Andin Sofyanoor menempuh jalan berliku dalam kehidupan politiknya. Memulai karier di awal-awal reformasi dia sempat duduk sebagai politisi dewan selama tiga periode sebelum memilih istirahat untuk pendidikannya pada pemilu tahun lalu.
Kini Doktor hukum dari Universitas Pandjajaran Bandung ini menatap tahun 2020 dengan tantangan baru: Menjadi kepala daerah.
Kepada Radar Banjarmasin, Andin mengungkapkan pandangan-pandangannya tentang Kabupaten Banjar dan fungsi penting kepemimpinan bagi kemajuan di daerah dengan masyarakat tradisional-agamis.
Apakah Anda akan maju dalam Pilkada 2020?
Setiap orang yang tinggal di suatu daerah pasti ingin melihat pemimpin mereka, pertama; bisa dipercaya. Kedua, orang itu memiliki kemampuan dan ketiga, bisa berkomunikasi dengan rakyat. Itu parameter idealnya.
Wawasan dalam pendidikan saya yang kebetulan sampai S3 mendorong saya melihat ke big picture atau gambar besar tentang bagaimana seharusnya pemimpin. Jika melalui perspektif saya belum menemukan gambaran itu, saya kira tidak ada upaya lain selain mencoba menjadi masuk menjadi gambaran itu sendiri.
Saya asumsikan dengan jawaban itu Anda akan maju dalam Pilkada 2020. Bagaimana Anda melihat peluang maju menjadi pemimpin dalam sebuah masyarakat yang sangat mempertahankan tradisi?
Ya, masyarakat Banjar cenderung tradisional. Tapi jangan salah, ini bukan berarti mereka tidak berpikir rasional. Masyarakat Kabupaten Banjar pada intinya, ingin maju.
Sepanjang ada pemimpin yang bisa membawa konsep tentang kemajuan daerah tapi tidak meninggalkan culture mereka yang agamis, kenapa tidak? Masyarakat kita sangat terbuka.
Jelaskan dalam contoh lapangan yang mudah!
Misalnya ada pemimpin yang bisa membawa kabupaten Banjar maju, tetapi kemajuan dicapai dengan menghadirkan diskotik, tempat hiburan malam, dll. Itu bukanlah yang diinginkan masyarakat Kabupaten Banjar.
Itu pelanggaran karena mencapai kemajuan tidak boleh dengan membunuh jiwa dan culture masyarakat Kabupaten Banjar.
Kabupaten Banjar adalah daerah dengan tradisi keagamaan yang kuat. Pandangan tentang tradisi ini juga mempengaruhi cara mereka memilih pemimpin, yang biasanya dari kalangan ulama.
Anda sendiri bukan ulama. Jika Anda menjadi masyarakat Kabupaten Banjar, Anda pilih yang mana?
Di Indonesia, atau di Kabupaten Banjar khususnya, meski mayoritas adalah muslim, tapi tidak 100 persen.
Sebagai orang islam, saya kira kita harus merenungi hal ini, ini membuat kita juga menghormati hak minoritas. Jadi saya condong pemimpin esok adalah orang yang punya visi kemajuan tetapi memahami nilai -nilai prinsip dalam Islam. Dia mengembangkan agama islam sebagai Rahmatan lil alamin. Untuk semua orang.
Artinya pemimpin Kabupaten Banjar tidak harus seorang ulama?
Tidak harus. Lebih ke pemimpin yang memiliki keyakinan agama Islam dan punya visi ke depan tentang pembangunan daerah. Tidak mesti ulama, tetapi harus menghormati ulama.
Berbicara tentang pembangunan daerah, Kabupaten Banjar wilayahnya luas dan masyarakatnya terpecah-pecah, ada di pegunungan, ada di pesisir. Bagaimana Anda bisa memberikan apa yang setiap warga inginkan?
Kita harus memahami budaya dan kecenderungan di setiap daerah. Seperti contoh di Paramasan, warga di sana banyak non-muslim. Kemudian di pesisir, Aluh-Aluh, Aranio, mereka muslim tapi tinggal di pelosok, yang tentu saja karakter dan kebiasannya jelas berbeda dengan masyarakat Martapura di perkotaan.
Bagaimana menyatukan mereka? ya pemerintah hadir memberikan apa yang mereka inginkan, misalnya dalam hal administratif, beri mereka kemudahan. Jadi semua mereka dilayani sebagai warga yang sama.
Dekatkan fungsi pelayanan kepada mereka. Jadi meski tinggal jauh, mereka akan merasa dekat. Itu baru aspek pertama.
Kabupaten Banjar juga terkenal dengan stereotype tertinggal dalam hal infrastruktur. Kita lihat jalan-jalannya masih kalah dengan kota tetangga Banjarbaru. Bagaimana Anda membenahi ini?
