Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kasus Gigitan Masih Tinggi, Sintang Perpanjang Status KLB Rabies

Redaksi Prokal • 2026-02-11 15:00:00
Penularan rabies di Kabupaten Sintang dinilai belum memenuhi syarat untuk dicabut. (RISKA / PONTIANAK POST )
Penularan rabies di Kabupaten Sintang dinilai belum memenuhi syarat untuk dicabut. (RISKA / PONTIANAK POST )

 

SINTANG- Pemerintah Kabupaten Sintang memutuskan untuk belum mencabut status Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies di wilayahnya. Keputusan ini diambil lantaran tren kasus gigitan hewan penular rabies masih menunjukkan angka yang mengkhawatirkan sejak awal tahun 2026.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Sintang, Rosa Trifina, menegaskan bahwa penanganan dan pengawasan harus tetap diperketat. Menurutnya, indikator epidemiologis di lapangan menunjukkan bahwa risiko penularan masih mengintai warga di sejumlah wilayah, sehingga Surat Keputusan Bupati mengenai penetapan KLB tetap menjadi landasan utama penanggulangan.

"Status KLB belum dicabut karena kondisi saat ini belum memenuhi syarat untuk dihentikan. Kami menilai tren kasus masih tinggi," ujar Rosa. Data dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sintang memperkuat kekhawatiran tersebut. Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 717 kasus gigitan, dan hanya dalam pembukaan tahun 2026, sudah tercatat 107 kasus gigitan tambahan. Kecamatan Tempunak, Ketungau Hulu, dan Sepauk menjadi titik merah dengan laporan gigitan tertinggi.

Plt Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesmavet, Eka Dahliana, mengungkapkan bahwa ancaman ini nyata secara klinis. Berdasarkan hasil uji laboratorium terbaru, terdapat empat sampel hewan yang dikonfirmasi positif rabies. Hal ini membuktikan bahwa virus mematikan tersebut masih bersirkulasi aktif pada populasi hewan di Sintang.

Meski demikian, terdapat satu catatan positif di tengah situasi ini: belum ada laporan kasus kematian manusia akibat rabies. Eka menilai hal ini sebagai dampak dari respons cepat fasilitas kesehatan dan kesadaran masyarakat yang mulai meningkat untuk segera mencari pertolongan medis setelah mengalami gigitan.

Tantangan terbesar saat ini terletak pada keterbatasan sumber daya manusia. Dengan wilayah yang sangat luas, Sintang hanya didukung oleh tiga dokter hewan dan satu staf fungsional veteriner. Namun, pemerintah daerah memastikan upaya vaksinasi massal, edukasi ke desa-desa, serta pelacakan kasus terus digencarkan secara berkelanjutan agar status KLB ini bisa segera diatasi. (*)

Editor : Indra Zakaria