Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Pemimpin Berhati Bening

miminradar-Radar Banjarmasin • 2020-08-11 09:04:55
Ersis Warmansyah Abbas, Sahabat Almarhum Wali Kota Banjarbaru Nadjmi Adhani
Ersis Warmansyah Abbas, Sahabat Almarhum Wali Kota Banjarbaru Nadjmi Adhani

TERUS terang saya kaget atas reaksi Nadjmi Adhani (Nadjmi) ketika bedah buku Banjarbaru di aula Pemko Banjarbaru tahun 2002. Saya memaklumi sembari mempertanyakan kepada Rudy Resnawan (RR). Jawaban RR, nanti kita lihat. Saya berteman dengan RR sekitar dua tahun dan pengetahuan tentang Banjarbaru dapat dikatakan cukup.

=========================
Oleh: Ersis Warmansyah Abbas
Sahabat Almarhum Wali Kota Banjarbaru Nadjmi Adhani
=========================

Lekukan rumah dinas wali kota sudah hapal sejak masa pak Hamidhan B, orang pertama yang membukakan peluang ”memasuki” Banjarbaru. Pak Gusti Hasan Aman (Gubernur Kalimantan Selatan) dan Brigjen Sunarso (Ketua Golkar Kalsel, Wakil Gubernur Kalimantan Selatan) menugaskan mempromosikan Banjarbaru. Hal yang menjadikan hampir setiap hari bersama bang Arul (Akhmad Fakrulli) yang fokus ditugaskan pak Hasan Aman memperjuangkan status Banjarbaru menjadi kotamadia.

Penelitian semasa bang Arul diperluas melalui penelitian Data Dasar Banjarbaru dan saya menerbitkan buku Banjarbaru. Harap maklum, RR bukan orang baru di pemerintahan Banjarbaru dan saya masuk pusaran. Oh ya, bang Arul mempercayakan penelitian tentang Banjarbaru sesuatu yang sangat saya sukai.

Melakukan penelitian dalam kolaborasi dengan Eddy Dhislan (Humas Pemko) dan Ogi Fajar Nuzuli (Kabag Keuangan) sungguh menyenangkan. Saya membantu penelitian, menuliskan berbagai hal, teman diskusi, dan sebagainya. Tidak bersangkutpaut dengan jabatan. Pernah ditawari posisi? Hmm, saya tenaga edukatif di Unlam. Lebih dari cukup.

Ya, pertama bertemu dengan Nadjmi pada acara bedah buku Banjarbaru. Selain penyelenggara, yang menurut seorang teman bermaksud ”menghabisi” saya mengenai Banjarbaru, Nadjmi dan Wahyudin (Ujud) mengatakan: ”Judul buku itu sebaiknya bukan Banjarbaru, tetapi Rudy Resnawan and I”. Aya-aya wae.

Lalu, kami terlibat diskusi intens di rumdin RR. Tidak bosan-bosan. Kursi panjang di depan garasi mobil rumah dinas walikota menjadi tempat favorit kami. Saya ingin menulis bagaimana RR menggagas dan mendiskusikan membuka jalan lingkar utara dan lingkar selatan, masjid Agung sampai tidak ada jalan ke sekolah tanpa aspal.

Selain berdiskusi, setelah membaca buku tertentu atau kembali dari kota-kota lain yang dikunjungi, kami mengikuti berbagai pelatihan. Pada tahun 2003 di arena ESQ ExecutiveTraining, JCC Jakarta, Nadjmi mendatangi saya: ”Bang, maaflah. Waktu itu (bedah buku) saya baru pulang S2. Saya ikut-ikutan ”menyakiti” Abang. Sudah lama mau minta maaf, bahkan mau menulis surat minta maaf, tapi tidak kesampaian”. Kami berpelukan.

Pertama kali saya melihat air mata Nadjmi. Momen tersebut tertulis di buku “Nyaman Memahami ESQ” (2005) bertitel: Mencari Hidayah Hati Bersih. Keakraban kami semakin berpilin. RR memang piawai membetuk tim tanpa dibentuk. Menjadi begitu saja.

Intinya, kami bekerja dalam satu tim RR. Masa dimana kegairahan tidak terbendung. Apalagi, sejak menggulirkan “Banjarbaru is Banjarbaru”. Ketika kuliah S3 di Bandung, Nadjmi, Damawan Jaya Setiawan (Jaya) dan Kanafie, karena ada acara di Bandung, mampir ke kos saya. Saya candai: ”Pasti RR mendukung setuntasnya”.

Bisa jadi mereka senang keisengan saya langsung main tembak ke urusan Pilkada. Padahal, teman mendatangi tanda mendukung saya kuliah, he he. Bisa jadi, sekalipun tidak cerdas-cerdas amat, apalagi ramah dan berbalut unggah-ungguh, gaya saya memang tembak langsung. Tanpa basa-basi.

Terus terang, Nadjmi sangat disayangi Rudy. Sebagai teman, saya paham kemampuan Nadjmi, yang dalam bahasa RR: ”Nadjmi itu lengkap sebagai pemimpin. Perlu kematangan saja lagi”. Saya memonitor yang dilakukan Nadjmi sebagai prestasi hebat, dari dipercaya di kelurahan, kecamatan, dan seterusnya. Kemampuannya menguasai ”jaringan” luar biasa.

RR puas dengan performance Nadjmi. Saya suka cara kerja Nadjmi. Sangat. Dan, ketika Nadjmi terpilih menjadi walikota, saatnya menikmati kemampuan Nadjmi sesungguhnya.

Sayangnya pada awal jabatannya saya terjerat aneka pekerjaan kampus. ”Bang. Apa salah kami. Dengan Jaya sempat saya bilang, jangan-jangan bang EWA tersinggung, karena kita tidak mendatangi wadah Sidin”. Waduh. Nadjmi, Nadjmi.

Saya betul-betul dibuat kagok dan malu oleh Nadjmi ketika pertama mendatangi rumdin walikota, yang saya hapal sampai ke detail tata letak perabotnya sejak era pak Hamidhan, eit, kini berubah lebih cerah dan lempang. Nadjmi penyuka warna cerah dan keras. Tatanan perabot lebih eksotis.

OK. Sejak merasa bersalah, kami intens berkomunikasi. Saya meminta Nadjmi memberi akses dan membimbing mahasiswa sejak semester pertama yang diproyeksikan menulis skripsi perihal Banjarbaru. Begitulah. Nadjmi memberi pembekalan mahasiswa baru Pendidikan IPS ULM. Kami kuliah di Pemko Banjarbaru, mahasiswa meneliti, dan ada yang telah ujian sikripsi diuji Nadjmi, Jaya, RR, dan pejabat lainnya. Ujian skripsi dengan penguji pejabat wilayah tempat penelitian.

Oh ya, pada hari jadi Banjarbaru 2018 kami menulis antologi puisi: Mencintai Banjarbaru. Kini, enam puluh (60) skripsi mahasiswa tentang Banjarbaru dipersiapkan untuk diterbitkan dan beberapa menjadi artikel yang dimuat jurnal, bahkan ada yang dimuat jurnal internasional. Kenapa harus penelitian dan buku?

Nadjmi, begitu pengakuannya suatu ketika, penyuka publikasi saya, bahkan di media sosial sekalipun. Dan, kami sepakat sejak lama, publikasi itu penting. Bagi saya, ini penting. Sangat amat penting. Ketika buhul menjadi, maka tinggal dilakukan.

Tentu saja hal tersebut bukan hal mendadak. Kami suka membaca, berdiskusi, dan menganalisis sesuatu berbekal beragam teori. Kalau RR, membacanya ogah-ogahan, tetapi penalaran dan analisisnya tajam. Setiap orang mempunyai kelebihan.


Mendoakan Nadjmi

”Mohon kiranya buat semua. Mohon doanya untuk kesembuhan pak Walikota Banjarbaru. Pak wali koma kada sadar lagi sidin, saturasi oksigen sudah 40. Dimohon doanya ya. Makasih”. Pesan berantai WA membuat saya menghentikan aktivitas siang, Sabtu, 8 Agustus 2020. Sedih. Tanpa mampu menangis.

Pesan pukul 15.32 agak terobati ketika WA Jaya berkhabar: Oksigen sudah naik 77%”. RR, meminta secara khusus, mendoakan Nadjmi. Begitu juga Jaya, Yani, Budi, dan WA-WA yang masuk. ”Ya, Allah. Ya, Rabb. Berikan kesembuhan adik hamba”. RR tidak menyembunyikan kegelisahannya, sebab menurutnya: saturasi oksigen harus di atas 95 baru aman”.

Kalimat istirja', innalillahi wa inna ilaihi rooji'un, dini hari berkhabar. Anak saya dari Delft, Belanda, temannya anak Nadjmi, menanyakan sembari mengirim doa. Aamiiin Ya Rabb. Doa dan air mata semogalah menjadi kiriman amaliah untuk orang baik, pemimpin baik, Ya Rabb. Terlalu muda Kau panggil, Ya Rabb.

Saya bersaksi. Nadjmi orang baik. Berpuluh tahun berdiskusi, terkadang dengan keras, adakalanya bersedih-sedih atau tertawa lepas, adalah prosesnya. Kalaulah ada yang tidak dipenuhi Nadjmi, seingat saya hanya satu hal. Bisa jadi dia sudah berusaha, tetapi masih dalam proses. ”Mie, gendutnya dikempiskan ya. Tu Erwin, Jaya pada kurus”. Saya paham, Nadjmi sangat menghargai orang. Nah kalau diundang acara lalu disuguhkan makanan, dia tidak tega untuk tidak mencicipi.

Sebetulnya, sebelum sakit saya bermaksud meminta RR turun tangan. Jangan beraninya ke saya saja. ”Pak Ersis, nanti ke Prodia ya. Saya sudah bookingkan (dan, dibayarkan). Kemarin Haji Hamdi sudah, dan bla bla bla”. Begitulah RR. Melihat postingan makanan di FB bermuatan kolestrol, diwajibkan cek darah.

Rasa nyesak menjadi-jadi ketika Nadjmi memposting kondisinya berperalatan oksigen di FB. Kemudian mem-posting ungkapan yang langsung menyapa ulu hati: ”Mohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya bila Ulun ada salah dengan Pian ...”. Saya tidak sanggup menonton ulang video, apalagi membaca, ungkapan Nadjmi. Doa khusus dikirim. Hari-hari indah, momen-momen bermakna dan kebaikan Nadjmi hadir.

Menulis mudah memang, tetapi saya tergagap menulis tentang Nadjmi. Saya tahu, Nadjmi sudah cukup untuk kehidupan dan keluarganya, tidak memikirkan ”bacari” untuk dirinya lagi. Nadjmi ingin Banjarbaru maju, Banjarbaru hebat. Semangat dan motivasi Nadjmi, saya sampaikan berulang-ulang kepada mahasiswa. Semangat kuliah dan semangat mengabdi.

Seorang mahasiswa saya, pengagum Nadjmi, kini guru di Tanjung menulis di wall-nya: Terimakasih Bapak Walikota Banjarbaru yang sudah memberikan ruang dan Inspirasi bagi kami mahasiswa IPS. "Jika seorang insan meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal. Yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh.” (HR. Muslim). Semoga Allah membalas kebaikan bapak.

Ya, kebaikan Nadjmi, apa yang diperbuat dengan baik oleh Nadjmi, semogalah menjadi amalan yang tidak putus-putus baginya sebagaimana Hadis Rasulullah. Nadjmi berbagi kebaikan untuk semua, bukan hanya warga Banjarbaru. (*/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#opini