TEHERAN – Situasi di Selat Hormuz kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran diduga melakukan serangan terhadap sebuah kapal kargo berbendera Singapura. Laporan dari The Wall Street Journal, yang mengutip keterangan dari sejumlah pejabat dan pelaut Amerika Serikat, menyebutkan bahwa Angkatan Laut Iran melepaskan tembakan secara mendadak tanpa memberikan peringatan radio terlebih dahulu maupun perintah untuk memutar balik. Meskipun tidak ada korban luka dalam insiden tersebut, serangan dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan pada pusat kendali kapal.
Ketegangan di jalur pelayaran vital ini langsung memicu respons internasional. Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO), Arsenio Dominguez, mengumumkan langkah darurat untuk mengevakuasi ribuan pelaut dari kapal-kapal yang kini terdampar di kawasan Teluk Persia akibat terganggunya jalur pelayaran. Pihak IMO juga mengonfirmasi bahwa kapal kargo Singapura yang rusak tersebut tidak sedang dalam bagian dari proses transit evakuasi resmi mereka.
Meskipun terjadi insiden penembakan, aktivitas logistik di kawasan tersebut terpantau masih sangat padat. Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, menyatakan bahwa lebih dari 70 kapal yang mengangkut sekitar 20 juta barel minyak tetap bergerak melintasi Selat Hormuz dalam kurun waktu 24 jam terakhir setelah peristiwa itu terjadi.
Dugaan serangan ini menjadi sorotan tajam karena terjadi hanya berselang satu minggu setelah Iran dan Amerika Serikat menandatangani memorandum penting untuk mengakhiri konflik yang telah berkecamuk sejak akhir Februari lalu. Dalam dokumen kesepakatan tersebut, AS berkomitmen untuk mencabut blokade lautnya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Teheran berkewajiban menjamin pemulihan keamanan pelayaran komersial di sepanjang Selat Hormuz.
Selain mengatur stabilitas jalur laut, memorandum damai tersebut juga mencakup komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, di mana pembahasan teknis mengenai program nuklir Teheran akan digodok dalam perjanjian terpisah. Kedua belah pihak dijadwalkan memulai negosiasi lanjutan dalam waktu 60 hari ke depan. Bagi Teheran sendiri, kepatuhan terhadap kesepakatan ini sangat krusial demi mencapai prioritas utama mereka, yakni pencabutan sanksi ekonomi global secara menyeluruh.(*)
Editor : Indra Zakaria