PROKAL.CO- Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengintai Kalimantan Barat setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi akumulasi 5.019 titik panas (hotspot) hingga pertengahan Juli ini. Kondisi tersebut menempatkan Kalbar ke dalam zona merah berisiko tinggi bersama Provinsi Riau dan Papua Selatan.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan bahwa laju Peningkatan titik panas tahun ini bergerak jauh lebih agresif dibandingkan siklus sebelumnya. "Grafik akumulasi hotspot sejak Januari hingga pertengahan Juli 2026 menunjukkan peningkatan yang lebih cepat dibandingkan kondisi El Nino pada tahun-tahun sebelumnya," paparnya.
Dampak dari eskalasi hotspot ini mulai memicu sebaran partikulat asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Barat. BMKG mengingatkan bahaya penurunan kualitas udara ini, khususnya bagi kelompok rentan seperti balita, lansia, serta penderita penyakit pernapasan.
Ancaman kerawanan diprediksi kian memuncak saat memasuki periode Agustus hingga September. Situasi makin mengkhawatirkan menyusul proyeksi Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengenai durasi fenomena iklim yang akan bertahan lebih lama. "Informasi iklim ini sejalan dengan prediksi BMKG bahwa El Nino akan bertahan hingga awal 2027 dan memicu musim kemarau yang lebih kering dari normal," jelasnya.
Selain risiko bencana lingkungan, BMKG turut mengingatkan potensi krisis energi akibat kekeringan waduk yang dapat mengganggu operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Menanggapi kondisi kritis ini, sinergi lintas instansi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan pemantauan terpadu terus diperketat guna menekan potensi kebakaran sebelum memasuki puncak kemarau. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : Pontianak Post