Pabrik tahu di Jalan Jeruk, Sungai Ulin, Kota Banjarbaru didatangi Satpol PP pada Selasa (2/5) lalu. Kepala Satpol PP Banjarbaru, Hidayaturahman mengatakan, mereka datang karena aduan masyarakat. Terkait laporan dugaan limbah tahu yang mencemari sungai di belakang pabrik.
Dalam sidak itu, petugas mendapati kolam penampungan limbah yang belum dikelola secara benar. “Klarifikasi pemilik, ia sudah berusaha mengolah limbah tahu tersebut, tetapi memang belum optimal,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Jumat (5/5).
Padahal sebelumnya pabrik tahu itu sudah didampingi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarbaru. Namun, hasil pembinaan DLH rupanya belum terlihat di lapangan. Lurah Sungai Ulin, Dony Fajar Saputra menceritakan, mulanya aduan warga itu masuk ke tempat mereka.
Diceritakannya, masyarakat di Kelurahan Sungai Besar juga turut mengeluh. “Aliran sungai itu melewati kelurahan tetangga, makanya warga di sana mengeluh,” ungkapnya.
Benar saja, saat Radar Banjarmasin ke lokasi, ada tiga kolam limbah yang sudah penuh. Limbah tahu dibiarkan mengendap di dasar kolam. Terpapar sinar matahari hingga menguarkan bau busuk.
Dari ketiga kolam itu, posisi salah satu kolam sangat berdekatan dengan sungai. Dony menyebut, kolam itulah yang mencemari sungai.
“Pengakuan pemilik pabrik, belakangan ini mereka menerima banyak orderan. Jadi mungkin kolam tak lagi bisa menampung limbah gara-gara peningkatan produksi itu,” bebernya.
Setahunya, ini bukan pabrik baru. Sudah lama beroperasi, sejak sebelum ia bertugas menjadi lurah di sana.
Di wilayah Sungai Ulin, ada dua pabrik tahu yang beroperasi. Namun skala pabrik satunya terbilang kecil. “Yang bermasalah ini pabrik tahu yang besar. Karena dalam sehari pabrik ini bisa memproduksi ribuan kilogram kedelai,” katanya.
Dony menjamin, pemilik pabrik siap memperbaiki sistem pengelolaan limbahnya. “Pemilik usaha mau bekerja sama dengan DLH,” tandasnya.
Terpisah, pengelola pabrik, Sugi mengaku sudah berupaya menutupi kolam limbah itu dengan plastik bening. “Kami sudah punya banyak kolam penampungan,” ujarnya. Walaupun ia mengakui, pengetahuannya dalam penanganan limbah amat terbatas. “Limbah tahu itu susah diatasi. Pasti bau, karena keterbatasan ilmu saya dalam mengelola limbah,” akunya.
Maka ia berharap solusi dari instansi terkait. “Kalau hanya dibina, tak tahu kapan selesainya,” tutupnya. Sugi menyebutkan, dalam sehari pabriknya memproduksi sembilan kuintal tahu.
Solusi DLH
Kepala Bidang Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan DLH Banjarbaru, Shanty Eka Septiani menjamin kasus cemaran limbah pabrik tahu di Sungai Ulin itu menjadi sorotan pihaknya. Ia melihat, persoalannya adalah kapasitas produksi yang tak sebanding dengan kapasitas IPAL (instalasi pengolahan air limbah) pabrik. Saat ini, DLH telah meminta bantuan kepada Sulaiman Hamzani, seorang akademisi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Banjarmasin.
Rencananya, Poltekkes akan memodifikasi rancangan IPAL pabrik tahu tersebut. Pemilik pabrik pun sudah menyetujuinya.
“Kemarin sudah dicek oleh Poltekkes, IPAL yang ada dimaksimalkan. Kalau kurang akan ditambah,” kata Shanty.
“Sekali dalam dua pekan, akan kami pantau perkembangannya. Intinya, masalah limbah itu harus diselesaikan,” tutupnya. (zkr/gr/fud)
Editor : izak-Indra Zakaria