Masifnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sebagian wilayah Kalsel, berdampak terhadap buruknya kualitas udara. Di Banjarmasin contohnya, kabut asap kerap menyelimuti udara. Hampir tak ada lagi awan biru di langit kota.
Mirisnya, dari data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) melalui alat ukur Air Quality Monitoring System (AQMS) yang ada di Jalan Hasan Basri Banjarmasin Utara (2/10), nilai Particulate Matter (PM) 2.5 menunjukkan di atas normal.
Nilai PM menunjukkan angka 168, atau masuk kategori tidak sehat. Bahkan, satu pekan lalu, tepatnya pada 26 September, angkanya mencapai 202, atau kategorinya sangat tidak sehat.
Untuk diketahui, angka ISPU normalnya berada di angka 51-100 yang masuk kategori sedang. Sedangkan 1-50 dengan kategori baik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalsel, Hanifah Dwi Nirwana menerangkan nilai ISPU ini menjadi informasi penting kepada warga. Supaya selalu melindungi kesehatan masing-masing dengan memakai masker. “Perlu dilindungi pernapasan dengan masker saat beraktivitas di luar,” pesannya.
Namun, kabut asap terus muncul dari kebakaran lahan gambut. Upaya pemadaman dengan pembasahan lahan juga memunculkan asap. Pemprov Kalsel sendiri bertindak cepat. Selain penanganan, langkah pencegahan dampak karhutla terhadap kesehatan juga dilakukan. Contohnya kemarin, pembagian masker dilakukan di 50 titik. Tersebar di Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, dan Barito Kuala. Daerah-daerah ini dinilai memiliki potensi dampak karhutla cukup tinggi.
Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor menyampaikan pembagian masker ini salah satu upaya mitigasi seiring dengan semakin pekatnya kabut asap yang terjadi. Menurutnya, pembagian masker gratis kepada masyarakat ini kontribusi nyata untuk melindungi kesehatan warga dari dampak asap karhutla.
Gubernur yang akrab disapa Paman Birin itu juga menghimbau warga untuk membatasi aktivitas di luar rumah, mengingat semakin tingginya intensitas kabut asap. “Kurangi aktivitas di luar ruangan. Jika memang harus berada di luar, agar selalu menggunakan masker,” pesannya.
Bukan Tapin Paling Luas Karhutla
Kepala Pelaksana BPBD Tapin, Raniansyah menyatakan ada kesalahan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalsel terkait luasan karhutla di masing-masing daerah. Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, Kabupaten Tapin dinyatakan paling luas terbakar. Datanya sekitar 16.922,074 hektare.
Raniansyah menyebut data dari BPBD Provinsi itu salah. Luas lahan di Tapin yang terbakar sebenarnya hanya 303,35 hektare saja. “Sudah kami hubungi mereka, dan mengakui ada kesalahan. Jadi data benarnya hanya 303,35 hektare luas lahan di Tapin yang terbakar akibat karhutla,” tegasnya, Senin (2/10) di kantornya.
Dirincikan Raniansyah, dari 303,35 hektare yang terbakar, ada di 109 titik. Tersebar di beberapa kecamatan yang ada. “Rata-rata semak belukar. Tapi, ada juga lahan perkebunan seperti cabai Hiyung,” ucapnya.
Menurutnya, di Kabupaten Tapin memang meningkat karhutla dalam sebulan ini. BPBD Tapin bersama personelnya dibantu relawan dan TNI serta Polri selalu berjibaku memadamkan api. “Sehari bisa ada di beberapa titik. Bahkan kami memadamkan api sampai malam,” jelasnya.
Ada kendala yang dialami oleh BPBD Tapin dalam memadamkan api. Di samping akses lokasi hotspot yang sulit dijangkau, juga keterbatasan personel, sampai peralatan.
“Termasuk anggaran. Untuk anggaran penanganan karhutla sudah habis. Semoga ada tambahan lagi. Terutama untuk relawan,” harapnya.
Raniansyah menjelaskan karhutla di Tapin paling luas lahan terbakar sampai 30 hektare. Lokasinya di Desa Sungai Rutas Hulu, Kecamatan Candi Laras Selatan. Terbakar semak belukar, pepohonan galam, dan cabai Hiyung. “Jadi semak belukar dan pepohonan sekitar 28,5 hektare, dan cabai Hiyung sekitar 1,5 hektare,” jelasnya.
Di Kabupaten Tapin sudah dua orang ditetapkan sebagai tersangka terkait karhutla. Dari wilayah Kecamatan Tapin Utara, dan Lokpaikat. “Mereka berdua sudah menjalani proses hukum,” ucap Kasat Reskim Polres Tapin, AKP Haris Wicaksono.(mof/dly/al/dye)