Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Tren Ekstrem di Rusia: Demi Tampang Garang bak Petarung MMA, Para Pria Rela Bayar untuk Merusak Telinga Sendiri

Indra Zakaria • Rabu, 20 Mei 2026 | 14:17 WIB
Telinga khas petarung yang berbentuk kembang kol (cauliflower ear), seperti halnya Khabib Nurmagomedov.
Telinga khas petarung yang berbentuk kembang kol (cauliflower ear), seperti halnya Khabib Nurmagomedov.
 

PROKAL.CO- Sebuah fenomena unik sekaligus mencengangkan melanda Rusia. Demi mendapatkan citra diri yang tangguh dan ditakuti, sejumlah pria di negara tersebut dilaporkan sengaja melakukan operasi estetika ilegal untuk mengubah bentuk telinga mereka agar menyerupai petarung profesional. Menurut laporan dari saluran Telegram Rusia, Baza, tren ini melibatkan modifikasi telinga secara sengaja agar berbentuk seperti "telinga bunga kol" (cauliflower ear).

Dalam dunia medis dan olahraga, cauliflower ear sebenarnya merupakan sebuah deformasi atau cacat fisik. Kondisi ini biasanya terjadi secara alami pada atlet gulat, judo, atau Mixed Martial Arts (MMA) akibat hantaman keras dan trauma berulang selama bertahun-tahun yang menyebabkan pendarahan di dalam tulang rawan telinga. Namun, di Rusia, kondisi cedera ini justru bergeser fungsi menjadi sebuah tren estetika. Banyak pria yang rela mengantre dan membayar demi mendistorsi organ pendengaran mereka sendiri agar terlihat lebih intimidatif, maskulin, dan terkesan lihai bertarung di jalanan.

Fenomena ini dilaporkan sangat diminati hingga menciptakan daftar tunggu yang panjang di beberapa penyedia jasa ilegal. Untuk mendapatkan tampilan "telinga petarung" ini, pelanggan harus merogoh kocek sekitar 80 dolar AS atau setara dengan 1,2 juta rupiah per satu telinga. Harga yang relatif terjangkau ini disinyalir menjadi magnet kuat bagi para pemuda yang terobsesi dengan budaya maskulinitas ekstrem.

Melihat fenomena yang kian liar, para ahli medis dan dokter di Rusia segera menyuarakan peringatan keras. Mereka menegaskan bahwa merusak tulang rawan telinga secara sengaja menyimpan risiko kesehatan yang fatal. Mulai dari ancaman infeksi bakteri yang parah, kerusakan permanen pada struktur pendengaran, hingga potensi komplikasi serius di masa depan yang memerlukan tindakan operasi rekonstruksi berskala besar untuk memperbaikinya.

"Pemberani sejati tidak dinilai dari bentuk fisiknya. Apa yang membuat seorang petarung profesional dihormati bukanlah telinga mereka yang rusak, melainkan kedisiplinan, ketenangan, dan kekuatan karakter mereka."

Dari sudut pandang psikologis, para pakar menilai tren ini berkaitan erat dengan pergeseran persepsi pria modern terhadap konsep kejantanan dan kebutuhan untuk "tampak meyakinkan" secara instan. Alih-alih melewati proses latihan keras dan disiplin bertahun-tahun di dalam sasana, sebagian pria memilih jalan pintas kosmetik demi mendapatkan pengakuan sosial sebagai sosok yang berbahaya. Namun, para pengamat olahraga dan psikolog mengingatkan bahwa memalsukan identitas petarung lewat penampilan luar tidak akan pernah bisa menggantikan mentalitas ksatria yang sesungguhnya. (*)

Editor : Indra Zakaria
#rusia