PONTIANAK – Kalimantan Barat selama ini sudah sangat tersohor sebagai salah satu daerah lumbung penghasil komoditas bauksit terbesar di Indonesia. Namun di balik masifnya aktivitas pengerukan tanah merah tersebut, Kalbar ternyata menyimpan potensi tersembunyi berupa mineral super strategis yang kini tengah menjadi rebutan geopolitik banyak negara maju, yakni logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements.
Di tengah lonjakan kebutuhan industri global terhadap sokongan komponen kendaraan listrik, teknologi energi bersih, hingga industri pertahanan mutakhir, Kalbar dinilai memiliki peluang emas untuk ikut melompat masuk ke dalam rantai pasok mineral strategis dunia. Pakar Geologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Lucas Donny Setijadji, memaparkan bahwa Indonesia sejatinya dikaruniai potensi LTJ yang sangat melimpah dan tersebar di delapan lokasi utama di sepanjang Pulau Sumatra, Sulawesi, hingga Kalimantan.
Secara khusus, daratan Kalimantan kini mulai menunjukkan prospek baru yang sangat menjanjikan berkat karakteristik geologinya yang unik dan beragam. Kendati demikian, Lucas mengingatkan agar pemerintah tidak cepat berpuas diri dan harus bisa membedakan antara angka potensi di atas kertas dengan realitas eksekusi di lapangan.
“Indonesia memiliki potensi besar, tetapi perlu dibedakan antara potensi dan realitas. Logam tanah jarang di Indonesia masih berada pada tahap potensi eksplorasi dan pengujian keekonomian,” ujar Lucas mengingatkan agar kalkulasi bisnis dan aspek keterpakaian teknologi tetap diutamakan.
Peluang Kalbar untuk naik kelas menjadi produsen LTJ terbilang sangat realistis dan seksi karena posisinya sebagai episentrum industri bauksit nasional. Berbagai riset mendalam yang dilakukan oleh lembaga penelitian di bawah Kementerian ESDM, termasuk dalam Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara (TekMIRA), menguak fakta bahwa limbah sisa atau residu dari pengolahan bauksit menjadi alumina yang berbentuk lumpur merah (red mud) ternyata kaya akan kandungan unsur mineral bernilai ekonomi tinggi.
Studi spesifik terhadap residu bauksit di kawasan Tayan, Kalbar, menunjukkan bahwa volume red mud yang diproduksi oleh industri pengolahan lokal berkapasitas sangat raksasa. Hal ini otomatis membuka keran peluang yang sangat lebar bagi pemanfaatan dan pemurnian kembali mineral-mineral ikutan berharga tinggi yang selama ini terbuang percuma sebagai limbah industri.
Sumbangsih LTJ dalam peradaban modern saat ini memang sudah tidak bisa digantikan. Pihak UGM merincikan bahwa 17 unsur dalam kelompok logam tanah jarang ini merupakan komponen wajib dalam perakitan mesin jet tempur, bodi pesawat komersial, sistem pemandu rudal taktis, alat komunikasi militer, satelit, hingga baterai mobil hybrid. Kelangkaan dan tingginya nilai guna inilah yang membuat negara-negara adidaya rela merogoh kocek dalam-dalam demi mengamankan jalur pasokan baru di luar negara produsen utama.
Namun, jalan Kalbar untuk bisa menikmati manisnya berkah komoditas ini dipastikan tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Lucas Donny Setijadji menekankan bahwa tantangan terberat yang menghadang di depan mata murni berada pada penguasaan teknologi ekstraksi dan pemurnian tingkat tinggi. Karakteristik LTJ sangat rumit karena kerap kali ditemukan berasosiasi atau menempel erat dengan unsur radioaktif berbahaya serta memiliki sifat mineral yang berbeda-beda pada setiap titik koordinat lahan.
Kondisi tersebut menuntut adanya metode pengolahan yang sangat spesifik dan presisi tinggi. Oleh sebab itu, masa depan industri LTJ di Kalbar tidak boleh hanya bertumpu pada besarnya cadangan alam di dalam tanah, melainkan wajib ditopang oleh keseriusan riset domestik, adopsi teknologi mutakhir, serta kucuran investasi hilirisasi yang berkelanjutan. Jika tantangan teknologi ekstraksi ini berhasil ditaklukkan, Kalbar diprediksi akan meraup nilai tambah ekonomi (value added) yang jauh lebih raksasa dibandingkan jika hanya terus-menerus mengandalkan penjualan bauksit mentah atau alumina standar. Lompatan teknologi ini tidak hanya akan melahirkan klaster industri baru berbasis mineral kritis, melainkan juga siap membuka ribuan lapangan kerja baru sekaligus memperkokoh posisi tawar Kalbar dalam peta geopolitik energi bersih dunia di masa depan.(*)
Editor : Indra Zakaria