PONTIANAK – Minimnya curah hujan selama sebulan terakhir mulai menyiksa warga Kalimantan Barat. Krisis air bersih kini meluas di berbagai kawasan, memaksa masyarakat memutar otak demi memenuhi kebutuhan dasar untuk minum dan memasak sehari-hari.
Satu bulan tanpa hujan deras membuat stok penampungan air hujan milik warga habis total. Kalaupun ada hujan, sifatnya hanya gerimis tipis yang sekadar membasahi jalanan tanpa bisa ditampung. Kondisi memprihatinkan ini dialami oleh AI, warga Sungai Rengas, Kabupaten Kubu Raya. Ia terpaksa merogoh kocek lebih dalam demi membeli air galon isi ulang saban hari.
"Isi ulang harganya Rp7.000 per galon. Satu galon hanya cukup untuk satu hari saja untuk memasak dan mencuci sayur," keluhnya.
Di sisi lain, gelombang permintaan bantuan air bersih ke Palang Merah Indonesia (PMI) Kalbar meroket tajam. Ketua Penanggulangan Bencana PMI Provinsi Kalbar, APN, membeberkan bahwa memasuki pekan pertama Agustus 2026, pihaknya telah menggelontorkan hingga 80.000 liter air bersih ke masyarakat terdampak di Kubu Raya, Pontianak, hingga Sanggau.
Guna memperlancar operasional, dua truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter dikerahkan setiap hari untuk menyuplai air bersih yang diambil langsung dari Gunung Anjungan. Namun, melonjaknya titik wilayah yang menjerit krisis air membuat PMI harus memberlakukan sistem prioritas.
"Jika musim kemarau berlangsung lebih lama dan permintaan terus meningkat, tentu diperlukan dukungan dari berbagai pihak agar pasokan air tetap dapat menjangkau masyarakat," jelas APN.
APN menambahkan, kemarau panjang tak cuma menyedot habis air hujan, tapi juga membuat debit air sungai menyusut drastis hingga keruh dan tak layak konsumsi. Untuk memaksimalkan distribusi, PMI memprioritaskan titik kumpul yang dihuni sedikitnya 55 KK dan dapat diakses oleh truk tangki berbobot lebih dari 7 ton.
Kondisi ini diprediksi belum akan membaik dalam waktu dekat. Stasiun Meteorologi Kelas 1 Supadio mengonfirmasi bahwa selama sepekan ke depan belum ada potensi pertumbuhan awan hujan di Kalbar. Puncak musim kemarau diperkirakan baru akan menghantam pada Agustus hingga September 2026, yang berisiko memperparah krisis air bersih, ancaman karhutla, hingga memicu kualitas udara yang makin tidak sehat. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co