Itu aspek kedua yang nyambung dengan pendekatan pelayanan tadi, masyarakat kita beraktivitas berkebun, bertani, jelas mereka akan menjual barang ke kota atau ke sentra-sentra pasar. Notabene mereka perlu akses jalan yang baik.
Apalagi kalau melihat tetangga -tetangga sebelah; Banjarbaru,Rantau ataupun Banjarmasin yang ternyata memiliki fasilitas jalan yang lebih baik. Nah, sangat penting untuk membuat warga Kabupaten Banjar tidak malu menjadi warga Banjar. Kalau perlu, bikin masyarakat kabupaten tetangga yang merasa ingin lewat di jalan Kabupaten Banjar.
Aspek ketiga, memaksimalkan sumber daya manusia Kabupaten Banjar. Dan jalan utamanya adalah pendidikan. Kita pastikan anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang berkualitas, kita pastikan ada sekolah, ada fasilitas pendidikan, ada guru, semua buku yang bagus dan bermutu. Clear masalah SDM, baru kita berpindah ke SDA. Allah memberikan rezeki ke Kabupaten Banjar, kita maksimalkan sumber daya alam ini untuk kemandirian mereka.
Misalnya, kalau tambang, ada anak-anak di sekitar tambang harus disekolahkan, S1, S2, sampai S3. Jadi tahfiz, ahli Quran, ahli hadits, dan sebagainya, dengan cara memanfaatkan SDA ada di situ. Jadi tidak ujug-ujug ada orang datang, menambang di situ, lalu masyarakatnya kena debu. Sudah kena debu, tidak disekolahkan, tidak ada CSR, dll. Akhirnya fungsi pemerintah hilang.
Aspek terakhir, bagaimana membuat masyarakat Kabupaten Banjar menerima fenomena moderm semacam teknologi digital. Karena tidak cukup dengan SDM, SDA, dia harus menerima perangkat infrastruktur modern.Pemahaman ini penting karena inilah dunia yang kita hidup sekarang ini. Semuanya serba digital. Kita tidak bisa lari dari kemajuan zaman.
Apa urgensinya dalam sebuah masyarakat tradisional, coba berikan contoh sederhana yang bisa dipraktikan.
Misalnya dengan adanya teknologi digital, warga di pelosok bisa menjual produk pertanian tidak hanya ke pasar tapi juga ke pasar maya luas. Petani cukup mengupload foto produk dan nanti bisa ditawar oleh orang di Banjarmasin.
Secara tidak langsung ini membuat akses jalan tidak terbebani karena pengiriman bisa terbagi-bagi. Misalnya tadinya dilewati 10 ton, hanya dilewati 5 ton.
Tiga variabel ini akan menciptakan masyarakat yang mandiri. Kita menciptakan sebuah masyarakat yang tidak lagi bergantung langsung kepada pemerintah. Kalau mereka mandiri, pemerintah juga mendapatkan income. Pertumbuhan ekonomi bisa terjamin, kalau itu terjadi, maka akan tercipta kesejahteraan buat rakyat.
Mari kembali ke aspek politik, Anda akan maju melalui partai apa? Karena Golkar kemungkinan besar akan mengusung Ketua DPD Golkar Banjar, Haji Rusli.
Kita berharap ada parpol yang mampu berpikir holistik, dan memahami bahwa kemajuan Kabupaten Banjar bukanlah hal yang bisa kita negosiasikan. Apapun parpolnya, Kabupaten Banjar harus maju dengan konsep-konsep dan teori-teori serta praktik yang kita lakukan.
Jika semua sepakat, saya rasa, parpol akan melakukan penjaringan, konvensi dan perekrutan dengan cara yang elegan. Tujuannya adalah mencari siapa saja yang layak menjadi calon kepala daerah dari parpol tersebut.
Kalau ternyata tidak ada parpol yang seperti itu?
Kalau seandainya memang belum ada, maka ada pilihan konstitusi yaitu maju perseorangan. Tapi saya masih yakin partai di Kabupaten Banjar, atau Indonesia secara umum, masih punya pandangan yang baik dan tidak pragmatis.
Jadi Anda masih berharap maju melalui partai Golkar?
Saya kader Golkar. Saya terpilih di dewan sebagai kader Golkar. Meski bukan pengurus. Harapan besar saya, Golkar memberi kesempatan kepada saya untuk bisa berkompetisi di wilayah eksekutif di Kabupaten Banjar.
Kalau akhirnya Golkar memberi peluang itu, siapa wakil Anda jika Anda akhirnya lolos untuk berkompetisi?
Masalah wakil saya kira mengikuti respons masyarakat tentang siapa yang ideal. Saya pribadi punya kriteria sederhana tentang wakil: harus sama-sama punya niat yang sama. Punya konsep yang sama. Kalau beda, saya kira tidak bisa berjalan. Kita ingin membangun Kabupaten Banjar tanpa mengubah karakter, keunikan dan tradisi masyarakat. (ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin