Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Tiket Pesawat Menuju Pontianak Langka dan Harganya "Ngga Ngotak"

Redaksi Prokal • 2026-02-13 14:15:00
Sejumlah maskapai penerbangan saat mendarat di Bandara Internasional Supadio,Pontianak. Bandara Supadio memperpanjang Jam Operasional untuk Dukung Kelancaran Mudik Idulfitri. (HARYADI/PONTIANAK POST)
Sejumlah maskapai penerbangan saat mendarat di Bandara Internasional Supadio,Pontianak. Bandara Supadio memperpanjang Jam Operasional untuk Dukung Kelancaran Mudik Idulfitri. (HARYADI/PONTIANAK POST)

PONTIANAK – Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Suib, melayangkan protes keras terhadap Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terkait masalah klasik yang terus berulang di sektor transportasi udara. Keluhan ini dipicu oleh kelangkaan tiket dan lonjakan harga penerbangan menuju Pontianak yang selalu terjadi setiap kali menjelang hari besar keagamaan maupun momentum budaya di Kalimantan Barat.

Menurut Suib, kondisi sulitnya mendapatkan kursi pesawat serta harga yang melambung tinggi sudah menjadi pola tahunan, mulai dari perayaan Imlek, Cap Go Meh, sembahyang kubur (Ceng Beng), hingga menjelang Idul Fitri 2026. Ia menilai otoritas perhubungan terkesan gagap dalam melakukan mitigasi, padahal lonjakan penumpang tersebut sudah bisa diprediksi melalui data historis tahun-tahun sebelumnya.

Legislator dari daerah pemilihan Kubu Raya-Mempawah ini menyoroti sejumlah rute strategis yang selalu mengalami kepadatan jadwal, seperti penerbangan dari Jakarta, Surabaya, Batam, Yogyakarta, hingga Balikpapan menuju Pontianak. Hingga Jumat (13/2), laporan menunjukkan bahwa tiket untuk rute-rute tersebut sudah ludes terjual dan diperkirakan aktivitas penerbangan baru akan kembali normal pada awal pekan depan.

Suib mendesak Kemenhub dan pihak maskapai untuk tidak sekadar memantau situasi tanpa memberikan solusi konkret. Ia menekankan pentingnya inisiatif bersama untuk menambah frekuensi penerbangan (extra flight) atau mengatur strategi kapasitas kursi guna mengurai kepadatan. Baginya, kepastian akses transportasi merupakan kebutuhan dasar yang harus dijamin oleh negara, terutama pada saat masyarakat ingin merayakan momentum penting keagamaan dan sosial bersama keluarga.

Ketegasan pemerintah dalam mengatur maskapai sangat dinantikan agar masyarakat tidak terus menjadi korban dari skema pasar yang tidak terkendali setiap kali musim mudik tiba. Suib berharap ada langkah nyata yang diambil agar persoalan ini tidak kembali menjadi catatan buruk di masa mendatang, mengingat peran vital transportasi udara bagi perputaran ekonomi dan pariwisata di Kalimantan Barat. (*)

Editor : Indra Zakaria