BANJARMASIN - Pakar matematika Universitas Lambung Mangkurat, Muhammad Ahsar Karim memprediksi pada awal Oktober mendatang, jumlah pengidap Covid-19 di Kalsel mencapai 1 juta orang.
Jumlah fantastis ini asumsinya jika penularan terus terjadi. 1 orang yang positif dapat menularkan kepada 3 orang lainnya. Penambahan eksponensial ini akan memuncak tak terkendali pada pekan kedua Agustus hingga Oktober.
Ahsar menawarkan sejumlah skenario berdasarkan permodelan matematikan. Yang pertama, jika dari seluruh penduduk Kalsel yang mencapai 4,2 juta jiwa, hanya ada 1 persen warga beraktivitas, maka kemungkinan jumlah yang tertular Covid-19 mencapai 16.052 jiwa dengan jumlah kematian 206 jiwa.
Nah, apabila kemungkinan yang terjadi di Kalsel adalah skenario pertama ini, maka puncak Covid-19 diprediksi akan terjadi pada pekan kedua Agustus.
Sementara, skenario kedua, jika dari seluruh penduduk di Kalsel, ada 4 persen warga yang beraktivitas normal, maka kemungkinan kasus positif bisa tembus sebanyak 64.158 orang dengan kematian 824 jiwa. Di skenario ini, jika terjadi di Kalsel maka puncak pandemi akan terjadi pada pekan keempat Agustus.
Skenario ketiga, apabila dari seluruh penduduk di Kalsel, ada 10 persen warga yang beraktivitas normal, maka kemungkinan kasus positif mencapai 160.510 orang dengan kematian 2.062 jiwa. Dan puncak pandemi akan terjadi di awal September.
Di skenario keempat, jika dari seluruh penduduk Kalsel, ada sebanyak 30 persen warga yang beraktivitas normal, maka kemungkinan kasus positif mencapai 481.550 orang dengan jumlah kematian 6.187 jiwa. Diprediksi, puncak Covid-19 di Kalsel terjadi pada pekan ketiga September.
Sementara, di skenario kelima, jika dari seluruh penduduk Kalsel, ada 60 persen warga yang beraktivitas normal, maka kemungkinan kasus positif mencapai 961.510 orang dengan kematian 12.353 jiwa dan puncak pandemi diprediksi akan terjadi pada pekan pekan kelima September.
Skenario terakhir, yaitu kemungkinan terburuknya, jika dari seluruh penduduk Kalsel, ada 80 persen warga beraktivitas normal, maka kemungkinan kasus Covid-19 mencapai 1.283.600 orang dengan angka kematian sebanyak 16.491 jiwa. “Puncak pandemi akan terjadi pada pekan pertama Oktober mendatang,” paparnya.
Dia mengatakan, permodelan matematika telah banyak diaplikasikan pada berbagai kasus dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya bidang epidemiologi. Menurutnya, matematika memiliki peran yang sangat penting dalam mempelajari dinamika suatu wabah penyakit, mulai dari kajian pencarian sumber, penyebaran, prediksi pola, hingga strategi penanganannya. “Bidang kajian ini biasa disebut dengan matematika epidemiologi," sebutnya.
Ada beberapa subpopulasi yang ditentukan, antaranya populasi orang rentan infeksi (Susceptible), populasi terinfeksi (Infectious) dan populasi telah sembuh dari infeksi (Recovered).
Bagaimana dengan tingkat erornya, Ahsar mengatakan, prediksi tersebut menggunakan metode Mean Absolute Percenatage Eror (MAPE), yang hasilnya 24.70 persen. “Menunjukkan bahwa prediksi yang dilakukan cukup baik atau dapat diterima (reasonable forecast),” katanya.
___
Duet Bencana Berpotensi Terjadi
Sementara itu, ujian terberat dikhawatirkan akan terjadi. Bagaimana tidak, apabila pandemi virus corona masih belum teratasi. Maka, 'duet bencana' berpotensi terjadi pada musim kemarau yang sebentar lagi tiba. Yakni, wabah virus corona ditambah dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Banua sendiri selama ini menjadi langganan karhutla setiap kali musim kemarau tiba. Bahkan, tahun lalu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat total hutan dan lahan yang terbakar mencapai 6.737,51 hektare.
Kekhawatiran terjadinya 'duet bencana' ini diungkapkan Plt Kepala Pelaksana Harian BPBD Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq. "Mudah-mudahan kemarau tahun ini tidak kering seperti kemarin (2019). Karena kalau karhutla ditambah corona akan berlipat-lipat. Kita harus berjibaku menyelesaikan semuanya," katanya.
Dia mengungkapkan, berdasarkan informasi yang mereka terima dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalsel, musim kemarau tahun ini akan masuk pada bulan Juni. "Untuk puncaknya kemungkinan di Agustus sampai September. Mudah-mudahan kemaraunya basah," ungkapnya.
Untuk mengantisipasi karhutla, Hanif mengaku sudah mulai berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk melakukan persiapan penanganan. "Iya, walaupun kita masih fokus di penanganan wabah virus corona. Tapi, untuk karhutla juga harus sudah ada persiapan," ujarnya.
Secara terpisah, Staf Pengolahan Data dan Informasi pada Stasiun Klimatologi Klas I Banjarbaru, Khairullah membenarkan jika musim kemarau di Kalsel secara umum dimulai pada bulan ini. "Tapi, untuk setiap daerah waktunya (masuk musim kemarau) beda-beda," jelasnya.
Disinggung apakah musim kemarau tahun ini akan sama dengan tahun lalu, dia menyampaikan berdasarkan hasil analisa mereka kemungkinan musim kering di 2020 tak sepanas 2019 lalu. "Musim kemarau tahun ini diprakirakan normal. Malah, ada indikasi lebih basah dari normalnya," ucapnya.
Sedangkan musim kemarau tahun lalu, dia menyebut dipengaruhi oleh el nino moderate. Sehingga lebih panas dari biasanya. "Kalau tahun ini tidak ada fenomena lain yang mempengaruhi musim kemarau," sebutnya.
Sementara itu, total hutan dan lahan yang terbakar pada 2019 yang mencapai 6.737,51 hektare, jauh meningkat dibandingkan 2018 yang hanya 3.902,17 hektare. Bahkan, pada 2017 lahan yang terbakar juga hanya 2.034,14 hektare, sedangkan 2016 cuma 252,5 hektare. Sehingga, karhutla tahun lalu paling parah sejak empat tahun terakhir.
Karhutla 2019 sendiri paling banyak terjadi di Kabupaten Banjar, dengan luasan 1.294,75 hektare. Selain Banjar, karhutla juga menjadi-jadi di Tanah Laut. Di mana, lahan dan hutan yang terbakar di sana mencapai 1.280,15 hektare. (mof/ris/ay/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin