ITIK alabio, unggas plasma nutfah milik Kabupaten Hulu Sungai Utara, sudah terkenal ke seantero negeri. Tapi, tahulah Pian? Ada itik lain yang menjadi andalan perekonomian masyarakat HSU. Namanya itik balagung. Balagung sebenarnya merupakan akronim dari “bibit Alabio unggul”. Hasil kawin silang antara itik alabio betina dan bebek entok jantan.
Itik balagung diternakkan oleh masyarakat Desa Kayakah, Amuntai Selatan. Perbedaan paling kentara di antara kedua itik ini, jika itik alabio diunggulkan sebagai itik petelur, maka itik balagung dijadikan sebagai itik pedaging.
Kepala Desa Kayakah, Mursidi menceritakan, itik pedaging ini pertama kali diternakkan oleh ibunya Kamsiyah. “Waktu itu, sekitar tahun 2006 atau 2007, mama melihat itik alabio dan entok peliharaannya kawin dan bertelur. Beliau menyadari anaknya tumbuh besar lebih cepat,” kisahnya.
“Sejak itu, balagung mulai diternakkan untuk memenuhi kebutuhan pasar akan daging itik,” tambahnya.
Perbedaan fisiknya, bagian paru itik balagung lebih gelap. Bulunya kehitaman. Sedangkan itik alabio lebih kuning, mendekati oranye.
“Usia panen itik pedaging ini cukup 2,5 bulan atau sekitar 75 hari. Jadi masa pertumbuhannya sangat cepat. Sehingga banyak warga yang memilih beternak itik jenis ini,” jelasnya.
Dari HSU, itik balagung dipasok untuk memenuhi kebutuhan warung makan dan restoran. “Saat ini permintaannya masih tinggi, namun belum dibarengi hasil produksi,” ujarnya.
Salah seorang peternak balagung, Ansar mengatakan, bisnis ini begitu menjanjikan. Sebab permintaan daging itik balagung bukan hanya datang dari pasar Kalsel, tapi juga dari Kaltim dan Kalteng. “Banyak peminatnya, tetapi belum diiringi jumlah ternak. Dan harga itik ini memang lebih mahal. Usia 12 pekan atau 3 bulan dihargai antara Rp65 ribu sampai Rp70 ribu per ekor,” ujarnya.
Disebutkannya, untuk anakan itik balagung, usia 10 hari dijual Rp14-15 ribu per ekor. Permintaan akan naik drastis menjelang hari besar keagamaan seperti Idulfitri dan Iduladha. Saat itu harganya akan semakin mahal. “Sepertinya, sudah naluri masyarakat sini untuk beternak itik,” ujarnya bangga. Terpisah, Kepala Dinas Pertanian HSU, Masrai melalui sekretarisnya Rijani mengatakan, itik balagung mulai diternakkan di desa-desa lain di HSU. Tidak terbatas cuma di Kayakah.
Menurutnya, selain dagingnya, itik balagung juga lebih tahan terhadap serangan penyakit unggas. Itulah yang membuat banyak peternak unggas meminati balagung.
“Balagung lebih tahan penyakit. Cepat besar sehingga dapat menghasilkan income (penghasilan) lebih banyak bagi peternak,” ujarnya. (mar/gr/fud)
Editor : izak-Indra Zakaria