ISLAMABAD – Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak diplomatik baru yang sangat krusial. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, dilaporkan kembali mendarat di Islamabad, Pakistan, pada Minggu (26/4/2026). Kunjungan kedua Araghchi dalam waktu singkat ini membawa misi spesifik: menyampaikan daftar syarat mutlak Iran untuk mengakhiri konfrontasi bersenjata dengan Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan laporan kantor berita Tasnim, Pakistan kini memegang peran vital sebagai mediator utama dalam konflik yang memanas sejak awal tahun ini. Iran menegaskan bahwa kunjungan ini sama sekali tidak berkaitan dengan perundingan nuklir, melainkan fokus pada penghentian eskalasi militer yang telah melumpuhkan kawasan.
Daftar Tuntutan Teheran
Dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut, Araghchi membawa sejumlah poin krusial yang menjadi harga mati bagi Teheran, di antaranya:
Kompensasi Perang: Iran menuntut ganti rugi atas kerusakan akibat serangan gabungan AS-Israel pada Februari lalu.
Pencabutan Blokade: Mendesak diakhirinya pengepungan Angkatan Laut AS di Selat Hormuz yang mencekik pelabuhan-pelabuhan Iran.
Jaminan Non-Agresi: Menuntut kepastian hukum internasional agar "agresi oleh para penghasut perang" tidak terulang kembali di masa depan.
Kedaulatan Maritim: Pembahasan sistem hukum baru yang diterapkan Iran di Selat Hormuz sebagai respons atas blokade yang terjadi.
Situasi ini merupakan buntut dari serangan besar-besaran yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari 2026 ke Teheran. Serangan tersebut mengakibatkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta sejumlah komandan senior. Iran membalas dengan serangan rudal masif dan memperketat kendali atas jalur pelayaran dunia di Selat Hormuz.
Meskipun gencatan senjata sempat dimulai pada 8 April, perundingan langsung antara Iran dan AS di Islamabad pada pertengahan April lalu berakhir buntu. Kegagalan tersebut justru memicu AS untuk memberlakukan blokade total terhadap kapal-kapal yang menuju atau berasal dari Iran.
Kunjungan Araghchi ke Pakistan kali ini merupakan kelanjutan dari konsultasi intensif yang sebelumnya telah dilakukan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir. Setelah merampungkan pembicaraan di Islamabad, Menlu Iran dijadwalkan terbang menuju Rusia sebagai perhentian terakhir dalam rangkaian tur regionalnya untuk menggalang dukungan internasional sebelum menentukan langkah berikutnya dalam perang dingin yang bisa memanas sewaktu-waktu ini. (*)
Editor : Indra Zakaria