Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Meniti Bebatuan, Mendaki Bukit Hingga Menarik Perahu di Riam Bakang

A'an • 2024-03-13 12:30:19
ANAK PEDALAMAN: Sampai di Desa Tanjung Lokang, Kadisdikbud Kalbar Rita Hastarita membagikan susu dan kue buat anak-anak pedalaman di Desa Tanjung Lokang. (MIRZA/PONTIANAKPOST )
ANAK PEDALAMAN: Sampai di Desa Tanjung Lokang, Kadisdikbud Kalbar Rita Hastarita membagikan susu dan kue buat anak-anak pedalaman di Desa Tanjung Lokang. (MIRZA/PONTIANAKPOST )

 

Seharian hujan mengguyur Resort Bungan milik Taman Nasional Betung Kerihun. Air sungai di percabangan antara Sungai Kapuas dan Sungai Bungan meninggi. Begitulah kondisi alur sungai menuju Tanjung Lokang ketika pasang. Perjalanan ke sana semakin menantang, karena arus semakin deras.

 

Mirza Ahmad Muin, Tanjung Lokang

 

 

JAM sudah menunjuk pukul 12 malam, namun belum ada tanda-tanda hujan akan reda. Sebagian teman dari tim ekspedisi sudah tertidur pulas. Mengecas tenaga untuk melanjutkan perjalanan ke Tanjung Lokang esok pagi.Selawi, juru batu perahu tampak gusar. Sesekali ia memainkan telepon genggamnya yang tak memiliki sinyal.

Sambil mengisap sebatang rokok, beberapa tembang manis tahun 70-an ia putar. Selawi mencoba mengusir rasa dingin dari terpaan angin di rimba Kalimantan yang cukup kencang pada malam itu.

Dari atas resort Taman Nasional Betung Kerihun, matanya mengawasi dua perahu yang bakal digunakan untuk ke Tanjung Lokang. Ia khawatir perahu terisi air hujan.

Air sungai yang makin tinggi juga membuatnya waswas. Barang-barang termasuk kado sepatu baru buat anak-anak SD 11 Tanjung Lokang yang dikemas terus diawasi. Jangan sampai barang-barang itu basah. Jika cuaca seperti ini, ia rela tidak tidur.

Beberapa kali ia tampak turun mengecek perahu. Matanya terus terjaga hingga dini hari ditemani berbatang-batang rokok. Tugasnya memastikan perahu tetap siap untuk melanjutkan perjalanan.

Hingga pagi hari, ternyata cuaca tetap tak bersahabat. Langit masih gelap dan hujan turun dengan lebatnya. Doa kawan-kawan tampaknya tak terkabul. Harapan perjalanan diiringi cuaca nan cerah ternyata berbanding terbalik. Kondisi alam tak bisa diprediksi. Saat itu, hutan rimba dan arus sungai yang deras betul-betul menunjukkan keperkasaannya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, Rita Hastarita tampak keluar dari teras resort. Matanya melihat langit yang tanpa matahari dan air hujan yang terus mengguyur. Meski demikian, ia memutuskan perjalanan tetap dilanjutkan sesuai kesepakatan. Pukul tujuh pagi, tim ekspedisi kebudayaan mesti bergerak menuju Tanjung Lokang.

Kata Selawi, perjalanan menuju Tanjung Lokang memakan waktu tiga jam  lagi. Perjalanan semakin berat.

Sebelum berangkat, pemandu perwakilan dari Taman Nasional Betung Kerihun, Mustar melakukan briefing. Pada tim ekspedisi budaya ia mengingatkan agar mengikuti semua instruksi selama di perjalanan. 

Sebab dengan cuaca seperti ini, medan yang dilalui menuju Tanjung Lokang semakin menantang. Sebelum turun, doa pun dipanjatkan. Seluruh anggota tim berharap perjalanan  membawa visi pendidikan dan kebudayaan itu berjalan lancar.

Setelah tim menaiki perahu, Mustar mengambil posisi duduk paling belakang, tak jauh dari motoris. Tujuannya agar bisa melihat pergerakan semua penumpang di sepanjang perjalanan. Dengan cuaca hujan dan muka air sungai yang meninggi, penumpang jangan terlalu banyak bergerak. Wajah Mustar tampak tegang.

Setelah mesin mengaung dan perahu melaju, Mustar kembali berdoa, berharap tidak terjadi apa-apa selama perjalanan.

“Ada tiga riam besar akan kita lewati. Pertama Riam Homatop, kedua Riam Bakang dan ketiga Riam Hororoi. Paling ekstrem Riam Bakang. Sebab penumpang mesti turun. Di sana (Bakang) nanti kapal ditarik juru batu. Ketika sampai di Bakang harus ekstra hati-hati sebab batu-batuan besar itu licin, rawan tergelincir,” ungkapnya.

