Di jantung kota: Lapangan Murjani. Event besar sedang dihelat. Setiap hari disambangi ratusan pengunjung. Namun jauh di pinggiran kota, sebuah pesta kecil juga digelar. Tajuknya Badamaran.
MUHAMMAD RIFANI, Banjarbaru
Badamaran mirip kirab obor. Bedanya, Badamaran di Desa Batu Ampar Kecamatan Cempaka Banjarbaru tidak diadakan pawai. Obor-obor hanya dibentuk atau diletakkan di depan rumah. Menambah estetika pemandangan keheningan kampung.
Dari pusat kota, Desa Batu Ampar lumayan jauh. Kurang lebih 20 kilometer. Kurang lebih 1,5 jam. Bisa melalui dua jalur. Jalur Sungai Ulin ataupun lewat Cempaka. Medannya cukup mudah. Sudah beraspal. Meskipun gelap gulita, dan beberapa titik jalan masih belum mulus.
Festival Badamaran yang dihelat pada Jumat (24/5) ini sebenarnya garapan Pemerintah Kota Banjarbaru dan yayasan Pondok Pesantren Al Fatih Wal Imdad Batu Ampar. Dinas Pemuda, Olah Raga, Budaya & Pariwisata (Disporabudpar) yang menggarapnya bersama tokoh warga sekitar.
Secara umum, Badamaran merupakan tradisi masyarakat suku Banjar menyambut bulan Ramadan sejak dulu. Asal muasalnya ditujukan untuk mengagungkan bulan puasa. Serta mempercantik pemandangan desa.
Sesuai namanya yang mencatut nama Damar. Badamaran menggunakan getah pohon Damar sebagai bahan utama nyala api. Maklum saat dahulu kala, minyak tanah belum begitu mudah didapat.
Di era sekarang, Badamaran hampir tak terlihat lagi. Digerus oleh kemudahan jaringan listrik. Yang jelas terangnya melebihi cahaya api dari obor. Tak heran, Badamaran mulai ditinggalkan.
Di desa Batu Ampar, tradisi Badamaran juga mulai meredup. Hanya beberapa buah rumah yang masih mempertahankannya. Tepat rasanya apabila Pemerintah daerah juga membangkitkannya.
Menariknya, di Festival Badamaran kemarin. Beberapa obor-obor menggunakan getah damar sebagai sumbunya. Akan tetapi karena damar susah diperoleh. Damar ini didatangkan dari daerah tetangga, Buntok, Kalteng.
"Memang sudah langka. Kita datangkan dari Buntok. Tapi untuk mengakalinya sekarang pakai minyak tanah dan dicampur solar," kata Ahmad Syamsuri Barak, ketua yayasan ponpes dan juga tokoh masyarakat sekitar.
Menurut Ahmad, Badamaran telah ada sejak zaman dahulu. Apalagi desa Batu Ampar terangnya merupakan peradaban lama. Jadi tak heran di desa Batu Ampar tak bisa lepas dari budaya lawas.
"Kalau yang diadakan festival sudah dua tahun terakhir. Ini yang kedua, Alhamdulillah warga antusias dan banyak yang hadir," ujarnya.
Dalam perhelatan acara, selain menampilkan obor-obor. Tampak juga disajikan masakan khas Banjar. Lontong dan apam serabi dihidangkan. Attaksi bela diri Kuntau juga disuguhkan.
Selain kaya pencahayaan obor di pusat acara yakni di Ponpes Al Fatih, sepanjang jalan menuju acara juga dihias. Beberapa halaman depan rumah warga dipasang obor berbagai bentuk.
Walikota Banjarbaru, Nadjmi Adhani beserta wakilnya, Darmawan Jaya turut datang. Didampingi beberapa pejabat dinas di lingkup Pemko Banjarbaru.
Walikota mengklaim bahwa Badamaran masuk dalam salah satu kalender event Kota Banjarbaru. Tahun ini festival yang unik ini telah dipromosikannya di tingkat nasional.
"Iya, ini salah satu kalender event kita. Kita ingin mengangkat budaya Banjar yang sudah jarang. Harapannya, dengan diagendakan seperti ini, bisa menarik tamu dari luar untuk datang," jelas Walikota.
Untuk menularkan tradisi yang redup ini, Nadjmi berniat mewacanakan tiap kelurahan menampilkan Badamaran ketika bulan Ramadan. Nantinya hasil karya warga tiap-tiap kelurahan akan dikurasi dan ditentukan pemenangnya. "Jadi tidak hanya di Cempaka. Kita ingin bisa menyeluruh, sehingga semangat Badamaran ini bisa menyebar," unhkapnya.
Secara teknis, Festival Badamaran versi modern ini tak sekadar memeriahkan bulan Ramadan. Tapi Disporabudpar memperlombakan tiap-tiap obor warga. "Malam ini kan pembukaan. Nah nanti akan kita nilai dan ada piala serta hadiahnya. Harapannya ini bisa memotivasi warga untuk terus mempertahankan tradisi ini," kata Kepala Disporabudpar Banjarbaru, Hidayaturrahman.
Lantas bagaimana nasib Badamaran di tahun depan? Dayat memastikan kalau Badamaran akan selalu diupayakan digelar. Bahkan ia berniat membuat tradisi tua ini bisa lebih berkembang. "Insya Allah tetap, karena ini tradisi yang mulai hilang jadi tentu diperhatikan. Seperti kata Pak Wali, kita akan coba promosikan ini ke luar," bebernya.
Acara Festival Badamaran ditutup dengan makan bersama secara lesehan. Baik warga, pejabat Pemko serta tamu undangan menikmati hidangan khas banjar bersama-sama. (rvn/by/ran)
Editor : izak-Indra Zakaria