Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ada Cadangan Uranium di Melawi, Jika Dipakai Satu Pulau Kalimantan akan Terang Benderang

Redaksi • Minggu, 11 Mei 2025 - 14:45 WIB
Ilustrasi PLTN (Ist)
Ilustrasi PLTN (Ist)

Cadangan uranium di Sungai Kalan, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, berpotensi mengubah peta ketahanan energi nasional. Menurut Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA selaku Guru Besar Kimia Agroindustri Universitas Tanjungpura dan Ketua DPW HEBITREN Kalbar, uranium Melawi bukan sekadar komoditas mineral, melainkan aset strategis untuk industrialisasi hijau berbasis energi nuklir.

“Dengan pendekatan yang bijak dan bertanggung jawab, uranium dapat menjadi katalis pembangunan berkelanjutan melalui PLTN, yang berdampak langsung pada hilirisasi industri dan transformasi ekonomi Kalbar,” ujar Thamrin Usman dalam keterangannya.

Cadangan uranium di Melawi, jika dikembangkan, mampu menghasilkan listrik hingga puluhan ribu gigawatt-jam per tahun. Angka itu cukup untuk memasok seluruh Kalimantan Barat selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Satu kilogram uranium-235 setara dengan 3.000 ton batubara dalam output energi, menjadikannya sumber energi bersih paling padat energi yang tersedia saat ini.

Empat Reaktor, Satu Pulau Terang

Simulasi konservatif menunjukkan bahwa empat unit reaktor berkapasitas 1.000 MWe dapat menyediakan daya 4.000 MWe, atau hampir tiga kali lipat dari konsumsi listrik Kalbar saat ini yang berkisar 1.500 MWe.

“Dengan efisiensi seperti itu, kita bisa memiliki surplus untuk menggerakkan industri hilir seperti pupuk, metanol, hingga transportasi massal listrik,” lanjut Thamrin.

PLTN juga membuka pintu untuk produksi green hydrogen melalui elektrolisis air dengan emisi nol. Oksigen hasil sampingnya dapat dimanfaatkan untuk sektor medis dan industri, sedangkan hidrogen bisa dikombinasikan dengan nitrogen untuk produksi amonia dan urea. Hal itu dapat menurunkan ketergantungan pada impor pupuk.

SMR dan Kawasan Industri Hijau


Thamrin menilai Kalimantan Barat memiliki beberapa titik strategis untuk pembangunan reaktor nuklir, termasuk Small Modular Reactor (SMR). Wilayah seperti Mempawah dan Kubu Raya memiliki akses air laut yang ideal untuk pendinginan reaktor, sementara Sambas, Bengkayang, dan Ketapang cocok untuk pengembangan zona industri berbasis energi nuklir.

“Ketersediaan listrik murah dan stabil dari PLTN akan menarik investor untuk membangun pabrik semen dari red mud, hingga mengonversi CO₂ dari Blok Sambas-Natuna menjadi metanol dan bahan kimia bernilai tambah,” paparnya.

Momentum Kebijakan Energi Nasional

Di tengah dorongan global untuk dekarbonisasi, uranium Melawi menawarkan solusi dalam negeri untuk pengurangan emisi CO₂ dan substitusi batubara.

Selain manfaat lingkungan, pembangunan ekosistem energi nuklir juga diperkirakan menciptakan ribuan lapangan kerja di sektor energi, kimia, dan manufaktur, serta meningkatkan ketahanan pangan lewat produksi pupuk lokal.

Thamrin menekankan bahwa pemanfaatan uranium Melawi harus segera masuk ke dalam agenda strategis nasional. “Butuh komitmen dari pemerintah pusat, kolaborasi riset teknologi nuklir, dan sinergi sektor swasta agar Kalbar tak hanya jadi lumbung energi, tapi motor ekonomi berbasis energi bersih di Indonesia,” pungkasnya. (*)

 

 

Editor : Indra Zakaria
#kalbar #uranium