BANJARMASIN - Debat kandidat secara terbuka pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalsel akan berlanjut 18 November mendatang. Jika debat perdana antar calon gubernur, di debat kedua nanti hanya akan menampilkan Calon Wakil Gubernur.
Di debat kedua nanti, tema debat yang akan diangkat adalah Pendidikan, Ekonomi, Sosial, Keagamaan dan Kebudayaan. Untuk diketahui, di debat Pilgub Kalsel tahun ini, Kalsel menyiapkan tujuh materi. Yang pertama adalah berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat.
Di materi kedua berkaitan dengan memajukan daerah. Sementara yang ketiga meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, keempat menyelesaikan persoalan di daerah, kelima menyelaraskan pembangunan daerah dari provinsi hingga nasional.
Sedangkan materi keenam adalah memperkokoh negara Republik Indonesia dan yang ketujuh menyangkut kebijakan, strategi, penanganan, pencegahan COVID-19. Semua materi tersebut akan dikembangkan untuk beberapa bidang, termasuk hukum dan HAM, kesehatan, pendidikan, budaya, ekonomi, pertanian, kehutanan hingga energi dan pertambangan.
Di tema kedua pada 18 November mendatang, yang salah satunya menyinggung soal pendidikan, akan menjadi isu yang sangat menarik. Pasalnya, sektor pendidikan akan menjadi jualan kampanye kandidat. Maklum, jumlah tenaga pendidik baik yang berstatus ASN maupun honorer angkanya sangat banyak.
Dengan banyaknya jumlah tenaga pendidik tesebut, tentu akan menjadi lahan untuk menjaring suara kandidat. Kebijakan seperti apa yang diharapkan para tenaga pendidik untuk menyejahterakan tenaga pendidik kepada calon kepala daerah?
Pakar pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof Ahmad Suriansyah mengharapkan, dunia pendidikan jangan sampai dijual untuk kepentingan politik. Menurutnya, pendidikan adalah hal yang paling dasar untuk memberi kesejahteraan kepada masyarakat, khususnya kepada tenaga pendidik.
Dia mengharapkan, di debat kedua nanti yang salah satunya mengangkat tema pendidikan, para kandidat menyampaikan kebijakan pengembangan dunia pendidikan yang mampu menghadapi era pendidikan masyarakat 5.0. “Bagaimana wawasan para kandidat yang mampu membaca ke arah sana,” ujar Suriansyah kemarin.
Era pendidikan masyarakat 5.0 sebutnya, tak hanya menuntut keterampilan, kreativitas, kritis, juga leadership. Untuk mengarah kesana tentu diperlukan pengembangan infrastruktur dan SDM yang profesional. “Nah kebijakan apa yang nanti disiapkan para kandidat soal ini,” tanyanya.
Soal SDM yang profesional tambahnya, sangat berkaitan dengan kebijakan kesejahteraan tenaga pendidik. “Pemerataan dan keadilan di bidang pendidikan ini yang berkaitan dengan kualitas, termasuk pula dalam bidang akses dan SDM. Nyatanya di desa ada yang gurunya hanya satu orang. Sementara di kota sebaliknya. Kebijakan pemerataan dan keadilan ini yang menarik disimak nanti,” ucapnya.
Di sisi lain, KPU Kalsel mengaku, meski sudah cukup puas pada pelaksanaan debat perdana lalu. Namun masih saja perlu penguatan. Khususnya di jaringan untuk live streaming di YouTube dan Facebook. “Hal ini untuk pendidikan politik agar masyarakat bisa menilai calon kepala daerah mereka,” tutur Komisioner KPU Kalsel Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, dan Partisipasi Masyarakat, Edy Ariansyah kemarin. (mof/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin