Tepat di pendakiannya yang kedua puluh kali, Alif pernah mengalami hal yang menurutnya cukup aneh. Dari dalam gua, sayup-sayup terdengar suara yang memanggil namanya.
-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Barabai --
Nama lengkapnya Muhammad Ghalip. Umurnya limabelas tahun. Bocah asli Desa Nateh. Di umurnya yang masih tergolong muda, kepiawaiannya sebagai guide atau pemandu wisata patut diacungi jempol.
Sudah tak terhitung lagi, berapa jumlah pelancong yang ia bawa menyusuri hutan, mendaki pegunungan hingga memasuki gua. Selain sangat perhatian dengan para pelancong yang dibawa, ia juga hapal betul jalur pendakian yang 'ramah' medan bagi pemula.
Termasuk, di mana saja spot foto yang menarik. Agar wisatawan bisa mengambil foto atau berswafoto dengan nyaman.
Akhir Februari lalu, di sebuah siang yang langitnya tampak murung, secara tidak sengaja penulis bertemu dengan Alif di objek wisata arung jeram di Desa Nateh.
Setelah tahu ia adalah guide di situ, penulis mengajaknya ke Gua Sawar. Ia pun bersedia mengantarkan.
Entah sudah yang ke berapakalinya ia mengantarkan pelancong ke gua yang hingga kini kerap didatangi pelancong dari berbagai daerah, itu. Yang menurut Alif, gua itu bahkan pernah didatangi pelancong asal Makassar.
Padahal menurut Alif, selain Gua Sawar masih ada Gua Berangin dan Gua Marmer yang bisa didatangi. Tapi, entah mengapa Gua Sawar lah yang paling menarik minat para pelancong. "Bisa jadi karena guanya yang indah," ucap Alif.
Gua Sawar sendiri berada di tengah Pegunungan Sawar, masuk daerah Batang Alai Timur. Berjarak tigapuluh kilometer dari Barabai, yang menjadi jantung Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).
Dinamai Sawar, lantaran di situ merupakan habitat ribuan kelelawar. Yang kotorannya kerap dijadikan pupuk oleh warga setempat. Menurut Alif, kotoran kelelawar juga sangat berguna untuk bunga, atau tanaman pohon cabai.
"Cepat suburnya, bang," tuturnya.
Selama pendakian menuju Gua Sawar, Alif tak banyak bercerita. Ia hanya fokus mencarikan jalan yang sekali lagi 'ramah' bagi pendaki pemula seperti penulis. Meskipun jalur yang dilalui itu menurutnya masih belum seratus persen ramah.
Buktinya, agar mudah mendaki kedua tangan masih perlu berpegangan erat ke akar atau ranting pohon, dan kaki masih harus tergagap mencari tanah pijakan yang keras.
Napas penulis pun sudah terlampau ngos-ngosan. Tangan dan kaki juga sudah mulai terasa pegal. Padahal pendakian belum ada setengah jalan.
Seperti paham dengan kondisi penulis, setiap tiba di tanah datar, Alif memilih berhenti. Beristirahat sebentar sekadar menghimpun kembali tenaga.
Atau tepatnya, saat menemui jalan menanjak, Alif selalu menanyakan kondisi para pendaki. Khawatir, ada pendaki yang tak kuat melanjutkan perjalanan.
Pendakian menuju Gua Sawar memang menguras tenaga. Bagi pemula, penulis sarankan untuk membawa air mineral berlebih. Kalau perlu, bawa saja camilan secukupnya.
Bukan tanpa alasan. Menuju ke Gua Sawar sungguh menguras tenaga. Kontur tanah yang dilalui lebih banyak menanjak ketimbang jalan mendatar. Dijamin bermandikan keringat.
Di sela-sela waktu istirahat, sembari duduk di atas bebatuan. Alif menuturkan bahwa terhitung sejak tahun 2017 lalu, tahun ini adalah tahun kelima ia menjadi guide.
"Tahun itu pertamakalinya saya membawa pelancong ke Gua Sawar. Lima orang, asal Banjarmasin. Setelah itu, Gua Sawar pun mendadak ramai dikunjungi," ungkapnya, sambil menimang-nimang botol air mineral yang masih tampak banyak isinya.
