Ketika angin berembus kencang, warga mengamankan barang berharga ke tempat yang lebih tinggi. Bagi warga Pulau Bromo dan Jalan Teluk Masjid, embusan angin salah satu tanda alam bahwa air sungai akan mengalami pasang tinggi.
Di Pulau Bromo, Kelurahan Mantuil Kecamatan Banjarmasin Selatan, permukaan air sungai sudah menjilat lantai titian, (19/2) petang. Titian itu menjadi akses utama warga. Tinggal menungu waktu limpasan air masuk ke dalam rumah. Kemudian merendam lantai rumah-rumah warga.
“Sekitar jam 20.00 malam, airnya masuk ke rumah. Tak ada lagi rumah-rumah yang dipasangi tikar, karena pasti basah,” ujar Anita, warga RT 6 Pulau Bromo. “Di dalam rumah, paling rendah air yang masuk itu sejengkal,” tambah perempuan 46 tahun itu.
Kondisi itu sudah terjadi empat hari belakangan ini. Menurut Anita, air sungai yang pasang, baru surut sekitar jam 1 atau jam 2 dini hari. Tak ayal, kondisi tersebut membuat warga di Pulau Bromo tak bisa tidur nyenyak. Mereka dirundung kekhawatiran. Kalau-kalau limpasan air yang masuk menjadi lebih tinggi.
Supaya bisa tidur saja, kasur pun terpaksa ditinggikan dari posisi semula. “Kami terpaksa membuat atau memasang katilan,” jelas Anita.
Katilan dimaksud berupa susunan kayu yang kemudian diselipkan di bawah di antara benda-benda. Kayu-kayu itu juga bisa dibuat sedemikian rupa dengan ketinggian bervariatif. Di atasnya, baru diletakkan benda-benda. Gunanya mengamankan benda-benda agar tidak langsung terpapar limpasan air. Tak jarang, rembesan air yang masuk bisa merendam apa saja.
Sejauh ini, Anita hanya berharap agar air di dalam rumahnya tak setinggi yang pernah terjadi pada awal tahun 2021, akhir tahun 2022, maupun awal tahun tadi. “Tahun 2021 (banjir besar di Banjarmasin, red), tak bisa diceritakan lagi. Tinggi sekali. Kalau akhir tahun 2022 dan awal tahun 2023 tadi, tinggi air yang masuk ke dalam rumah sampai hampir selutut,” ungkapnya. “Seingat saya, selama sepekan, mayoritas lantai rumah warga di sini terendam,” ungkapnya.
Hal senada juga diungkapkan Alus. Ia bilang, saat itu kulkas di dalam rumahnya sebagian terendam. “Jadi rusak, dan tak bisa digunakan lagi,” tuturnya.
Bukan hanya air pasang tinggi saja yang dikhawatirkan warga di Pulau Bromo. Namun juga gelombang dari perahu mesin yang melintas. “Gelombang saat air sungai pasang tinggi bisa membuat rumah-rumah jadi bergoyang,” ungkap perempuan 60 tahun itu.
Alus menjelaskan bila dinding rumah kayu milik warga masih kokoh, goyangan dari gelombang tak begitu terasa. Berbeda halnya bila rumah kayu yang dihuni sudah reot. Dikhawatirkan merusak atau membuat rumah jadi roboh.
“Berdinding kalsiboard pun bila terus menerus dihantam air juga bisa jebol,” yakinnya. “Saya sebenarnya khawatir. Tapi mau mengungsi ke mana? Rumah kami cuma di sini,” ungkap Alus.
Apakah sejauh ini rumah roboh pernah terjadi? Syukurnya, sejauh ini tak ada rumah yang roboh dihantam gelombang saat air sungai pasang tinggi. “Hanya merendam lantai rumah warga saja,” katanya.
Situasi lebih parah justru terjadi di seberang Pulau Bromo, persisnya di RT 10 kawasan Jalan Teluk Masjid. Akses jalan cor beton di kawasan itu sudah tergenang. Limpasan pasang air sungai, bahkan cukup deras menerjang ruas jalan itu. Perlahan merendam sejumlah halaman rumah warga.
Bila rembesan air yang melanda di kawasan Pulau Bromo sudah berlangsung selama empat hari. Sedangkan di Teluk Masjid limpasan air sudah berlangsung selama sepekan.
“Limpasannya naik ke jalan mulai sore. Pas malam, sudah masuk merendam lantai rumah. Satu jam baru surut,” ujar warga setempat, Ipah. “Untungnya, saya masih bisa ke atas loteng,” tambahnya.
Perempuan 60 tahun itu bilang limpasan air terjadi setiap tahun. Menurutnya, cukup gampang untuk mengetahui air sungai akan pasang tinggi hingga limpasannya masuk ke dalam rumah. “Bila angin berembus kencang, siap-siap saja. Kami akan menaikkan barang-barang berharga ke tempat yang tinggi,” ungkapnya.
Meski warga setempat sudah cukup terbiasa dengan kondisi tersebut, bukan berarti tak ada kekhawatiran. Limpasan air sungai yang merendam lantai rumah membuat rumah kayu gampang lapuk. “Ini, coba kamu lihat sendiri. Lantai rumah saya sudah lapuk. Lihat juga ini dinding rumah saya. Sudah saya lapis dengan kalsiboard pun tetap jebol,” ungkap Ipah.
Dia tak menampik bahwa gelombang yang ditimbulkan dari perahu mesin juga ikut andil memperparah kerusakan. “Semoga saja ada bantuan dari pemerintah,” harapnya.
Pasang tinggi air sungai kemarin petang, perlahan tampak terus meninggi. Limpasan air yang sampai ke jalan itu pernah terjadi bisa mencapai paha orang dewasa. “Limpasan air ini juga yang membuat rusak jalan di Teluk Masjid,” ujar Jailani. Ia Ketua Rt 10 di kawasan Jalan Teluk Masjid.
Ia bilang, limpasan air juga menjadi pemicu hancurnya siring kayu yang menyangga bibir jalan. Hasilnya, akses jalan yang dicor beton itu tampak miring ke arah sungai. Beberapa bagian, jalan cor beton itu bahkan sudah tampak ambles.
“Syukurnya, ada solusi. Kalau saya tidak keliru, bulan Juni atau Juli mendatang, perbaikan bakal dilakukan oleh Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Banjarmasin,” ungkapnya.
“Semoga saja bisa terealisasi. Kami berharap siring sungai ini ditinggikan dan dibuat dari batu gunung. Atau apapun agar limpasan air tak lagi sampai ke jalan,” harapnya. (war/az/dye)