Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Sungai Lulut Ditutup Untuk Roda 4

miminradar-Radar Banjarmasin • 2019-08-09 09:35:00

BANJARMASIN – Warga Sungai Lulut maupun Sungai Gardu harus bersiap. Pekan depan ruas jalan di sana akan ditutup untuk pengguna roda 4.

“Sudah disepakati. Tak boleh melintas untuk mobil,” ujar Kabid Bina Marga Dinas PUPR Kalsel, Yasin Toyib kemarin.

Sebelumnya, mobil memang diperkenankan melalui jalan alternatif di Kompleks Rahayu Banjarmasin. Namun, saat Kepolisian, Dishub dan Dinas PUPR meninjau ke lapangan, ruas jalan tersebut akhirnya diputuskan tak bisa dipakai sebagai jalan alternatif.

Alasannya, karena jalurnya terlalu kecil. Sementara, arus lalu lintas diprediksi akan tinggi. Maka, opsinya jalan tersebut pun tak jadi dipakai untuk pengguna roda 4. “Angkutan roda 4 dan lebih dialihkan melalui Jalan Pematang Panjang atau melalui Jalan Gubernur Syarkawie,” tambahnya.

Meski demikian, tim memberi kelonggaran kepada BPK dan Ambulans yang hendak melintas ruas jalan ini dalam kondisi darurat. “Komplek Rahayu kondisinya tak memungkinkan. Dipaksakan akan macet parah dan menimbulkan persoalan lain,” cetusnya.

Dia meminta warga yang memiliki mobil agar memahami kondisi ini. Pasalnya, jika dipaksakan, pekerjaan tiga jembatan ini pun akan terhambat. Sementara, target pekerjaan pembangunan jembatan ini harus selesai akhir tahun mendatang.

“Kami meminta pengertian warga, warga juga yang akan menikmatinya,” imbuhnya.

Kepala Seksi Manajemen Rekayasa Dishub Kalsel Rudy Harianto menambahkan, kondisi jalan alternatif tak akan mampu mengimbangi jumlah roda 4 yang melintas. “Belum lagi tingginya jumlah pengguna roda dua,” ucapnya.

Untuk menghalau pengguna roda 4 yang akan coba-coba memasuki jalan tersebut, pihaknya akan menempatkan petugas di lokasi pintu masuk maupun keluar. “Masih ada jalur alternatif melalui Jalan Pematang Panjang Gambut. Masyarakat bisa lewat sana,” ujar Rudy.

Sementara, Kasubdit Kamsel, Ditlantas Polda Kalsel, AKBP Nina Rahmi meminta kontraktor harus membuat dan memasang rambu dan pemberitahuan lain agar pengguna jalan tak kecele. “Secepatnya harus dipasang. Jangan sampai pengendara sudah masuk, tapi memutar balik dan malah menimbulkan kemacetan,” pintanya.

Salah seorang warga Sungai Gardu, Rahman Hakim menyambut baik ditutupnya sementara untuk roda 4. Menurutnya, jika tak ditutup, kemacetan panjang akan terjadi dan malah menghambat pengguna roda 2.

“Bisa saja mereka yang memiliki roda empat menyesuaikan. Kasihan kami yang roda dua harus terkena macet,” ujarnya.

Jika Rahman setuju, berbeda dengan Riswansyah. Warga Sungai Gardu ini menyayangkan, pemerintah seperti tak siap memfasilitasi pengguna roda 4 dalam melakukan pembangunan jembatan ini.

“Saya juga punya hak. Harusnya sebelum melakukan pekerjaan. Dipikirkan dulu solusinya,” cecarnya.

Dia mengatakan setiap akhir pekan selalu mengantar orangtuanya yang kondisinya tak memungkinkan untuk dibonceng di kendaraan roda 2.

Sementara itu, lantaran menyisakan dua persil bangunan yang tak tuntas, pembangunan Jembatan Sungai Lulut pun berdampak. Parahnya, jembatan yang semula di desain memiliki lebar 12 meter. Akan diperkecil hanya 6 meter.

“Mau tak mau diperkecil dan didesain ulang. Dua persil bangunan masih tak bisa dibebaskan. Sementara kami dikejar target tuntas hingga akhir tahun mendatang,” beber Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kalsel, Hilman Toyib usai Rapat Koordinasi pengalihan arus lalu lintas dampak dari pembangunan tiga buah jembatan di kawasan Sungai Gardu dan Sungai Lulut kemarin di Zuri Hotel Banjarmasin.

Kelas jembatan yang tadinya dinaikkan menjadi A, otomatis akan turun menjadi kelas B. “Kami mau tak mau menyesuaikan dengan kondisi lahan yang sudah dibebaskan. Kami tak ingin mengerjakan ketika lahan belum clear and clean,” tambahnya.

Menurutnya, pembangunan ini harusnya dikerjakan awal tahun, namun baru bisa dikerjakan bulan Agustus ini. Melihat batas waktu yang tersisa tinggal lima bulan, pihaknya tak ingin persoalan ini menghambat pekerjaan.

“Memang saat ini masih kami review desain baru yang lebarnya hanya 6 meter. Mudah-mudahan dua persil ini beres dalam waktu dekat. Sehingga desain awal yang lebarnya 12 meter tak berubah,” imbuhnya.

Untuk diketahui, titik persil yang belum beres ini berada di Kabupaten Banjar. Berbeda dengan lokasi di Banjarmasin. Semua persil sudah beres dan tinggal dilakukan pembongkaran.Dua persil yang belum bisa dibebaskan ini berada di atas bantaran sungai. Dengan kondisi demikian, Pemkab Banjar bisa dengan tegas membebaskan lahan tersebut.

“Sebelumnya ada 8 persil bangunan yang terdampak. Namun, tersisa 2 yang belum bisa dibebaskan,” terang Yasin.

Membangun tiga jembatan yang meliputi Jembatan Sungai Gardu 1, Sungai Gardu 2 dan Jembatan Sungai Lulut, Pemprov menggelontorkan anggaran mencapai Rp19,5 miliar. “Untuk Jembatan Sungai Gardu 1 dan Sungai Gardu 2 tak ada masalah, sudah sesuai dengan desain awal,” sebutnya.

Bahkan, untuk Jembatan Sungai Gardu 2 diprediksi akan tuntas lebih cepat, yakni dalam waktu 2 bulan. Pasalnya, jembatan ini modelnya hanya menggunakan struktur jembatan beton bergelagar precast. “Tak seperti dua jembatan yang lain,” tukasnya.

Sedangkan Jembatan Sungai Lulut dan Sungai Gardu 1 yang saat ini kondisinya sudah miring, akan dibangun dengan model Girder Beton.

“Ketiganya harus tuntas sebelum awal tahun 2020. Kami yakin tuntas setelah adanya kesepakatan roda 4 tak boleh melintas. Sehingga pekerjaan tak terganggu,” tandasnya.

Sementara, Sekda Kabupaten Banjar, H Mokhammad Hilman menjelaskan, dua lahan yang saat ini belum dibebaskan tersebut tengah berproses.

“Pengukuran sudah dilakukan. Kami menunggu hasil dan diupayakan dalam waktu dekat selesai,” ujarnya. (mof/ran/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Jembatan SUngai Lulut