Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Wacana Pemindahan Ibu Kota Batola ke Handil Bakti, Ada yang Tidak Menolak

izak-Indra Zakaria • Senin, 9 Januari 2023 | 11:26 WIB
MACET: Jalan di Handil Bakti, di foto beberapa waktu lalu
MACET: Jalan di Handil Bakti, di foto beberapa waktu lalu

Bupati Barito Kuala periode 2017-2022, Noormiliyani AS mengomentari wacana pemindahan ibu kota Kabupaten Batola dari Kecamatan Marabahan ke Kecamatan Alalak. Perempuan 63 tahun itu tidak menolak, tapi juga tidak lantas menerima. Menurutnya, perlu uji publik, bahkan kalau perlu referendum. Sehingga keinginan masyarakat Batola bisa diketahui.

“Tidak bisa diputuskan oleh kehendak sebagian orang atau golongan. Apalagi kalau (usulnya) sarat kepentingan politik,” kata mantan Ketua DPRD Kalsel itu, (8/1). Kalau mau diseriusi, Noormiliyani menuntut adanya kajian panjang dan mendalam. Terutama dari segi sejarah. “Ingat-ingat lagi sejarah perjuangan Marabahan,” tegasnya.

“Jadi tidak bisa diputuskan hanya lewat DPRD saja,” tambah tokoh Partai Golkar itu. Wacana ini dilontarkan oleh Anggota Komisi II DPR RI, Muhammad Rifqinizamy Karsayuda di media sosial. Politisi PDI Perjuangan itu melihat Alalak atau Handil Bakti yang berbatasan dengan Banjarmasin sebagai ibu kota masa depan Batola. Dan Noormiliyani pun menyindirnya, “Kalau tidak salah, Pak Rifqi ini terus yang dikaitkan dengan rencana-rencana pemindahan ibu kota.”

Terpisah, Anggota DPRD Batola, Syarif Faisal pun dengan tegas menolak usulan Rifqi. “Saya tak melihat urgensinya apa. Marabahan tidak berada di daerah bencana yang rawan. Infrastruktur pemerintahan di sini juga sudah representatif,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin.

Lalu, mengapa harus seheboh ini? Syarif menjawab, sebab usulan itu dilontarkan oleh “orang luar”. “Coba saja wacana ini dilemparkan ke kabupaten lain, tentu tokoh-tokoh masyarakat yang memahami sejarah pembentukan daerah itu bereaksi. Apalagi kalau yang mengucapkannya bukan seorang putra daerah,” tambahnya.

“Jadi bisa dimaklumi kenapa kami bereaksi dengan serius,” ujar kader Partai Golkar itu.

Syarif pun merasa, seolah ada tren pemindahan ibu kota di Indonesia. Dari Jakarta ke Nusantara, lalu dari Banjarmasin ke Banjarbaru. Sekarang, hendak di-copas ke daerah lain. Dia berharap, warga Batola tak terbuai oleh tren ini.

“Dewan dan pemkab telah merumuskan rencana tata ruang yang jelas untuk pembangunan Batola ke depan. Kami yang paling mengetahui kondisi 17 kecamatan ini,” tegasnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Hazrul Aswad, agak khawatir dengan bola panas yang dilemparkan Rifqi. “Mimpi memindahkan ibu kota ini membuat masyarakat menjadi bergejolak,” ujarnya.

Tentu ia menghargai opini Rifqi. “Tapi mimpi yang ia sampaikan, mengabaikan banyak aspek. Dari aspek sejarah, strategis, teknis dan administratif,” pungkasnya. Diwartakan sebelumnya, penolakan juga datang dari Anggota DPRD Kalsel, Fahrin Nizar dan sosiolog Universitas Lambung Mangkurat, Nasrullah.

Polemik ini dipicu video yang diunggah Rifqi. “Alalak ini, dia kecamatan, tapi karakternya perkotaan. Saya bermimpi, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Marabahan, suatu hari ibu kota harus pindah ke Handil Bakti,” ujarnya. (bar/gr/fud)

Editor : izak-Indra Zakaria