Ancam Keselamatan Jemaah Umrah, Serangan Houthi ke Bandara Riyadh Picu Kecaman Internasional

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 14:07 WIB
Para pendukung milisi Houthi mengacungkan senjata saat berunjuk rasa di Sanaa, Yaman, pada 9 Oktober 2026. (AFP)
Para pendukung milisi Houthi mengacungkan senjata saat berunjuk rasa di Sanaa, Yaman, pada 9 Oktober 2026. (AFP)

PROKAL.CO- Aksi militer milisi Houthi kembali memicu ketegangan hebat di Timur Tengah. Serangan mendadak yang mengarah ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, tak hanya merusak fasilitas sipil, tetapi juga secara langsung mengancam keselamatan ribuan jemaah umrah dan pelancong dari berbagai belahan dunia.

Kejadian ini kembali melempar sorotan tajam pada rekam jejak Houthi yang kerap menargetkan wilayah-wilayah strategis di Arab Saudi, termasuk kawasan yang menjadi jalur utama peziarah menuju dua kota suci, Makkah dan Madinah.

Dalam rekaman video yang beredar tak lama setelah insiden, suasana mencekam terlihat di area keberangkatan bandara. Sejumlah jemaah umrah yang tengah bersiap menaiki pesawat terpaksa berada dalam kondisi siaga dan penuh kecemasan. Bagi jutaan umat Islam dunia, bandara di Arab Saudi bukan sekadar simpul transportasi udara, melainkan gerbang suci menuju Baitullah.

Dilansir dari Saudi Gazette pada Senin (12/10), serangan terhadap infrastruktur penerbangan sipil ini dinilai sebagai eskalasi berbahaya yang membahayakan nyawa warga sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia yang datang murni untuk beribadah.

Para pengamat menilai, aksi nekat kelompok Houthi menyasar objek sipil berkaitan erat dengan meningkatnya tekanan militer yang mereka hadapi di medan pertempuran Yaman. Serangan ke bandara sipil diduga kuat menjadi taktik untuk memperlihatkan eksistensi dan kekuatan di tengah kemunduran posisi politik maupun militer mereka.

Namun, tindakan ini memicu kritik keras terkait klaim legitimasi keagamaan yang kerap diusung Houthi. Menyerang fasilitas sipil yang melayani para tamu Allah dianggap bertentangan secara mendasar dengan hukum humaniter internasional dan prinsip perlindungan tempat-tempat suci.

Menanggapi ancaman yang kian meningkat, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menegaskan posisinya sebagai Penjaga Dua Masjid Suci (Custodian of the Two Holy Mosques). Kerajaan memastikan bahwa keselamatan seluruh jemaah, pengunjung, serta keamanan ruang udara dan kedaulatan negara adalah prioritas utama yang tidak dapat ditawar.

Arab Saudi terus memperketat sistem pertahanan udara dan meningkatkan protokol keamanan di seluruh titik transit udara. Di saat yang sama, desakan internasional kian menguat agar pihak-pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap objek sipil dimintai pertanggungjawaban penuh demi menjaga keselamatan penerbangan sipil global. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
houthi