Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Wali Kota Banjarbaru Umumkan Waspada KLB Demam Berdarah, Kasusnya Sudah Segini

Indra Zakaria • 2024-02-01 19:26:37
PENGECEKAN - Lurah Guntung Paikat bersama Babinsa Guntung Paikat saat melakukan pengecekan jentik nyamuk beberapa waktu lalu. (FOTO: KELURAHAN GUNTUNG PAIKAT UNTUK RADAR BANJARMASIN)
PENGECEKAN - Lurah Guntung Paikat bersama Babinsa Guntung Paikat saat melakukan pengecekan jentik nyamuk beberapa waktu lalu. (FOTO: KELURAHAN GUNTUNG PAIKAT UNTUK RADAR BANJARMASIN)

 

Warga Banjarbaru masih dihantui penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Per tanggal 24 Januari 2024 saja, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru sudah mencatat ada 125 kasus ditemukan di ibu kota Kalsel ini. 

Angka lebih tinggi justru dimiliki RSD Idaman Banjarbaru. Kepala Unit Humas Pemasaran dan PKRS RSD Idaman Banjarbaru, Alfrico Ronaldi Purba mengatakan sebanyak 154 pasien terjangkit DBD pada Januari 2024.

Sementara pada bulan November sebanyak 29 pasien DBD, dan Desember 146 pasien DBD yang dirawat di RSD Idaman Banjarbaru. “Dibandingkan dari dua bulan terakhir, ada peningkatan pasien DBD yang menjalani rawat inap pada awal tahun 2024 ini,” katanya.

Banyaknya jumlah pasien DBD ini, sebut Rico, sempat menyebabkan daya tampung ruang perawatan di RSD Idaman Banjarbaru mengalami over kapasitas. “Sempat ada antrean, termasuk ruangan rawat inap, ruangan Intensive Care Unit (ICU), dan ruangan Unit Gawat Darurat (UGD),” ungkapnya.

Bahkan, beberapa pasien DBD juga harus mendapatkan perawatan di ruang ICU lantaran statusnya kritis. “Perlu perawatan intensif, sebelum rawat inap,” bebernya.

Meski demikian, Rico memastikan jika semua pasien DBD yang saat ini masuk di RSD Idaman sudah mendapat perawatan oleh petugas kesehatan. Kondisi pelayanan berangsur normal kembali.

Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Dinkes Banjarbaru, Erni Syafrida mengungkapkan sebagian besar pasien DBD sampai 24 Januari, didominasi klaster anak-anak. Mayoritas pasien berusia 1 tahun hingga 14 tahun. “Klaster pada anak-anak ada 84 kasus. Sedangkan orang dewasa 41 kasus yang terdata pada 24 Januari,” bandingnya, Selasa (30/1) siang.

Ia menyebut bahwa sebaran kasus penyakit dari gigitan nyamuk Aedes Aegypti ini bisa dikatakan merata di lima kecamatan. Paling banyak berada di wilayah Kecamatan Banjarbaru Utara dengan 43 kasus. Kecamatan Landasan Ulin 39 kasus, Kecamatan Banjarbaru Selatan 17 kasus. Kecamatan Liang Anggang 15 kasus, dan Kecamatan Cempaka 11 kasus.

Erni tak menampik jika peningkatan kasus DBD ini erat kaitannya dengan musim penghujan. Terutama hujan pada sore hari, membuat kasus DBD bulan Januari ini jauh lebih banyak dibandingkan bulan sebelumnya. "Karena air hujan ini gampang tertampung di wadah, menjadi tempat bersarangnya nyamuk penular DBD," katanya.

Kondisi ini jadi atensi tersendiri bagi Pemerintah Kota Banjarbaru. Bahkan pada Rabu (31/1) pagi, Wali Kota Banjarbaru, Aditya Mufti Ariffin menyebut Banjarbaru sudah dalam keadaan Waspada Kejadian Luar Biasa (KLB) kasus DBD.

Hal itu disampaikannya melalui video resmi yang diunggah oleh akun Instagram Puskesmas Banjarbaru Selatan (@pkmbanjarbaruselatan).

Dalam video berdurasi 07:25 detik itu, Aditya mengakui banyaknya temuan kasus ini menandakan bahwa Banjarbaru merupakan daerah endemik penyakit DBD. “Saat ini, situasi penyakit DBD di Kota Banjarbaru memasuki fase waspada KLB,” ungkap Aditya.

Wali kota dengan sapaan akrab Ovie ini meminta masyarakat untuk lebih maksimal menjaga lingkungan dan pola hidup sehat. Hal tersebut disampaikannya untuk menghindari potensi peningkatan kasus menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). “Kegiatan membersihkan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja. Namun kolaborasi dan peran serta masyarakat lebih efektif dalam menekan lajunya penyebaran DBD saat ini,” katanya.

Selain itu, Aditya menginstruksikan setiap SKPD untuk segera mengambil langkah antisipasi peningkatan kasus DBD. “Strategi utama pengendalian DBD saat ini adalah pemberantasan faktor penular DBD, yaitu nyamuk Aedes Aegypti,” ucapnya.

 

Ovie meminta lebih mengintensifkan Gerakan Serentak Banjarbaru Sapu dan Punahkan Jentik (Gertak Bapuputik) di Kota Banjarbaru. Tak hanya di lingkungan rumah, juga dijalankan di perkantoran, sekolah, dan tempat-tempat umum lainnya. “Gotong royong untuk Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan melakukan 3 M seminggu sekali (hari Jumat), menguras penampungan air, menutup rapat penampungan air dan memanfaatkan mendaur ulang barang bekas,” katanya.

“Semua orang dan semua kalangan punya potensi untuk terjangkit dan dapat menimbulkan korban jiwa yang tentunya tidak kita harapkan,” sambungnya.

Menurutnya, Gerakan Gertak Bapuputik harus dilakukan seluruh lapisan masyarakat dan dikoordinir oleh Dinkes Kota Banjarbaru. “Kita akan menunjuk satu orang juru pemantau jentik di tiap wilayah untuk melaporkan kegiatan pengendalian DBD,” tegasnya. (*)

 
Editor : Indra Zakaria
#kalsel