Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Terinspirasi Ponpes Al Hasyimiyyah, Kini Merintis Berdirinya STAI

miminradar-Radar Banjarmasin • 2021-05-01 11:36:14
MEGAH: Bangunan tiga lantai di Jln Abadi Pelaihari ini menjadi tempat belajar khusus untuk santri putri. | Foto: Norsalim Yahya/Radar Banjarmasin
MEGAH: Bangunan tiga lantai di Jln Abadi Pelaihari ini menjadi tempat belajar khusus untuk santri putri. | Foto: Norsalim Yahya/Radar Banjarmasin

Pondok Pesantren Asy Syuhada kini telah menjadi pesantren besar di Kota Pelaihari. Siapa sangka, awalnya pesantren ini hanya memiliki kelas pinjaman bekas Madrasah Aliyah yang sudah pindah.

-- Oleh: Norsalim Yahya, Pelaihari --

Pondok pesantren (Ponpes) Asy Syuhada merupakan pesantren yang terletak ditengah kota Pelaihari. Tepatnya di Jalan Dharma Kecamatan Pelaihari Kabupaten Tanah Laut.

Pimpinan Pondok Pesantren Asy Syuhada, H Ahmad Syarifuddin menceritakan bahwa awal berdirinya ponpes bermula dari dirinya yang telah lulus sekolah di Darussalam kemudian jalan-jalan ke daerah Kintap. Kebetulan disana ada keluarga.

Yang rencananya jalan-jalan, kemudian berubah setelah pimpinan Pondok Pesantren Al Hasyimiyyah Habib Faruq memintanya untuk mengajar di pondok miliknya. Setelah di minta oleh Habib Faruq maka pada tahun 1998 dirinya mengajar di Ponpes Al Hasyimiyyah kintap.

Setelah 3 tahun mengajar di Al Hasyimiyyah kemudian terlintas di dalam pikirannya kenapa di Kintap bisa berdiri pondok yang bagus sedangkan di kota tidak ada. Apalagi di kota orang-orangnya lebih banyak dari pada disana.

Dari pikiran tersebut muncullah inisiatif untuk membuat pondok pesantren di Kota Pelaihari dan ia pun berhenti mengajar di kintap. Kebetulan di Pelaihari ada bekas bangunan sekolah Madrasah Aliyah yang tidak dipakai, karena sudah pindah ke lokasi baru di Jln Matah Pelaihari.

Bangunan itu pun akhirnya dipinjamkan dan katanya tidak akan diambil lagi. Di sanalah mulai Guru Syarifuddin -panggilan akrabnya- mengumpulkan kawan-kawan lulusan dari Darussalam dan dari Al Falah. Sehingga terbentuklah kepengurusan untuk mendirikan pondok pesantren.

Pada tahun 2003 berdirilah Pesantren Asy Syuhada. Awalnya hanya memiliki dua kelas, yaitu kelas sore dengan jumlah murid sekitar 200 orang dan pada bulan Juli 2003 mulai dibuka kelas pagi.

Untuk murid-murid kelas sore berasal dari murid-murid yang bersekolah di SD/SMP di sekitaran Kota Pelaihari yang paginya mereka bersekolah di sekolah umum. Karena itu pula, apabila ada kegiatan sore seperti les disekolahnya, murid sore itu pun meminta izin untuk tidak masuk pesantren. Bahkan pernah ada murid yang ketika mau ujian di SD/SMP meminta izin tidak masuk hampir setengah tahun.

Sementara itu di sisi lain, tantangan membuka kelas pagi juga tidak mudah, awal dibuka santri hanya 11 orang. “Harus membangun kepercayaan dulu agar masyarakat mempercayakan sepenuhnya pendidikan anak ke Pesantren. Dan pada awalnya, murid-murid yang masuk ponpes adalah mereka yang tidak diterima di sekolah-sekolah lain,” terang Guru Syarifuddin.

Selama rentang waktu dari 2003 sampai 2011, jumlah santri tidak banyak setiap tingkatan. Untuk tingkat Wustha/Tsawaniyah sekitar 30 orang dari kelas 1, 2, 3. Setelah lulus pun murid ponpes Asy Syuhada banyak yang melanjutkan ke sekolah umum seperti Aliyah dan SMA. Karena belum ada kelas lanjutan dari Wustha.

Baru pada 2013, Ponpes Asy Syuhada mengalami kemajuan pesat, seiring dengan meningkatkan kepercayaan masyarakat. Murid-muridnya mencapai 50-100 orang tiap tingkatan. Kemudian pada tahun 2013/2014 dibuka kelas tingkat Aliyah atau Ulya dan kemudian dibuka kelas tingkat Ula atau SD.

Selain bangunan awal bekas Madrasah Aliyah Pelaihari di Jln Dharma, Ponpes Asy Syuhada pun kini sudah membangun dua gedung baru, masih di sekitar Masjid Syuhada Pelaihari, tepatnya di Jln Abadi dan Jln Majakeling.

“Masyarakat langsung yang melihat santri dan alumni pesantren Asy Syuhada. Mereka yang mengisi musala dan masjid di Pelaihari. Dalam membaca Alquran bagus, akhlak atau adab mereka juga terjaga,” terangnya.

Sehingga ujar Guru Syarifuddin, orang tua semakin yakin. Ada yang sampai tiga bersaudara semuanya sekolah di Syuhada. Juga mengajak sepupu dan saudaranya. Saat ini, jumlah murid ponpes Asy Syuhada berjumlah 1350 orang murid, belum termasuk murid-murid tahun ajaran baru akan datang.

Ponpes Asy Syuhada juga memberdayakan alumninya. Yang mana saat ini ada sekitar 20-30 guru dari 70 guru yang mengajar disana merupakan alumni pondok tersebut.

Guru Syarifuddin pun bersyukur, visi misi ponpes yang pertama menurutnya telah tercapai, yaitu mengembangkan pendidikan Islam dan syiar agama Islam di Kota Pelaihari, dimana masjid, musalla dan grup maulid yang ada di pelaihari diisi oleh murid ponpes Asy Syuhada.

“Adapun rencana saat ini, ponpes Asy Syuhada akan membuka perguruan tinggi yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI). Pada awalnya mengusulkan jurusan Hukum Keluarga, Syariah dan Tarbiyah ke Koordinator Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais). Ternyata yang mendapat rekomendasi hanya jurusan Hukum Keluarga. Kemudian mengajukan kembali jurusan Pendidikam Agama Islam dan Pendidikan Bahasa Arab dan yang disetujui adalah Pendidikan Bahasa Arab,” terangnya.

Saat ini terangnya, nama-nama dosen sudah lengkap dan masuk ke Rektor UIN Antasari Banjarmasin dan disetujui. “Tinggal menunggu surat rekomendasi dari Kopertais. Setelah dapat rekomendasi maka akan dilanjutkan ke Kementerian Agama. Semoga tahun ini bisa dibuka,” ujar Guru Syarifuddin.

Jika sudah dibuka maka yang menjadi mahasiswanya adalah murid-murid dari ponpes Asy Syuhada itu sendiri dan ditambah dengan guru-guru dari pondok pesantren se kabupaten Tanah Laut yang belum sarjana. (bin/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Liputan Khas Ramadan #Feature Religi