Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bentengi Mental Siswa: Sekolah di Pontianak Hadirkan Psikolog untuk Perangi Perundungan

Redaksi Prokal • 2026-02-09 13:15:00
Ilustrasi anak depresi
Ilustrasi anak depresi

PONTIANAK – Maraknya kasus perundungan yang menghiasi dunia pendidikan belakangan ini memicu transformasi besar di sekolah-sekolah Kota Pontianak. Menyadari bahwa pendekatan disiplin konvensional tidak lagi cukup, sejumlah sekolah mulai mengambil langkah progresif dengan menghadirkan layanan psikolog profesional di lingkungan kampus demi menjaga kesehatan mental siswa dan mencegah dampak fatal depresi.

SMP Muhammadiyah 1 Pontianak menjadi salah satu pionir yang mengintegrasikan tenaga psikolog ke dalam sistem pendampingan mereka sejak tahun lalu. Kepala Sekolah, Erwan Syahrudin, menegaskan bahwa kehadiran psikolog bukan untuk menggantikan peran guru Bimbingan Konseling (BK), melainkan untuk memperkuat fungsi deteksi dini. Kolaborasi ini memungkinkan sekolah menangani masalah remaja—mulai dari konflik personal hingga tekanan sosial—dengan pendekatan medis dan psikologis yang lebih mendalam sebelum berkembang menjadi gangguan mental yang serius.

Selain tenaga profesional, sekolah juga bersinergi dengan akademisi melalui penempatan mahasiswa tingkat akhir jurusan psikologi untuk memberikan motivasi bagi pelaku maupun korban perundungan. Langkah ini bertujuan untuk mengubah energi negatif menjadi perilaku positif melalui pendampingan intensif. Upaya pembersihan internal pun dilakukan secara tegas; Erwan mengungkapkan pihaknya pernah menonaktifkan seorang guru yang terbukti melakukan kekerasan verbal, sebagai bukti komitmen sekolah terhadap lingkungan belajar yang aman dan bermartabat.

Meski demikian, tantangan besar masih membayangi di ranah digital. Perundungan melalui media sosial diakui sebagai area yang paling sulit diawasi. Menanggapi hal ini, pihak sekolah terus memperkuat koordinasi mulai dari wali kelas hingga bagian kesiswaan, serta rutin menggelar lokakarya pencegahan bagi guru dan siswa. Harapannya, standar operasional penanganan perundungan tidak hanya berakhir sebagai dokumen tertulis, tetapi menjadi budaya pergaulan sehat yang diterapkan secara konsisten demi melahirkan generasi yang tangguh secara mental.(*)

Editor : Indra Zakaria