 

Hujan makin deras saat perahu mulai menyusuri Sungai Bungan. Beberapa teman yang tak memiliki jaket antihujan mau tak mau basah kuyup. Mereka tampak menggigil di atas perahu. Makin ke ujung arus makin deras. Sesekali ketika melewati riam kecil, perahu bergoyang dihantam ombak. Selang satu jam perjalanan, Riam Homatop pun ada di depan mata.

Motoris dan juru batu menghentikan perahunya sebentar. Mereka fokus melihat alur riam. Memastikan arah perahu yang mau dilewati. Jika salah sedikit saja, akan berbahaya. Perahu bisa menabrak riam. Setelah mengetahui lintasan riam-riam itu, motoris menggas penuh mesin perahu. Hantaman ombak di bagian depan perahu sangat terasa. Bunyinya juga keras. Di sinilah juru batu mulai menggerakkan kendali perahu di bagian depan. Menggunakan kayuh, mengandalkan kekuatan otot, ia pun berhasil mengelakkan perahu dari hantaman riam.

Riam Bakang tak begitu jauh dari Riam Homatop. Riam ini yang paling ekstrem. Juru kemudi menyebut, dengan debit air yang tengah meninggi, tak mungkin para penumpang bisa melewati Riam Bakang. Tenaga mesin perahu tak akan mampu. Jika dipaksakan, bisa-bisa perahu karam.

Akhirnya, diputuskanlah semua penumpang turun dan berjalan melewati batu, serta menapaki bukit. Semua barang bawaan termasuk sepatu untuk anak-anak SD 11 Tanjung Lokang diangkut. Mustar mewanti-wanti agar semuanya berhati-hati ketika melewati bebatuan. Kondisi hujan akan membuat batu-batu dalam keadaan licin. Ia tak ingin ada tim yang terjatuh saat meniti batu-batu tersebut.

Usai barang bawaan diangkut ke atas bukit, barulah motoris bersiap-siap melewati Riam Bakang. Ancang-ancang yang diambil cukup jauh. Kurang lebih seratus meter. Sementara itu, sebagian tim ekspedisi lainnya telah menunggu di kaki batu besar tepat di samping Riam Bakang. Tujuan mereka berdiri di sana adalah untuk menarik perahu yang bakal dilempar oleh motoris ketika melewati tepian Riam Bakang.

Dua buah mesin berkekuatan 40 pk dan 15 pk digunakan untuk melewati Riam Bakang. Dari kejauhan juru kemudi mulai menjalankan perahunya. Di bagian depan perahu, tugas juru batu menggerakkan dayung sebagai pengendali arah perahu sekaligus memperkecil terjadinya benturan perahu dengan batu-batu besar.

Benar saja, keahlian juru batu meliuk-liukkan perahu dari riam hingga mengarahkan perahu tersebut ke bagian tepi dekat bebatuan berhasil. Di atas batu, juru batu lainnya menunggu motoris melemparkan tali perahu. Setelah tali itu diraih, satu juru batu bergerak gesit. Ia melompat dari satu batu ke batu lainnya. Kemudian beberapa teman ekspedisi budaya juga ikut membantu menarik tali perahu itu sekuat-kuatnya bersama juru batu. Tujuannya agar perahu lepas dari arus Riam Bakang yang sangat kuat.

Cara yang sama juga dilakukan perahu lainnya. Setelah dua perahu itu berhasil melewati Riam Bakang, barang-barang yang tadinya dibawa ke atas bukit kembali diturunkan dan disusun dalam perahu. Setelah semuanya tersusun, barulah penumpang naik ke atas perahu untuk melanjutkan perjalanan. “Di depan masih ada satu riam lagi harus kita lewati. Riam Hororoi,” ujar Mustar.

Sekitar 15 menit perjalanan, arus sungai kembali bergelombang. Meski tak sebesar Riam Bakang, riam ini cukup membuat dada berdebar. Motoris dan juru batu andal kembali bersiap melewatkan perahunya dari riam. Empasan gelombang menghantam perahu. Cipratan airnya membuat para penumpang basah kuyup. Riam Hororoi pun berhasil dilalui. Kata motoris, setengah jam lagi perahu akan sampai di Desa Tanjung Lokang.

Arus sungai mulai landai. Di beberapa sungai yang dilalui, tak jarang perahu tersangkut batu-batu. Setelah menempuh tiga jam perjalanan, Desa Tanjung Lokang akhirnya tampak di bagian kanan sungai. Di sanalah tempat tinggalnya masyarakat Dayak Punan.(bersambung) 

 
Editor : Indra Zakaria
#Kapuas Hulu