BANJARMASIN - Rahmad Bagja, Ketua Bawaslu RI tampak terkejut. Dirinya menemukan langsung adanya keteledoran petugas KPPS saat Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilihan Wali Kota Banjarmasin dan Wakil Wali Kota Banjarmasin kemarin.
Dia menyangkan adanya pemilih di luar Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang ditentukan. Kejadian ini terjadi di TPS 1, Kelurahan Basirih Selatan. Ada sebanyak 10 pemilih luar yang “nyoblos” di TPS ini.
Sedianya 10 pemilih ini menggunakan hak pilihnya di TPS 7 di kelurahan yang sama dan tak jauh dari TPS 1. Entah bagaimana, mereka malah mendapat fasilitas menggunakan hak pilih di TPS 1. “Ini menyalahi aturan dan regulasi,” tegas Bagja.
Dia bahkan menyebut bisa saja PSU di TPS 1 diulang. Jika 10 pemilih tersebut juga menggunakan hak pilihnya di TPS 7. “Kan mencoblos dua kali. Kami pastikan melalui Bawaslu dan pengawas TPS, dia tak lagi menggunakan hak pilihnya,” katanya.
Bagja mengaku bingung, pasalnya setiap pemilih yang akan menggunakan hak pilihnya, selalu didata oleh petugas KPPS. Jika tak ada di daftar pemilih, tentu tak bisa diberikan surat suara. “Sesuai regulasi memang bisa pindah TPS. Tapi formulir A5 pindah tak ada. Ini di luar aturan,” tambahnya.
Menurutnya, bisa saja pemilih ini jika nantinya tetap menggunakan hak pilihnya di TPS asal, akan dikenai tindak pidana pemilihan. Karena menggunakan hak pilihnya dua kali. “Semoga saja tidak dan hanya keteledoran,” ujarnya.
Sementara, Ketua KPPS TPS 1 Basirih Selatan Syamsir Alam berkilah, kejadian ini lantaran membeludaknya pemilih yang datang ke TPS. “Saking banyaknya pemilih yang datang, anggota kami sampai keteteran,” ucapnya.
Dia jua beralasan, 10 pemilih tersebut adalah warga di sana yang terdaftar di TPS 7. Karena merasa warga setempat, akhirnya mereka difasilitasi menggunakan hak pilihnya. “Membeludaknya pemilih yang datang ketika itu, membuat petugas tak lagi bisa teliti. Terlebih karena merasa kenal dan memang warga di sini, mereka pun diberikan hak pilihnya oleh petugas,” tutur Syamsir.
Diterangkannya, ada sekitar seratusan warga di sekitar TPS yang masuk di TPS 7. Padahal tempat tinggal mereka berdekatan dengan TPS 1. “Banyak pemilih yang ingin cepat-cepat menggunakan hak pilihnya. Alasanya ingin masuk kerja. Bahkan ada empat pemilih yang meninggalkan karena harus kerja ke luar kota,” ujarnya.
Tak diliburkannya karyawan swasta dan juga ASN di PSU kemarin, menjadi salah satu faktor hal ini terjadi. Pemilih yang juga dituntut masuk kerja, pasti dikejar waktu. Akhirnya kejadian pun demikian.
Kejadian ini tentu jangan sampai terjadi di PSU Pilgub 9 Juni mendatang. Sampai ini pun Pemprov Kalsel belum menyampaikan apakah pada 9 Juni mendatang akan libur atau hanya diberi kelonggaran kepada pekerja. “Sedang kami pelajari, apakah akan ditetapkan libur atau dispensasi saja,” kata Pj Gubernur Kalsel, Safrizal ZA.
Menurutnya, banyak pertimbangan jika nantinya akan diliburkan. Salah satunya agar tak mengganggu pelayanan publik. “Waktunya masih cukup lama. Nanti kami putuskan paling lambat 2 Minggu sebelum hari H PSU. Paling tidak masyarakat tetap akan dilayani pada hari itu,” ujarnya.
Sementara itu, hasil PSU Pilkada Banjarmasin memenangkan Paslon Ananda-Musaffa. Meski demikian hal itu tidak mengubah hasil Pilkada sebelumnya yang memenangkan petahana Ibnu Sina-Arifin.
Pada perhitungan cepat versi internal paslon Ibnu Sina-Ariffin, paslon nomor urut 4 Ananda-Musaffa mendominasi hasil PSU. Paslon nomor 4 unggul dengan perolehan 11.837 suara di 80 TPS di tiga kelurahan, di Kecamatan Banjarmasin Selatan.
Rinciannya. Kelurahan Basirih Selatan dengan 3.991 suara di 28 TPS. Kelurahan Mantuil 4.483 suara dengan 29 TPS, dan Murung Raya 3.360 suara dengan 23 TPS.
Sedangkan paslon nomor urut 02 Ibnu Sina-Arifin hanya meraih 5.018 suara di tiga kelurahan tersebut. Di antaranya Kelurahan Mantuil 1.829 suara, Basirih Selatan 1.797 suara, dan Kelurahan Murung Raya 1.392.
Kemudian, untuk urutan ketiga, ada paslon nomor urut 3 Khairul-Habib dengan perolehan sebanyak 573 suara. Dan terakhir ada paslon nomor urut 1 Haris-Ilham dengan perolehan 412 suara.
Meski kalah di PSU, hasil itu akan berbeda bila digabung dengan perolehan di pilwali sebelumnya. Di hitungan cepat versi tim paslon nomor 2 itu, paslon nomor urut 4 tak mampu mengejar ketinggalan perolehan suara.
Mengacu dari data KPU Kota Banjarmasin. Sebelum PSU, paslon nomor urut 2 menjadi peraih suara terbanyak di Pilkada 9 Desember lalu. Yakni, dengan perolehan 90.908 suara. Sedangkan paslon nomor 4 mendapatkan 74.154 suara.
Terkait hasil survei yang dikeluarkan timnya itu. Ketua Tim Pemenangan paslon nomor urut 2, Bambang Haryanto menjelaskan bahwa hasilnya itu didapat dari masing-masing saksi yang diletakkan di tiap TPS.
"Dari hasil jumlah keseluruhan tetap kemenangan ada di pihak kami. Kami anggap, ini bukan kemenangan tim atau partai. Tapi kemenangan warga Kota Banjarmasin dalam hal memilih pemimpin kota," ucapnya, (28/4) malam.
Ia juga menegaskan bahwa pemilih yang memilih paslon nomor 2, adalah pemilih konsisten. Lantaran dilihat dari hasil kemarin, hanya sedikit berkurang dari hasil yang diperoleh sebelumnya di tiga kelurahan itu.
"Dari yang semula sebanyak 6.500 berubah menjadi 5.000. Tapi, kami tetap berterima kasih kepada pemilih PSU yang setia di tiga kelurahan ini," ungkapnya.
Ibnu Sina sendiri mengatakan masih tetap menunggu KPU. "Semoga proses yang berjalan sampai detik ini, memberikan hasil terbaik untuk masyarakat Banjarmasin ke depan," ungkapnya.
Di sisi lain, Ibnu juga mengatakan dari PSU ini ada hal yang perlu disyukuri. Yakni, partisipasi pemilih meningkat dan ini di luar prediksi.
"Tingkat partisipasi pemilih naik menjadi 67 persen. Paling tidak, ini menambah legitimasi bahwa Pilkada Banjarmasin terlaksana dengan baik," tungasnya.
Sementara itu, Ananda tak memberikan keterangan. Dihubungi melalui handphone, dia tidak mengangkat. Begitu pula melalui pesan WhatsApp, juga tidak ada balasan.
Partisipasi Pemilih Diklaim Meningkat
KPU Banjarmasin mengklaim partisipasi pemilih di Pemungutan Suara Ulang (PSU) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarmasin mencapai 70 persen dari total pengguna hak pilih.
Tingginya animo pemilih yang datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) kemarin, diyakini pihaknya selain memang antusias dari warga, juga gencarnya sosiaisasi KPU yang melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Menurut Komisioner KPU Banjarmasin Taufikurrahman, dari pantauan pihaknya, rata-rata partisipasi pemilih di semua TPS berkisar 60-80 persen. “Jauh meningkat dibandingkan 9 Desember lalu yang hanya berkisar 57,25 persen,” ungkapnya kemarin.
Bahkan Komisioner KPU RI, Arif Budiman meyakini, partisipasi pemilih melebihi 60 persen. “Ini membuktikan tingkat kesadaran pemilih terkait pentingnya suara mereka sudah sangat tinggi. Semoga di PSU 9 Juni nanti lebih tinggi lagi,” ujarnya.
Bagaimana dengan partisipasi pemilih di PSU Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalsel, 9 Juni mendatang? Harapan besar tentu partisipasi pemilh akan meningkat dibandingkan pemungutan suara 9 Desember 2020 lalu.
Meski sama-sama tak ada tahapan kampanye, namun animo Pilgub Kalsel yang tensinya lebih panas, digadang antusias pemilih menggunakan hak pilihnya kembali akan meningkat. “Kami sangat yakin antusias pemilih di Pilgub akan naik juga,” ujar Komisioner KPU Kalsel, Edy Ariansyah.
Di sisi lain, Pengamat Politik Fisip ULM, Mahyuni meyakini, tingginya partisipasi pemilih di PSU kemarin, akan diiringi pula saat PSU Pilgub 9 Juni mendatang. Memang sebutnya, ada faktor lain agar masyarakat antusias datang ke TPS.
Faktor tersebut terang mantan Ketua Bawaslu Kalsel itu adalah stimulus atau perangsang politik. Dia mencontohkan seperti masifnya sosialisasi paslon hingga stimulus politik uang agar masyarakat datang menggunakan hak pilihnya.
“Yang paling utama, masyarakat sudah semakin sadar pentingnya menggunakan hak pilihnya untuk menentukan siapa pemimpin mereka nanti,” ujar Mahyuni. (mof/war/ran/ema)
Editor : izak-Indra Zakaria