HONG KONG — Bayangkan sebuah kawasan dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai 1,2 juta jiwa per kilometer persegi. Sebagai pembanding, DKI Jakarta yang kerap diidentikkan dengan kemacetan dan kepadatan pemukiman "hanya" memiliki tingkat kepadatan sekitar 14.500 jiwa per kilometer persegi. Kawasan ini hampir 100 kali lipat lebih padat. Dalam satu blok berlahan 210×120 meter saja, tempat ini mampu menampung sekitar 35.000 hingga 50.000 jiwa. Tempat fenomena tersebut bernama Kowloon Walled City, yang pernah berdiri kokoh di Hong Kong.
Sisi paling aneh dari kawasan ini adalah proses pembangunannya. Kompleks permukiman ini berdiri tanpa pernah dirancang oleh arsitek, tanpa melibatkan jasa kontraktor formal, dan tanpa intervensi pemerintah. Kendati demikian, di dalamnya secara mandiri beroperasi sekolah, taman kanak-kanak, klinik gigi, pabrik makanan, hingga sistem pos lokal. Kowloon Walled City praktis bertransformasi menjadi sebuah 'negara di dalam negara'.
Sejarah Kekosongan Kekuasaan
Akar keberadaan kawasan unik ini bermula dari bekas benteng militer Tiongkok. Ketika Pemerintah Inggris menyewa wilayah New Territories pada tahun 1898, sepetak tanah benteng ini dikecualikan dari perjanjian. Alhasil, kawasan tersebut menjadi enklave dengan status hukum yang gantung: Pemerintah Tiongkok enggan mengurusnya, sementara pihak kolonial Inggris tidak berani mengintervensi secara langsung.
Kekosongan kekuasaan tersebut lantas menjadi magnet pemukiman. Pasca-pendudukan Jepang pada Perang Dunia II dan gelombang pengungsi akibat Perang Saudara Tiongkok, jumlah penduduk di lokasi tersebut melonjak tajam. Keterbatasan lahan memaksa warga membangun hunian secara mandiri. Ratusan gedung setinggi maksimal 14 lantai dibangun saling menempel hingga membentuk satu massa bangunan raksasa. Pembatasan tinggi bangunan menjadi 14 lantai sendiri dilakukan bukan atas dasar regulasi tata kota, melainkan kekhawatiran warga akan risiko terhantam pesawat yang melintas rendah menuju Bandara Kai Tak.
Akibat pampatnya struktur bangunan, sinar matahari tidak mampu menembus lorong-lorong bawah. Lampu-lampu neon harus dinyalakan selama 24 jam penuh untuk menerangi jalan setapak yang lebarnya kerap tak lebih dari dua meter. Fasilitas sanitasi dan energi pun tergolong sangat minim; pasokan air bersih hanya mengandalkan delapan titik kran untuk puluhan ribu warga, sedangkan aliran listrik diperoleh melalui penyambungan kabel secara ilegal yang membentang acak di langit-langit lorong.
Meskipun terkesan kumuh dan sempat dicap sebagai sarang kriminalitas pada era 1970-an, reputasi Kowloon Walled City sebagai "kota tanpa hukum" dinilai banyak pihak terlalu berlebihan. Di dalam kompleks raksasa ini, aktivitas ekonomi warga tetap berdenyut layaknya kota normal. Pabrik bakso ikan di dalam kawasan ini bahkan sempat menjadi pemasok utama untuk wilayah Hong Kong. Selain itu, klinik gigi berbiaya terjangkau di tempat ini sangat ternama di kalangan masyarakat luar.
Kondisi tersebut menarik perhatian para peneliti dan desainer dunia. Fenomena sosial di Kowloon Walled City dikenal sebagai spontaneous order (tatanan spontan)—sebuah bentuk keteraturan sosial dan tata ruang yang lahir dari akumulasi keputusan mandiri para warganya, bukan dari sebuah cetak biru perencanaan kota. Estetika khas kawasan ini kelak menginspirasi lahirnya karya fotografi legendaris "City of Darkness" karya Greg Girard dan Ian Lambot, serta memengaruhi berbagai industri film, gim, dan genre estetika cyberpunk.
Runtuh dan Menjadi Taman Kota
Risiko riil seperti buruknya sanitasi, nihilnya standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), bahaya kebakaran yang tinggi, serta minimnya sirkulasi udara akhirnya mendorong Pemerintah Tiongkok dan Inggris mengambil tindakan tegas. Kedua pihak sepakat untuk membongkar kawasan tersebut.
Proses evakuasi warga dimulai pada tahun 1991 dengan pengucuran dana kompensasi mencapai 2,7 miliar dolar Hong Kong. Proses pembongkaran fisik gedung secara menyeluruh selesai pada tahun 1994.
Saat ini, lokasi bekas permukiman terpadat di dunia tersebut telah bertransformasi total menjadi Kowloon Walled City Park, sebuah taman terbuka publik bergaya arsitektur Dinasti Qing. Peninggalan yang tersisa dari kompleks raksasa tersebut kini hanyalah miniatur perunggu dan beberapa sumur tua sebagai saksi bisu sejarah. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co