BANJARMASIN - Sekian lama menunggu agar bisa menggelar pembelajaran tatap muka (PTM), akhirnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel mendapat lampu hijau dari Satgas Covid-19 Kalsel.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel M Yusuf Effendi mengatakan rekomendasi PTM dari satgas yang ditandatangani Sekretaris Daerah Roy Rizali Anwar diterima 20 September 2021 tadi."Dengan adanya rekomendasi ini, maka SMA, SMK dan SLB yang menjadi piloting bisa menggelar PTM mulai Senin (4/10) nanti," katanya, kemarin.
Diungkapkannya, ada 30 sekolah yang menjadi piloting pelaksaan PTM. PTM di 30 sekolah tersebut akan dievalusi setelah satu bulan pelaksanaannya. "Dievaluasi dulu apakah ada penularan covid atau seperti apa. Tapi mudah-mudahan tidak terjadi apa," imbuhnya.
Jika berjalan dengan baik atau tidak terjadi kluster penularan virus corona di lingkungan sekolah, maka kegiatan PTM juga akan dilaksanakan di sekolah lain. "Kita lihat dulu yang ada ini, jika tidak terjadi apa-apa kita persilakan lagi di sekolah lain," tambah Yusuf.
Meski ini kabar baik bagi sekolah, namun beberapa rekomendasi Satgas Covid-19 masih dipertanyakan pihak sekolah karena dianggap memberatkan.
Syarat yang harus dipenuhi sekolah adalah pihak sekolah atau satuan pendidikan menjamin peserta didiknya telah melakukan vaksinasi minimal dosis pertama, yang dibuktikan dengan sertifikat vaksin.
Selain itu, sebelum melakukan PTM, peserta juga harus melakukan tes rapid antigen pada pendidik dan peserta didik sebelum melakukan PTM, yang berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan setempat.
Mengacu hasil antigen yang hanya berlaku 1X24 jam, tentu saja ini menjadi pertanyaan pihak sekolah. Apakah tes rapid antigen ini harus dilakukan tiap hari untuk bisa tetap melaksanakan PTM. “Di sini belum jelas mekanismenya,” ujar Kepala SMAN 5 Banjarmasin, Mukhlis Takwin kemarin.
Memenuhi syarat tersebut terangnya, pihaknya agak sulit merealisasikan. Dikatakannta, bila asumsi tes rapid antigen hanya berlaku 1 hari, berarti peserta didik harus tes per hari. “Lain hal, andai masa berlaku tes rapid antigen 1 bulan, siswa akan dites tiap awal bulan. Itu pun akan terkendala biaya dan petugas yang melakukan tes,” katanya.
Soal biaya tes antigen ini juga yang menjadi pertanyaan pihaknya. Jika dibebankan ke siswa tentu saja tak mungkin. Sementara jika dibebankan ke sekolah, Mukhlis mengaku tak ada dananya. “Kami akan koordinasikan dulu supaya jelas. Yang jelas dananya kami tak ada,” ujarnya.
SMAN 5 Banjarmasin termasuk 30 sekolah jenjang SMA/SMK dan SLB di Kalsel yang masuk sekolah piloting PTM. Menurut Mukhlis, dua syarat yang ditetapkan Disdikbud Kalsel atas rekomendasi Satgas Covid-19 membuat pihaknya belum bisa memenuhi syarat dan ketentuan menggelar PTM.
Dia memberi contoh, untuk syarat vaksinasi minimal dosis pertama cukup berat. Tapi Mukhlis mengatakan masih bisa dikejar pihaknya dalam minggu ini. Apalagi, dari total sebanyak 957 siswa, sudah 200 orang lebih yang divaksin secara mandiri.
Sisanya, data siswa sudah dimasukkan pihaknya untuk vaksinasi di puskesmas dan akan divaksinasi dalam minggu ini. “Tinggal 600 an lebih yang menunggu giliran. Hanya poin tes antigen tadi yang masih membingungkan dan bias untuk memenuhinya. Kalau dua syarat ini mutlak, kami tak mungkin menggelar PTM Senin (4/10) nanti,” katanya.
Di sisi lain, Juru Bicara Satgas Covid-19 Kalsel M Muslim menjelaskan, dalam rekomendasi satgas terdapat beberapa poin syarat bagi sekolah yang ingin PTM. "Salah satunya, sekolah yang boleh melaksanakan PTM terbatas daerahnya harus PPKM level 1 sampai 3," jelasnya.
Lanjutnya, syarat lain bagi sekolah yang ingin dibuka harus betul-betul melaksanakan protokol kesehatan. Di antaranya, membatasi jumlah siswa yang hadir: maksimal 50 persen dari kapasitas kelas. "Sebelum sekolah dibuka, juga harus dilakukan skrining terhadap peserta didik dan tenaga pendidik. Supaya mereka aman," ujarnya.
Di samping melakukan skrining, agar keamanan lebih terjamin pihaknya akan mendorong percepatan vaksinasi bagi tenaga pendidik dan peserta didik. "Walaupun vaksinasi bukan menjadi syarat PTM. Tapi ini harus tetap didorong," papar Muslim.
M Muslim menyampaikan, soal syarat tes antigen tersebut tak dilakukan tiap hari. Namun dilakukan secara berkala. “Ini untuk memastikan awal pelaksanaan. Kami tak ingin kecolongan dan berakibat terjadinya penularan yang masif,” ujarnya kemarin.
Dia menegaskan, tes antigen bukan dilakukan tiap hari sesuai batasan hasil antigen. Testing dilakukan secara periodik. “Bisa satu minggu atau satu bulan. Bisa semua siswa, bisa sampling,” terangnya.
Soal vaksinasi siswa agar bisa mengikuti PTM, Muslim mengatakan, saat ini vaksinasi menyasar kelompok pelajar. Khususnya siswa di 30 sekolah piloting ini. “Dalam rapat bersama lalu dengan Disdik, sekolah piloting mana yang masih rendah akan dipercepat vaksinasinya,” kata Muslim.
Sementara itu, SMAN 1 Martapura yang masuk dalam daftar sekolah piloting PTM langsung melakukan persiapan menggelar pembelajaran secara luring. "Senin (4/10), anak-anak kami minta ke sekolah untuk melakukan persiapan," kata Kepala SMAN 1 Martapura, Eko Sanyoto.
Dia menyampaikan, persiapan yang perlu mereka lakukan ialah terkait kesiapan fisik warga sekolah dan percepatan vaksinasi siswa. "Sekarang sudah ada 70 persen siswa yang sudah divaksin. Sisanya, masih dipersiapkan," ucapnya.
Terkait protokol kesehatan, Eko memastikan di sekolahnya sudah sangat siap. "Peralatan prokes semuanya sudah lengkap, sesuai dengan arahan Satgas Covid-19," pungkasnya. (ris/mof/by/ran)