Optimisme beberapa pejabat pemerintah, yang percaya warga akan disiplin tanpa lockdown sepertinya bertolak belakang degan fakta di lapangan. Rabu (25/3) malam tadi, di pesisir Kotabaru banyak warga termakan cerita takhayul untuk menghindari virus corona.
-- Oleh: ZALYAN SHODIQIN ABDI, Kotabaru --
Jalan-jalan di pusat kota kecamatan di daerah pesisir selatan Pulau Laut, Rabu (25/3) malam ramai. Warga hilir mudik mencari telur, yang harus mereka makan sebelum pukul 03.00 dini hari.
Heri, jurnalis di Kotabaru yang belum lama tadi memutuskan pulang ke kampungnya di Desa Labuan Mas Kecamatan Pulau Laut Selatan bercerita. Entah bagaimana katanya, di daerahnya viral informasi, ada anak baru lahir langsung bisa berbicara.
Bayi itu konon mengatakan, warga harus makan telur rebus agar kebal corona. Satu orang satu. Harus dimakan di antara pukul 00.00 sampai pukul 03.00 dini hari.
Sekadar diketahui, pesisir Pulau Laut didiami mayoritas warga keturunan Sulawesi. Campur dengan Banjar dan Jawa. Di Kecamatan Pulau Laut Selatan, Pulau Laut Kepulauan, Pulau Laut Tanjung Selayar dan Pulau Laut Barat masih banyak warga yang percaya takhayul.
Dalam beberapa hari ini, keresahan warga di pesisir terkait corona memang meningkat. Di Pulau Kerasian, yang jarang didatangi pendatang, warga sudah lama menerapkan salaman jarak jauh sebelum pemerintah daerah tetapkan status siaga darurat. Informasi salaman jarak jauh itu mereka peroleh dari TV.
Layaknya pelosok, orang-orang tua yang ditokohkan karena kesaktian masa lalunya sering didengar petuahnya. Bahwa corona sudah diramalkan akan terjadi di akhir zaman.
Kisah-kisah kiamat, dan segala hal semacamnya membungkus keseharian mereka.
Maka puncaknya, ketika ada informasi bayi bisa bicara dan menawarkan obat corona, warga langsung percaya. Rasa cemas, minimnya pendidikan, tingginya kepercayaan kepada takhayul membuat informasi itu viral.
Karniawan, penjual sembako di Labuan Mas, malam itu telurnya ludes dibeli warga. Iyan, warga lainnya bertengkar dengan ibunya soal telur rebus. "Mamaku gak percaya itu hoax," keluh Iyan.
Heri sendiri memastikan ada ribuan orang malam itu sibuk memasak telur. "Di Kecamatan tempatku saja ramai sekali. Kecamatan yang lain juga begitu," akunya.
Pun begitu, rata-rata warga memang punya persediaan telur. "Saya makan saja. Kan gak papa juga, telur rebus. Lain telur mentah juga," kata Rapi warga Kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar.
Informasi itu datang dari berbagai penjuru. Utamanya keluarga warga yang tinggal di Sulawesi. Bayi itu konon lahir di Sulawesi.
Dari penelusuran Radar Banjarmasin, di Sulawesi Selatan, bahkan ada warga yang nekat mau mengumumkan ke masjid, bahwa warga harus secepatnya makan telur rebus.
Tallo, begitu orang Sulawesi menyebutnya. Tallo adalah makanan wajib dan sakral saat kegiatan seremoni keagamaan juga olah mistis di zaman dulu.
Kapolres Kotabaru AKBP Andi Adnan Syafruddin menyesalkan kejadian itu. "Mohon warga jangan langsung percaya jika ada informasi yang belum jelas sumbernya dari mana," ujarnya.
Kapolres berjanji akan memaksimalkan petugas di lapangan untuk mengedukasi warga. Hal senada juga disampaikan Dandim 1004 Kotabaru Letkol Inf Rony Fitriyanto. "Nanti kita imbuan warga melalui Babinsa di lapangan," ujar Rony.
Sebelumnya, pemerintah daerah sudah memberlakukan sistem tanggap darurat. Warga diminta tidak berkumpul di luar rumah jika tidak penting. Polisi sudah mulai membubarkan orang-orang yang bergerombol kongkow. (zal/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin