Perempuan menjadi juru parkir itu langka. Apalagi yang sudah berusia uzur. Yuliati, 69 tahun, adalah juru parkir yang tampak tegar di luar. Tapi sebenarnya getir di dalam.
-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Radar Banjarmasin --
ROMPI parkir yang dikenakannya sudah lusuh. Warnanya memudar. Bertopang tongkat berkelir hijau, Yuliati melangkah pelan ke arah mobil yang beranjak pergi dari area parkir di Jalan Niaga Utara.
Pelan tapi pasti. Yuliati mengarahkan mobil untuk keluar dari kerumunan lalu-lalang kendaraan bermotor yang berjejal di kawasan pasar di Banjarmasin Tengah itu, kemarin (13/8) siang.
"Alhamdulillah. Terima kasih," ucapnya. Sembari memasukkan uang kertas ke dalam rompi. Seulas senyum mengambang di wajahnya untuk si sopir.
Perempuan berkerudung cokelat kembali melangkah pelan. Kini menuju sebuah kios kecil. Tempat semula ia duduk, berteduh dari teriknya matahari.
Tanpa mengenal hari libur. Dia sudah menjadi tukang parkir selama dua tahun terakhir. Sedari jam 7 pagi sampai jam 4 sore, puluhan ribu rupiah dikantonginya.
Tak semuanya dari hasil menjaga mobil dan motor. Ibu satu anak ini juga mengecer bensin. Dari satu liter, ia mendapat untung Rp500.
Rumah Yuliati berdekatan dengan area parkir yang dijaganya. Hanya berjarak sekitar 15 meter. Tepat di belakang sebuah ruko. Diapit sejumlah bangunan beton. Rumah nomor 11 di pasar eks pompa bensin.
Kediaman yang diwariskan orang tuanya sejak 50 tahun itu tampak tidak terurus. Atapnya bocor. Lantai maupun dinding kayunya sudah bolong-bolong.
Di kediaman itu, Yuliati tak tinggal sendirian. Ada sang kakak, Norhayati, 72 tahun.
Sudah tiga bulan Norhayati terbaring lemah di atas kasur. Setengah badan dihantam stroke. Maka segala kebutuhan sang kakak, Yuliati lah yang memenuhinya.
Termasuk ketika siang itu, sang kakak meminta dibuatkan segelas teh hangat manis.
Sembari Yuliati membuatkan teh, Norhayati dengan suara parau dan lemah, mengutarakan permohonan. Kepada sidang pembaca, semoga ada dermawan yang bersedia membawanya ke rumah sakit.
"Selama ini yang merawat saya hanya Yuliati. Kasihan, dia juga sudah tua," ucapnya lirih.
Dibantu sedotan. Segelas teh disodorkan ke mulut Norhayati. Masih panas terasa, maka ia diamkan agar mendingin.
Sebelumnya, Yuliati sudah beberapa kali membawa Norhayati ke rumah sakit untuk berobat. Tapi keterbatasan biaya membuatnya harus merawat di rumah.
"Meski rumah ini warisan orang tua, tapi tanahnya ini masih menyewa. Perbulan Rp300 ribu. Kalau ditotal dengan membayar listrik dan air ledeng, saya memerlukan Rp500 ribu perbulan," ungkap Yuliati.
Hasil menjaga parkir dan berjualan bensin eceran itulah yang setiap hari disisihkan untuk ditabung. Kemudian digunakan untuk membayar sewa.
"Mudah bila ingin mendapatkan tempat yang layak dengan sewa Rp500 ribu perbulan. Tapi, siapa yang nantinya menjaga kakak? Kalau di sini, saya bisa sambil memantau kesehatannya," tambahnya.
Di kediamannya, Yuliati selalu menyimpan roti. Rupanya sang kakak suka memakan roti apabila malam hari.
Agar lebih bertenaga, juga kerap dibuatkan susu. Yuliati juga menyimpan obat oles. "Dioleskan ke badan kakak bila ia mengeluh sakit," kisahnya.
Lantas, apakah Yuliati juga tidak punya keluhan? Tentu ada. Dia mengaku diserang asam urat. Itu pula yang membuatnya membutuhkan tongkat untuk berjalan.
Namun, jangan dikira Yuliati mengeluh. Dia justru tampak terlihat bersemangat dan ceria. Baginya, mengeluh justru membuat seseorang gampang patah semangat. Hingga dirundung berbagai macam penyakit.
"Apapun atau berapapun rezeki yang diterima. Syukuri. Insyaallah dicukupi dan berkah," pesannya.
Suka duka sebagai tukang parkir juga dilakoninya. Pernah suatu ketika, seorang pengendara dengan entengnya pergi tanpa membayar uang parkir.
Padahal saat itu, Yuliati sedang memerlukan uang tambahan untuk membelikan obat kakaknya. Mengalami kejadian itu, dirinya hanya bisa mengelus dada.
"Tapi yang namanya rezeki memang tidak pernah tertukar. Keesokan harinya, saya diberi uang berlebih dari seseorang yang memarkirkan mobilnya," tuturnya.
Melihat kegetiran Yuliati, tentu muncul pertanyaan. Di mana keluarga Yuliati? Keduanya, mengaku ditinggal wafat suami. Masing-masing hanya memiliki seorang anak.
Keduanya juga bersepakat tidak ingin merepotkan anak-anak yang kini sudah berkeluarga. "Anak kami pun hidup berkesusahan. Kami tidak ingin menambah beban mereka," tutup Yuliati. (fud/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin