PROKAL.CO- Perekonomian Kalimantan Barat (Kalbar) mencatatkan sejarah baru pada triwulan I-2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kalbar melesat tajam dengan pertumbuhan mencapai 6,14 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini menjadi capaian tertinggi yang jarang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir, menempatkan Kalbar pada fase akselerasi yang signifikan.
Lonjakan impresif ini didorong oleh performa gemilang sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh luar biasa sebesar 34,14 persen. Kehadiran fasilitas hilirisasi seperti smelter alumina di Kabupaten Mempawah menjadi motor utama yang memperkuat struktur industri pengolahan sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas bauksit di daerah tersebut.
Kepala BPS Kalbar, Muh Saichudin, menjelaskan bahwa dari sisi pengeluaran, pertumbuhan juga disokong oleh konsumsi pemerintah yang melonjak 28,95 persen akibat tingginya realisasi belanja negara di awal tahun. Selain itu, geliat ekonomi masyarakat terlihat dari sektor akomodasi, makan minum, serta perdagangan yang tumbuh di kisaran 9 hingga 12 persen.
"Secara nominal, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalbar atas dasar harga berlaku kini mencapai Rp86,78 triliun," ujar Saichudin.
Meski mencatatkan rekor, struktur ekonomi Kalbar dinilai masih sangat bergantung pada sektor tradisional. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi kontributor terbesar dengan porsi 22,64 persen, namun pertumbuhannya hanya berada di angka 1,37 persen. Tantangan ke depan bagi Pemerintah Provinsi Kalbar adalah menjaga momentum pertumbuhan agar tidak hanya bertumpu pada sektor pertambangan yang fluktuatif, tetapi juga memperkuat sektor pertanian dan industri pengolahan agar lebih stabil.
Di level nasional, ekonomi Indonesia juga menunjukkan tren positif dengan tumbuh sebesar 5,61 persen pada periode yang sama. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai capaian ini sebagai sinyal kuat bahwa Indonesia mulai lepas dari "kutukan" pertumbuhan 5 persen dan bergerak menuju akselerasi ekonomi yang lebih cepat di tahun 2026. (*)
Editor : Indra Zakaria