Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Tren Mobilitas Udara di Kalbar Meningkat, Bandara Supadio Masih Jadi Pintu Utama

Redaksi Prokal • Senin, 13 April 2026 - 13:15 WIB
Para keluarga penumpang menunggu kedatangan pesawat Super Air Jet dengan nomor penerbangan IU-682 rute Jakarta–Pontianak di Bandara Supadio, Selasa (10/6) pagi.
Para keluarga penumpang menunggu kedatangan pesawat Super Air Jet dengan nomor penerbangan IU-682 rute Jakarta–Pontianak di Bandara Supadio, Selasa (10/6) pagi.

PONTIANAK – Mobilitas masyarakat melalui jalur udara menuju Kalimantan Barat menunjukkan tren positif pada awal tahun 2026. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar, jumlah penumpang pesawat yang datang ke wilayah ini pada Februari 2026 tercatat mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

Tercatat sebanyak 125.761 orang datang ke Kalbar melalui jalur udara, atau naik sebesar 2,01 persen jika dibandingkan dengan data Januari 2026 yang berjumlah 123.284 orang. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa transportasi udara tetap menjadi pilihan utama bagi masyarakat untuk akses keluar-masuk wilayah tersebut. Kepala BPS Kalbar, Muh Saichudin, menjelaskan bahwa peningkatan ini tidak hanya terjadi pada arus kedatangan, tetapi juga pada jumlah penumpang yang berangkat dari Kalbar. Angka keberangkatan udara naik tipis 0,74 persen dengan total 112.360 orang.

Sebagai pintu gerbang utama, Bandara Supadio di Kubu Raya memegang peranan krusial dalam lalu lintas udara ini. Bandara kebanggaan warga Kalbar tersebut menyumbang lebih dari 86 persen dari total seluruh kedatangan penumpang udara di provinsi tersebut.

Berbanding terbalik dengan sektor udara, transportasi laut justru mencatatkan penurunan jumlah penumpang yang datang sebesar 2,16 persen, yakni hanya sebanyak 5.212 orang pada Februari 2026. Namun, fenomena menarik terlihat pada arus keberangkatan melalui jalur laut.

Jumlah penumpang yang berangkat menggunakan kapal laut melonjak signifikan sebesar 24,89 persen menjadi 5.746 orang. Saichudin menilai pergerakan ini bersifat fluktuatif dan sangat dipengaruhi oleh kebutuhan distribusi serta mobilitas antarwilayah pesisir.

Selain mobilitas penumpang, sektor logistik di Kalimantan Barat juga menunjukkan perubahan arus yang cukup drastis. Aktivitas bongkar barang mengalami penurunan tajam hingga 40,29 persen dengan total 1,45 juta ton. Sebaliknya, jumlah barang yang dimuat justru meningkat 12,21 persen menjadi 548.661 ton.

Kondisi ini mencerminkan adanya pergeseran dalam arus distribusi barang dan kinerja sektor transportasi secara keseluruhan di Kalimantan Barat. Pemerintah dan pelaku industri terus memantau dinamika ini guna memastikan stabilitas pasokan logistik dan kenyamanan mobilitas warga di masa mendatang. (*)

Editor : Indra Zakaria
#supadio