Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Dinilai Lebih Realistis untuk Percepatan Perekonomian Kalbar, Hilirisasi Bauksit Tanpa Smelter

Redaksi • Senin, 5 Mei 2025 - 12:00 WIB
Ilustrasi bauksit. (Jawa Pos)
Ilustrasi bauksit. (Jawa Pos)

Hilirisasi industri bauksit tidak harus selalu melalui pembangunan smelter. Gagasan alternatif justru datang dari Kalimantan Barat. Guru Besar Kimia Agroindustri Universitas Tanjungpura, Prof. H. Thamrin Usman, DEA, menilai bahwa pendekatan hilirisasi tanpa smelter lebih realistis dan inklusif untuk mempercepat kesejahteraan ekonomi di daerah.

Menurut Prof Thamrin, Kalbar memiliki cadangan bauksit mencapai 584 juta ton. Namun hingga kini, manfaat langsung yang dirasakan masyarakat masih sangat terbatas.

Hal ini karena kebijakan hilirisasi selama ini lebih bertumpu pada pembangunan smelter, yang membutuhkan investasi sangat besar dan cenderung dikuasai korporasi besar. “Investasi satu unit smelter bisa mencapai Rp18 triliun. Ini bukan angka yang bisa dijangkau oleh BUMD, koperasi, atau UMKM. Akhirnya, rakyat hanya menjadi penonton di tanah sendiri,” ujar Thamrin, yang juga menjabat Ketua Dewan Penasehat ICMI Orwil Kalbar dan Ketua DPW HEBITREN Kalbar.

Sebagai solusinya, ia mendorong hilirisasi melalui pengolahan bauksit menjadi produk kimia bernilai tambah seperti aluminium sulfat (tawas), PAC (Polyaluminium Chloride), PAS (Polyaluminium Sulfate), dan aluminium hidroksida. Produk-produk ini banyak dibutuhkan di sektor air bersih, pengolahan limbah, farmasi, hingga kosmetik.

“Modal awal untuk membangun pabrik produk kimia ini jauh lebih murah, mulai dari Rp75 miliar hingga Rp750 miliar tergantung kapasitas. Teknologinya juga sederhana dan pasarnya sudah tersedia,” jelasnya.

Ia mencontohkan Vietnam yang telah mengekspor PAC ke Jepang dengan harga USD 500–800 per ton. Di Kalbar, sebuah pabrik PAC berkapasitas 10.000 ton per tahun disebut berpotensi mengeluarkan hingga Rp60 miliar ke pendapatan daerah dan membuka ratusan lapangan kerja.

Thamrin juga menyoroti pentingnya pelarangan ekspor mengeluarkan bauksit mentah sebagai langkah strategis untuk menahan nilai tambah di dalam negeri, serta menyelamatkan kandungan logam tanah jarang (rare earth elements) dalam residu bauksit yang sangat dibutuhkan dalam industri teknologi global.

Baca Juga: Raih Proper Emas, PT ANTAM Tbk UBP Bauksit Kalbar Buktikan Komitmen Keberlanjutan untuk Lingkungan dan Masyarakat

Untuk mendukung hilirisasi tanpa smelter, ia mendorong pembentukan klaster industri kimia berbasis bauksit di daerah seperti Ketapang, Mempawah, atau Sanggau. Pemerintah daerah diminta menggandeng BUMD, koperasi, UMKM, dan perguruan tinggi dalam kemitraan berbasis riset dan bisnis.

“Kalau menunggu investor besar datang, kita akan tertinggal terus. Kita harus menumbuhkan industri ini dari bawah,” tegasnya. Ia juga menyarankan agar pemerintah memberikan insentif spesifik seperti pembebasan pajak selama lima tahun, bantuan teknis, dan pembiayaan murah untuk pabrik kecil dan menengah.

“Sudah saatnya Kalimantan Barat bangkit bukan dengan cara menggali dan menjual mentah, tapi dengan mengolah dan memberi nilai tambah. Inilah jalan cerdas untuk kemandirian ekonomi yang inklusif dan ramah lingkungan,” tutupnya. (*)

Editor : Indra Zakaria