Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Gaet Tiket dari Sponsor, Murid SD dan SMP Diwajibkan Nonton Film Jendela Seribu Sungai

izak-Indra Zakaria • Kamis, 15 Juni 2023 | 16:43 WIB
DIPUTAR DI SELURUH BIOSKOP: Ilustrasi foto di salah satu studio pemutaran film di Banjarmasin. Foto diambil beberapa waktu lalu saat pintu teater mulai dibuka. Di sinilah nantinya film JSS juga ditayangkan.
DIPUTAR DI SELURUH BIOSKOP: Ilustrasi foto di salah satu studio pemutaran film di Banjarmasin. Foto diambil beberapa waktu lalu saat pintu teater mulai dibuka. Di sinilah nantinya film JSS juga ditayangkan.

Pada 20 Juli 2023, film Jendela Seribu Sungai (JSS) ditayangkan serentak di bioskop seluruh Indonesia. Pemko Banjarmasin bahkan sampai mewajibkan siswa-siswi SD dan SMP di Banjarmasin datang menonton film tersebut.

Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Banjarmasin, Zulfaisal Putera mengungkapkan wacana itu kemarin (14/6) siang. Ditargetkan, ada sebanyak 5.000 murid yang akan menonton film itu. Terdiri dari murid yang duduk di bangku di atas kelas IV SD, dan pelajar SMP di Banjarmasin.

“Dengan ditonton anak-anak sebanyak itu di Banjarmasin, kami berharap film itu nantinya menjadi booming,” harapnya. Zulfaisal mengakui keinginan film itu ditonton oleh anak-anak datang dari sang wali kota dan istri. “Pak Wali Kota dan Ibu Wali Kota berharap film itu bisa dinikmati oleh anak-anak Banjarmasin. Untuk itulah murid SD dan SMP diwajibkan menonton,” ucapnya.

Tiket film gagasan Pemko Banjarmasin dan digarap Radepa Studio itu tetap menyesuaikan harga di bioskop. Di Studio XXI Banjarmasin, misalnya. Harga tiket dipatok dari Rp45 ribu hingga Rp60 ribu.

Apakah murid SD dan SMP diwajibkan membayar sejumlah nominal itu untuk bisa menonton film tersebut? Jawabannya, tidak. Murid SD dan SMP di Banjarmasin tidak perlu merogoh kantong sendiri untuk membeli tiket menonton. Pemko dikabarkan sedang menggaet sponsor yang bisa membelikan tiket menonton. Sederhananya, bila sponsor sudah didapatkan, maka murid SD dan SMP bisa menonton film JSS dengan gratis. 

Zulfaisal menjelaskan kalau sekadar diwajibkan menonton, tentu ada sedikit kendala. Contohnya, terkendala biaya atau dana untuk membeli tiket. “Maka dari itu, kami carikan sponsor. Sponsorlah yang membiayai tiket untuk anak SD dan SMP itu,” tekannya.

Zulfaisal mengaku sejauh ini sudah ada pihak yang mau mensponsori pembelian tiket. Itu seiring dengan adanya pertemuan antara pemko dengan calon sponsor sekitar dua pekan lalu. “Gathering dipimpin langsung oleh Pak Wali Kota. Selanjutnya seperti apa perkembangannya, itu bukan ranah saya,” ujarnya.

“Tapi kami berharap, pihak sponsor bisa memberikan bantuan. Nantinya, nama sponsor ikut nampang di awal pemutaran film,” tambahnya. “Perlu diingat, ini bukan mensponsori film. Tapi, mensponsori penonton. Untuk film, itu sudah dibiayai oleh APBD,” tekannya.

Tiket gratis yang dibeli oleh pihak sponsor digadang-gadang juga bakal diberikan ke sejumlah pegawai Pemko dan DPRD Banjarmasin. Berapa banyak sponsor yang bersedia? Zulfaisal mengaku tidak mengetahuinya. “Itu sudah bukan ranah kami,” kilahnya.

Lalu, bagaimana bila ada guru atau orang tua murid yang hendak mendampingi anaknya menonton film itu? Menurut Zulfaisal, guru atau orang tua yang hendak menonton diharuskan membayar tiketnya sendiri. “Ini bagian dari strategi penjualan atau pemasaran,” ujarnya.

Kenapa mewajibkan anak SD dan SMP menonton film JSS? Zulfaisal membeberkan sebagian alasannya. Selain karena film itu adalah sarana pendidikan, film JSS juga bisa membangkitkan motivasi anak atau masyarakat. “Siapa saja boleh mempunyai cita-cita setinggi apapun. Adanya halangan itu bukan menjadi kendala,” tekannya.

“Seperti yang dialami salah satu karakter dalam film, Kejora. Yang dilarang menjadi seorang dokter lantaran dia anak seorang Balian,” jelasnya. “Saya sarankan, para penonton jangan lupa membawa tisu. Karena ada sejumlah scene yang mampu membuat kita menangis,” yakinnya.

Diwartakan sebelumnya, film JSS diambil dari judul dan kisah dalam novel karya Miranda Seftiana dan Avesina Soebli. Novel setebal 316 halaman itu diluncurkan pada 15 September 2018 lalu. Seiring berjalannya waktu, pemko melalui Disbudporapar Banjarmasin menghendaki agar cerita yang ada di novel itu difilmkan. Alasannya, sebagai promosi pariwisata Kota Banjarmasin.

Pada tahun 2022, rencana itupun direalisasikan. Radepa Studio Jakarta ditunjuk untuk menggarap film tersebut. Digarap sejak 10 November 2022, film pun rampung akhir Desember 2022.

Selama penggarapan film, juga diwarnai dengan polemik. Selain dipandang bukan hal mendesak, film tersebut juga menelan anggaran yang tidak sedikit. Menilik dari laman LPSE Banjarmasin, dana yang dikucurkan untuk penggarapan film JSS sebesar Rp6,6 miliar. Bersumber dari APBD Perubahan tahun 2022. Metode pengadaan dituliskan secara pengecualian.

Rencana penggarapan film tersebut sempat menjadi polemik karena sebelumnya sama sekali tidak pernah dibahas oleh Disbudporapar Banjarmasin bersama Badan Anggaran (Banggar) di DPRD Banjarmasin. Alhasil, pada bulan Desember 2022, Komisi II DPRD Banjarmasin menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama dinas terkait. 

Kepala Disbudporapar Banjarmasin saat itu dijabat oleh Iwan Fitriadi menyatakan bahwa apa yang terjadi saat rapat banggar maupun RDP hanyalah sedikit miskomunikasi.

“Mungkin, karena keterbatasan pemahaman kami dalam hal tata cara penganggaran dan sebagainya. Sehingga muncul adanya miskomunikasi,” katanya.

Terlepas dari polemik, film itu kini rampung dan siap untuk tayang perdana. Berdurasi 1 jam 45 menit, gala premiere film JSS di Banjarmasin berlangsung pada 12 Juli. Diiringi digelar di Jakarta pada 17 Juli. Selanjutnya, pada tanggal 20 Juli, film JSS ditayangkan serentak di seluruh bioskop di Indonesia.(war/az/dye)

Editor : izak-Indra Zakaria