Tidak selamanya tentara terkesan garang dan sangar. Mereka juga memiliki sisi humanis, terutama pada saat menjalankan tugas. Seperti yang tergambar pada prajurit Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Indonesia-Malaysia, Batalyon Armed 16 Tumbak Kaputing.
Arief Nugroho, Sanggau
SUDAH tiga bulan lamanya Batalyon Armed 16 Tumbak Kaputing bertugas menjaga perbatasan Indonesia-Malaysia di sektor barat perbatasan. Mereka tersebar di 26 pos penjagaan, mencakup tiga pos lintas batas negara (PLBN) yakni Aruk, Jagoi Babang dan Entikong.
Pada Jumat (18/8) siang, Pontianak Post didampingi Perwira Hukum Satgas Pamtas Letda Affrian, berkesempatan mengunjungi dua di antara 26 pos penjagaan, yakni Pos Dusun Panga di Desa Semanget, Kecamatan Entikong dan Pos Bantan di Desa Bungkang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau. Untuk tiba di Pos Panga hanya bisa ditempuh menggunakan sepeda motor. Maklum, meskipun pos ini terbilang dekat dengan PLBN Entikong, jalannya cukup sempit.
Melewati perkampungan yang dihubungkan dengan jembatan gantung selebar 1 meter. Jarak tempuh ke Pos Panga tak kurang dari 20 menit. Sampai di pos, pandangan saya tertuju pada sepetak lahan yang terletak di depan pos. Lahan seluas 18 m x7,8 m itu ditanami berbagai tanaman, seperti kacang panjang dan jagung. Saya awalnya mengira lahan tersebut milik masyarakat.
Ternyata, lahan itu dikelola oleh prajurit yang bertugas di pos batas itu. Masuk ke pos, lagi-lagi pandangan saya tertuju pada kolam ikan yang ada di samping pos. Di dalamnya ada ikan nila. “Ini ikan nila. Usianya baru sebulan,” kata seorang anggota Pamtas.
Komandan Pos Panga, Letda M Ilham mengatakan lahan pertanian dan kolam ikan tersebut merupakan bagian dari program ketahanan pangan. “Ini adalah program unggulan ketahanan pangan kami,” katanya. Menurut dia, program tersebut baru dirintis karena baru ditugaskan. Namun diharapkan bisa berhasil sehingga dapat membantu meringankan beban masyarakat sekitar.
“Nanti panennya dibagikan kepada masyarakat sekitar,” ujar Ilham. Selain program ketahanan pangan, Pos Panga juga memiliki program lain, seperti bidang pendidikan dan kesehatan gratis. “Untuk bidang kesehatan, kebetulan kami memiliki prajurit yang mempunyai keahlian bidang kesehatan. Tak jarang masyarakat meminta bantuan ke kami. Masyarakat yang sakit demam bisa datang ke sini atau menelepon dan kami akan datang ke rumahnya,” ucap Ilham.
Menurut Ilham, di desa tersebut memang telah ada bidan polindes dan jarak ke Puskesmas Entikong pun tidak begitu jauh, tapi tentunya masyarakat harus membayar. “Kalau ke polindes atau puskesmas kan harus bayar. Kita ikhlas saja membantu, selagi masih ada obatnya. Kalau habis pun kita bisa minta lagi,” ungkap Ilham.
Perkampungan Dusun Panga tidak bisa dicapai dengan kendaraan roda empat, karena jalannya yang sempit dan dihubungkan dengan jembatan gantung.
Jadi, jika ada warga yang mengalami sakit keras, maka satu-satunya cara untuk membawanya ke rumah sakit yaitu harus dipikul dengan tandu. “Kalau ada warga yang sakit, harus ditandu. Jaraknya sekitar tiga sampai empat kilometer,” terangnya.
Setelah mengunjungi Pos Panga, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pos Bantan, di Desa Bungkang, Kecamatan Sekayam. Jarak antara dua pos ini hanya sekitar 45 menit. Melalui Jalan Lintas Malindo, lalu masuk ke Pasar Balai Karangan. Kami kemudian diajak masuk ke perkampungan Dusun Bantan.
Komandan Pos Bantan, Letda Sugeng mengatakan, mereka baru saja memberikan materi pembelajaran baris-berbaris kepada siswa dan siswi sekolah dasar setempat.
Menurut Sugeng, kegiatan tersebut dilakukan rutin setiap akhir pekan. Sugeng senang karena anak-anak antusias untuk mengikuti pelajaran tersebut. “Kita mengajar anak-anak baris berbaris sekaligus untuk membentuk kepribadian mereka,” katanya.
Tidak hanya itu, di bidang pendidikan, ada anggota pamtas yang ditugaskan khusus memberi mata pelajaran agama Islam di sekolah dasar tersebut. Anggota itu juga diminta mengajarkan membaca Alquran kepada anak yang beragama Islam.
“Sebagai guru kadang kita diminta menggantikan guru yang berhalangan hadir,” ucap Sugeng. Sementara itu, Komandan Satgas Pamtas Indonesia-Malaysia Batalyon Armed 16 Tumbak Kaputing, Mayor Arm Andreas Prabowo Putro mengatakan tugas pokok yang diberikan negara melalui Mabes TNI bukan hanya melakukan pengamanan perbatasan tapi juga menjadi wakil negara dalam memberi perhatian kepada masyarakat perbatasan.
“Keberadaan kami di perbatasan ini semoga bisa mewakili negara, bahwa kita perhatian terhadap masyarakat perbatasan,” kata Andreas. Andreas telah memerintah seluruh prajuritnya untuk membantu masyarakat sekitar yang membutuhkan. Misalnya pelayanan kesehatan, pendidikan, pangan dan perbaikan sara prasarana. “Kami sudah melakukan sunatan massal dan pengobatan dari rumah ke rumah,” ucapnya.
Bahkan, lanjut Andreas, ada anggota yang telah rutin mengajar di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama (smp) yang berada di wilayah pos pengamanan masing-masing. “Warga-warga yang buta huruf juga menjadi perhatian kami,” pungkasnya. (*)
Editor : izak-Indra Zakaria