Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Nelangsa Menahun di SDN Basirih 10

izak-Indra Zakaria • Jumat, 13 Januari 2023 - 20:07 WIB
BUTUH BANTUAN: Ketiadaan akses jalur darat membuat para murid dan guru kesulitan untuk menuju SDN Basirih 10 Banjarmasin. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
BUTUH BANTUAN: Ketiadaan akses jalur darat membuat para murid dan guru kesulitan untuk menuju SDN Basirih 10 Banjarmasin. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Guru dan murid SDN Basirih 10 Banjarmasin bertahan dengan segala keterbatasan. Di antara kayuhan dan raung mesin perahu, mereka sejatinya mengharapkan bantuan. Sekolah dasar ini berada di ujung Kecamatan Banjarmasin Selatan. Persisnya, di Jalan Simpang Sungai Jelai RT 27.

 Dari Balai Kota Banjarmasin, SD tersebut berjarak belasan kilometer. Malang, selama bertahun-tahun tak ada akses jalur darat yang sampai ke sana.

Jalan yang pernah dibangun pemerintah setempat tak kunjung ada kemajuan alias belum dilanjutkan. Masih menyisakan hamparan rawa, juga area pertanian. Alhasil, hanya ada satu cara agar bisa sampai ke SD itu, naik perahu.

Radar Banjarmasin menyambangi SD itu kemarin (11/1) pagi. Menumpang sebuah perahu bermesin yang memuat para guru dan sejumlah murid. Rombongan membelah aliran Sungai Jelai yang kecokelatan.

Kepala SDN Basirih 10 Banjarmasin, Irnawati mengatakan diangkut dengan perahu ini selain guru, hanya anak-anak yang bermukim di luar. Maksudnya, bukan anak-anak yang bermukim dari kawasan Jalan Simpang Sungai Jelai.

Anak-anak lokal yang bermukim di kawasan tersebut biasa diantar orang tuanya. Atau berangkat sendiri ke sekolah. Tentu dengan mendayung perahu. “Seperti inilah keseharian para guru dan murid di sekolah kami,” ucap Irnawati.

Aktivitas mendayung perahu menuju sekolah itu kerap diabadikan orang-orang. Baik fotografer maupun videografer dari berbagai daerah. Foto maupun videonya banyak tersebar di dunia maya. Tak sedikit yang menganggapnya sebagai kearifan lokal, dan memiliki sisi unik. Namun, tak sedikit pula yang iba. Lantaran melihat perjuangan para murid dan guru untuk bisa sampai ke sekolah.

Sekitar 15 menit menempuh jalur sungai, penulis tiba di SDN Basirih 10. Di dermaga kayu SD itu, berjejer perahu milik wali murid. Sementara di depan ruang kelas, ada banyak murid yang berdiri menunggu gurunya.

Bangunan SD itu berdiri di sebuah tanah lapang. Bersisian dengan sungai, membuat tanahnya tak pernah kering. Malam hari, air sungai kerap pasang. Halaman sekolah menjadi penuh dengan lumpur. Pasang air sungai juga menyasar masuk ke teras dan ruang kelas. Maka sudah bisa ditebak, pagi hari hanya menyisakan bercak lumpur di lantainya.

Di SD tersebut, ada enam ruang kelas yang diisi sebanyak 51 murid. Lalu, ada satu buah toilet yang tampak miring. Kemudian, sebuah perpustakaan yang kini difungsikan sebagai ruang guru.

Jumlah tenaga pendidik ada tujuh orang. Ditambah seorang kepala sekolah alias kepsek, maka jumlahnya jadi delapan orang. Rinciannya, berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) berjumlah lima orang. Satu Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), dan dua guru honorer.

Pagi itu, aktivitas belajar mengajar berjalan seperti di sekolah kebanyakan. Hanya membedakannya kondisi ruang kelas dan muridnya saja. Jumlah murid di masing-masing kelas bisa dihitung dengan jari.

Ruang kelas tampak seadanya, dan jauh dari kata terawat. Contoh, plafon ruang kelas sudah mulai tersingkap. Tinggal menunggu waktu untuk ambruk.

Dinding ruangan retak di sana-sini. Termasuk lantai keramik teras dan ruang kelas yang sebagian juga tampak rusak. Tentu menyisakan bercak lumpur. Padahal, sebelum memulai pelajaran, para murid sudah bergotong royong menyapu atau membersihkan lantai ruang kelas itu.

Menilik lebih jauh, tidak semua murid mengenakan sepatu sebagai alas kaki. Apa boleh buat, kondisinya memang tidak memungkinkan. Faktor pertama, karena bangunan sekolah berdiri di tanah yang hampir tak pernah kering, alias selalu becek itu. Di halaman sekolah misalnya, lumpurnya mampu membenamkan mata kaki orang dewasa. “Kami ingin sekali ada bantuan peninggian halaman. Sudah sering diusulkan, tapi belum dikabulkan,” keluh Irnawati.

“Kasihan anak-anak. Bila olahraga atau upacara, tak bisa mengenakan alas kaki,” jelasnya. “Punya halaman sekolah, tapi tak bisa digunakan itu aneh rasanya,” tambahnya.

Faktor kedua, tidak semua anak terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Irnawati bilang sekolahnya lebih banyak menampung warga yang ekonominya pas-pasan. “Terus terang, kami para tenaga pendidik juga pernah patungan untuk membelikan seragam sekolah, lalu diberikan secara cuma-cuma ke murid,” ungkap guru kelas tiga, Abdul Malik.

Berbicara tentang ketiadaan akses jalur darat, baik Irnawati maupun Abdul Malik, tidak mengetahui secara pasti apa permasalahannya. Ketiadaan akses jalur darat itu sebenarnya sudah diketahui oleh pemko juga Disdik Banjarmasin. Namun sekali lagi, hingga kini tak kunjung ada solusi. “Bahkan sekadar untuk perahu yang kami gunakan pun sumbangan dari para dermawan,” ujar Irnawati.

Hal itu juga dibenarkan seorang guru honorer di SD tersebut. Namanya Susilawati. Tenaga pendidik ini sudah belasan tahun mengajar di SD tersebut. Seingatnya, untuk perahu, sudah enam kali berganti. Itu termasuk perahu yang penulis tumpangi kemarin.

Dulu, awal-awal, memang pernah ada bantuan perahu dari Dinas Pariwisata Banjarmasin. Tapi sudah lama sekali hancur, alias tak bisa digunakan. “Setelah itu, bantuan perahu hanya datang dari organisasi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Kalsel, juga para dermawan,” tuturnya.

Apakah dengan adanya bantuan perahu mobilitas guru dan murid menuju sekolah itu sudah bisa teratasi? Jawabannya, tentu saja belum. Diungkapkan Abdul Malik, mobilitas masih bergantung pasang surut air sungai. Lalu, juga kondisi prima perahu mesin itu sendiri. “Pernah suatu ketika, baling-baling perahu mesin yang kami gunakan itu hilang saat menuju ke sekolah. Beruntung ada warga yang membantu,” ujarnya.

Bila sungai sedang surut, atau perahu sedang mengalami perbaikan, maka aktivitas belajar mengajar dilakukan di rumah warga. Kondisi itu dibenarkan oleh Misriani. Rumah perempuan inilah yang biasa dipakai sebagai ruang kelas. “Sering sekali seperti itu. Kasihan para guru dan para murid. Semoga ada jalan keluarnya. Paling tidak, semoga bisa dibuatkan akses jalur darat,” harapnya. “Tak perlu dicor. Yang penting ada akses jalur darat,” tekannya.

Menjelang waktu Zuhur, aktivitas belajar mengajar di SDN Basirih 10 Banjarmasin dihentikan. Rupanya, sudah waktunya pulang. Air Sungai Jelai tampak surut. Perahu yang ditambatkan, sebagian badannya sudah tak lagi mengapung di atas air. Tapi sudah menapak di tanah berlumpur.

Tampak susah payah wali murid maupun guru menanjak galah agar membuat seluruh badan perahu bisa berada di sungai kembali. “Seperti inilah keseharian kami. Terlambat sedikit, bisa-bisa makin sulit untuk pulang ke rumah,” tutup Irnawati.(war/gr/dye)

Editor : izak-Indra Zakaria