorologi India (IMD), wilayah barat seperti Distrik Jaisalmer dan Barmer di Rajasthan menjadi titik terpanas dengan suhu mencapai 46,4 derajat Celsius. Namun, rekor tertinggi justru tercatat di beberapa daerah di Negara Bagian Maharashtra, seperti Akola dan Wardha, yang menembus angka 46,9 derajat Celsius pada akhir pekan lalu.
Dampaknya terasa nyata di sektor pendidikan. Sekolah-sekolah dasar di berbagai daerah terpaksa ditutup sementara, dan jam belajar diubah guna melindungi anak-anak dari ancaman sengatan panas (heatstroke). Di pusat ibu kota New Delhi, rumah sakit mulai bersiaga dengan membuka bangsal khusus penanganan kasus heatstroke. Otoritas setempat terus mengimbau masyarakat untuk tetap terhidrasi dan sebisa mungkin menghindari aktivitas luar ruangan antara pukul 12.00 hingga 16.00 waktu setempat.
Tragedi Sambaran Petir di Bangladesh
Berbeda dengan India yang masih menanti hujan, wilayah Bangladesh mulai dijatuhi curah hujan yang sayangnya disertai badai petir dahsyat. Pada Minggu (26/4), sedikitnya 14 orang dilaporkan tewas tersambar petir di tujuh distrik berbeda tak lama setelah gelombang panas berkepanjangan berakhir.
Distrik Gaibandha menjadi wilayah terdampak paling parah dengan lima korban jiwa, termasuk dua anak-anak. Insiden mematikan ini juga terjadi di Thakurgaon, Sirajganj, Jamalpur, hingga Bogra. Mayoritas korban adalah para petani yang tengah bekerja di ladang terbuka tanpa perlindungan saat badai tiba.
"Kurangnya kesadaran adalah alasan utama. Petani sangat disarankan mengenakan perlengkapan keselamatan seperti sepatu bot karet saat bekerja di ladang, terutama pada puncak musim panas dan musim hujan seperti sekarang," ujar Kabirul Bashar, Presiden Forum Selamatkan Masyarakat dan Kesadaran Badai Petir.
Menurut data PBB, sambaran petir memang menjadi ancaman serius di Bangladesh dengan rata-rata 300 kematian setiap tahunnya, terutama pada periode April hingga Juni. Meski hujan yang mulai turun di wilayah Dhaka dan Sylhet diharapkan mampu meredakan gelombang panas, Departemen Meteorologi Bangladesh tetap mengeluarkan peringatan waspada terhadap potensi petir susulan yang masih mengancam keselamatan warga. (*)
Editor : Indra Zakaria