Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Minim Angkutan Umum, Sarana Mobilitas & Asrama Jadi Solusi Tepat untuk Siswa

izak-Indra Zakaria • Jumat, 2 September 2022 - 19:51 WIB
TERBIASA: Sejumlah pelajar bergelantungan dan naik di atas atap kendaraan ketika pulang sekolah di Jalan Raya Moton Tinggi, Kecamatan Anjungan, Kabupaten Mempawah. Meski berbahaya dan sudah dilarang, para pelajar tetap nekat. (HARYADI/PONTIANAKPOST)
TERBIASA: Sejumlah pelajar bergelantungan dan naik di atas atap kendaraan ketika pulang sekolah di Jalan Raya Moton Tinggi, Kecamatan Anjungan, Kabupaten Mempawah. Meski berbahaya dan sudah dilarang, para pelajar tetap nekat. (HARYADI/PONTIANAKPOST)

Persoalan pendidikan Indonesia begitu kompleks. Salah satunya terkait transportasi pelajar dari rumah ke sekolah yang hingga kini masih belum terpecahkan, baik di daerah maupun di kota.

Minimnya angkutan umum, banyak pelajar yang harus menumpang kendaraan lain. Seperti kasus tabrakan maut antara truk dan pikap di Jalan Raya Pontianak-Ngabang. Kejadian ini menyebabkan empat siswa tewas, dan puluhan luka.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat Rita Hastarita turut prihatin dengan kejadian ini. Ia berharap kasus ini tidak lagi terulang.

Persoalan pendidikan Indonesia begitu kompleks. Salah satunya terkait transportasi pelajar dari rumah ke sekolah yang hingga kini masih belum terpecahkan, baik di daerah maupun di kota.

Minimnya angkutan umum, banyak pelajar yang harus menumpang kendaraan lain. Seperti kasus tabrakan maut antara truk dan pikap di Jalan Raya Pontianak-Ngabang. Kejadian ini menyebabkan empat siswa tewas, dan puluhan luka.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat Rita Hastarita turut prihatin dengan kejadian ini. Ia berharap kasus ini tidak lagi terulang.

“Hal tersebut bisa menjadi solusi untuk siswa yang rumahnya jauh dari sekolah,” ulasnya.

Namun, lanjut Rita, dua  hal tersebut harus dikembalikan pada kebijakan pemerintah daerah masing-masing, dan disesuaikan dengan kewenangan antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalbar.

“Tentunya kita kembalikan kepada kebijakan pemerintah daerah masing-masing, karena untuk jenjang SMP merupakan  kewenangan kabupaten/kota,” katanya.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalbar, lanjut dia, telah menyediakan 37 asrama untuk jenjang SMA/SMK yang tersebar di kabupaten/kota. Harapannya, asrama ini bisa menjadi solusi bagi siswa yang rumahnya jauh dari sekolah. 

Menurut Rita, harus ada sekolah pendukung dan ketersediaan lahan untuk membangun SMA/SMK. “Jika bangun SMA/SMK maka di kecamatan tersebut harus ada SMP,” paparnya.

Rita mengimbau agar pemerintah dan swasta  memperhatikan moda transportasi yang aman dan nyaman bagi pelajar.

“Yang tidak kalah pentingnya adalah peran orang tua untuk memperhatikan dan memastikan mobilitas anak-anak ke sekolah,” jelasnya.

Terkait masih ada pelajar yang belum memiliki surat izin mengemudi tetapi sudah menggunakan kendaraan pribadi ke sekolah, kata dia, itu menjadi kewenangan polisi untuk menindaklanjutinya.

Utamakan Keselamatan Anak

Sementara itu, Fitri Sukmawati, Pengamat Pendidikan dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak menekankan pentingnya keselamatan bagi anak dalam menuntut ilmu. Tak hanya dari segi sarana transportasi, lokasi sekolah juga harus menjadi perhatian pemerintah, maupun orang tua dan masyarakat.

Idealnya, kata dia, setiap daerah bisa memfasilitasi bus sekolah yang aman dan layak bagi pelajar. Namun, faktanya masih banyak pelajar yang harus menumpang kendaraan lain yang berisiko terhadap keselamatannya.

“Semestinya sudah menjadi tanggung jawab orang tua mengantar anak. Tapi ada kondisi ekonomi orang tua yang tidak punya kendaraan untuk mengantar. Belum lagi jaraknya dari rumah ke sekolah puluhan kilometer. Angkutan umum tidak ada,” paparnya.

Kondisi dilema ini, kata Fitri, harus disikapi dengan kesadaran bersama antar pengguna jalan. Jika harus menumpang kendaraan lain, jangan sampai melebihi kapasitas. Hindari duduk di atap yang bisa membahayakan. Pengguna jalan juga harus berhati-hati dan mengikuti aturan lalu lintas. 

“Jangan biarkan anak duduk di atap mobil. Ingatkan anak-anak untuk berhati-hati. Datang ke sekolah lebih awal sehingga jika tumpangan sudah penuh, masih ada waktu menunggu kendaraan lain yang lewat,” ujarnya.

Dosen Psikologi ini menyoroti banyaknya pengguna jalan yang tidak taat aturan lalu lintas. Kebut-kebutan di jalan, dan tetap memaksakan diri berkendaraan ketika mengantuk. Ada juga orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah tetapi tidak berhati-hati.

“Antar anak tidak pakai helm. Antar anak sudah hampir terlambat, akhirnya buru-buru ke sekolah, lalu menyerobot kendaraan di depannya. Banyak juga anak-anak yang belum punya SIM sudah membawa kendaraan. Bonceng tiga,” paparnya.

Posisi sekolah, lanjut Fitri, semestinya juga tidak di tepi jalan raya utama.  Namun faktanya, banyak sekolah yang berada persis di tepi jalan raya. Kondisi ini berisiko terjadinya kecelakaan.

“Anak-anak kan kadang suka bergurau dengan temannya. Tidak sadar ada kendaraan di sampingnya. Ini kan juga berisiko dan harus jadi pertimbangan dalam menentukan lokasi sekolah,” jelas Ketua Himpsi (Himpunan Psikologi Indonesia) Kalbar ini.

Penentuan lokasi sekolah yang tepat dinilai penting agar suasana belajar anak nyaman dan tenang.

“Lokasi sekolah hendaknya juga hendaknya jauh dari pabrik, bandara, agar tidak terganggu dengan kebisingan,” pungkasnya. (mrd)

 

 
 
 
Editor : izak-Indra Zakaria