Saking banyaknya pelancong, menurut Alif, jalan di desanya bahkan sampai macet. Tempat parkir membludak hingga memakan ruas jalan. Itu terjadi setiap hari. Terlebih bila akhir pekan tiba.
"Mungkin sudah lebih dari seribu orang yang ke Gua Sawar," yakinnya.
Gua Sawar bukanlah tempat yang asing bagi Alif. Dari kediamannya, letak pegunungan yang berisikan gua itu hanya berjarak sekira satu kilometer. Dan baginya, kawasan itu laiknya taman bermain.
"Dari dulu sudah sering main ke sini. Sendirian, atau ramai-ramai dengan kawan-kawan di kampung," ungkapnya.
Tapi, bukanlah gua yang jadi tempat favorit Alif. Melainkan puncak puncak Pegunungan Sawar. Bukan tanpa alasan, dari atas puncak, Alif mengaku bisa melihat sebagian dari gugusan Pegunungan Meratus.
"Di puncak, bikin tenda atau bermalam juga bisa bang," ungkapnya.
Dari kaki bukit sampai ke mulut gua, memakan waktu kurang lebih satu jam perjalanan. Sekali lagi, dengan kontur tanah yang terus menanjak.
Setibanya di mulut gua, rupanya tidak hanya ada penulis dan Alif. Tapi, juga ada rombongan pelancong lainnya. Mereka tampak asyik berfoto.
"Saya sudah duakali ke sini. Suasananya mengasyikkan. Lelahnya mendaki, terbayar ketika sampai di gua. Tak bikin jera," ucap salah seorang pelancong, Rizky, asal Barabai.
Angin kencang berembus dari dalam gua. Berpadu aroma pesing kotoran kelelawar. Menengok ke dalam, tampak hilir mudik kelelawar. Di sini, Alif berbagi tips agar penciuman menjadi terbiasa.
"Hirup napas dalam-dalam, lalu hembuskan. Cukup satu kali, pasti terbiasa," yakinnya.
Penulis mencobanya. Menghirup napas dalam-dalam. Penulis tersedak. Alif pun tertawa, cekikikan. Tapi setelah itu, benar apa yang dikatakan Alif. Penciuman jadi terbiasa. Bau kotoran kelelawar pun lewat.
Gua itu sangat luas. Saking luasnya, andai tak ada bebatuan, Anda bisa bermain bola di dalamnya. Atau menggelar konser musik akbar, berpanggungkan bebatuan.
Bebatuan di dalam gua sangat banyak. Tentunya dengan berbagai ukuran. Batu paling kecil, seukuran karung beras. Di dalam gua juga cukup dingin. Dan dari langit-langit gua, air terus menetes. Menjadikan beberapa bebatuan gua licin dan berlumut.
Sayang, lantaran memulai pendakian terlampau kesiangan, gua pun jadi tampak cukup gelap. Alif menyarankan, bila hendak lebih nyaman, mendakilah sejak pagi.
"Jadi sampainya pas di siang hari. Sekitar jam sebelas, gua jadi terang bang. Cahaya matahari biasa menembus celah gua. Pemandangannya pun jadi cantik," ungkap Alif.
Bagi penulis, gua itu cukup indah. Tapi bagi Alif, itu belum seberapa. Sekali lagi, andai tak kesiangan, melanjutkan pendakian ke gua berikutnya bakal lebih baik. Tapi penulis memutuskan cukup di gua pertama saja.
"Di Pegunungan Sawar, setidaknya ada dua gua yang bisa dikunjungi bang. Kita baru di gua pertama. Kapan-kapan, silakan kembali lagi bang," tawar Alif.
Puas bersantai dan mengambil beberapa foto di dalam gua, penulis memutuskan untuk kembali. Di sini, skill kembali diuji. Tangan kembali banyak bergerak. Kaki? Tidak.
Mengapa demikian? Penulis lebih banyak memilih turun dengan cara perosotan. Pertimbangan penulis, karena jalanan yang semula kering mendadak licin lantaran sempat diguyur hujan gerimis.
Sekali lagi, Alif menunjukkan perhatiannya. Belasan kali ia menunjukkan jalan yang mana yang bisa dilewati. Yang mana yang tidak. Tapi sekali lagi, penulis memilih perosotan saja.
Di perjalanan menuruni Sawar, penulis melihat banyak bekas karung. Alif menuturkan, itu sisa-sisa angkutan kotoran kelelawar yang diperoleh dari dalam Gua Sawar.
Menurutnya, tak mudah mengangkut kotoran kelelawar sampai keluar gua atau keluar hutan.
Ambil contoh. Bila warga berhasil mengumpulkan lima karung kotoran kelelawar di dalam gua, yang mungkin utuh alias bisa dibawa sampai ke kampung hanya dua atau tiga karung. Sementara sisanya, keburu hancur di perjalanan.
Alasannya, tak lain karena medannya yang sulit. Maklum, kotoran kekelawar yang basah, kemudian dimasukkan ke dalam karung, tak bisa dibawa dengan cara dipanggul. Beratnya minta ampun.
"Jadi, cara membawanya lebih banyak digulingkan begitu saja sampai ke bawah pegunungan. Perkarungnya dihargai Rp30 ribu," jelasnya.
Perjalanan menuruni Sawar lebih nyaman dengan sambil bercerita. Setidaknya, bisa menghibur penulis yang sudah merasakan tebalnya celana di bagian pantat, lantaran banyaknya tanah yang menempel.
Dan ketika melihat hal itu, Alif hanya kembali cekikikan.
Dituturkan Alif, seiring dengan banyaknya pelancong yang pernah ia bawa ke Gua Sawar, ada banyak kisah yang ia temui. Termasuk, halnya kisah mistis.
Alif percaya, selain manusia dan hewan, baik hutan, gunung maupun gua, tentu ada penunggunya (makhluk gaib. Red). Maka, sudah semestinya kita sebagai tamu bisa mematutkan diri.
Ambil contoh: tak mengucapkan kata-kata kotor ketika melakukan pendakian, tak membuang sampah sembarangan, bercanda berlebihan, hingga melakukan hal yang aneh-aneh.
"Dulu, ada pelancong yang nekat pacaran di dalam gua, bang. Padahal sudah diwanti-wanti agar tidak berbuat yang aneh-aneh. Alhasil, dari gua sampai ke kampung, si cewek kerasukan. Beruntung masih bisa diobati," bebernya.
Tidak hanya pelancong. Alif sendiri pun pernah merasakan pengalaman mistis. Itu terjadi saat ia mengikuti survei yang dilakukan oleh empat orang pelancong. Saat itu, tujuannya adalah Gua Sawar.
Setibanya Alif dan empat orang itu di dalam gua, sayup-sayup ia mendengar ada suara yang memanggil namanya berkali-kali. Padahal saat itu, ia yakin hanya mereka berlima di dalam gua.
"Saat itu, kami juga masih duduk-duduk di dalam gua kedua di Sawar. Yang mendengar tidak hanya saya, tapi juga empat orang lainnya," kisahnya.
Tak ingin berpikiran yang aneh-aneh, Alif mencoba berpikir positif. Dengan mengatakan, mungkin ada seorang teman yang menyusul hendak menaiki gua kedua.
"Tapi setelah saya menunggu selama sejam, ternyata tak ada orang yang naik. Kami pun memutuskan untuk turun kembali ke kampung. Setelah itu, setahu saya tak pernah lagi ada kejadian aneh," tambah Alif.
Matahari sudah kian condong ke arah barat ketika penulis turun dari Sawar dan keluar dari hutan. Di kejauhan, Sawar tampak tegak berdiri. Penulis pun menolehkan pandangan ke arah Alif, ia tampak tersenyum.
Bagi Alif, menemani para pelancong adalah kesenangan sendiri. Ia, tak begitu mementingkan berapa bayaran yang bakal didapatnya sebagai guide. Tapi ada hal yang lebih berharga dari hal itu.
"Yang penting, saya jadi bisa punya teman baru, bang. Dari teman-teman baru, saya bisa dapat pengalaman," tutupnya, kemudian kembali tersenyum. (war/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin