Oleh: ANDI TENRI SOMPA
Ketua KPU Kalsel
Apakah yang paling kita syukuri di dunia ini? Ini bukan pertanyaan retoris. Ini adalah pertanyaan filosofis yang bisa menggambarkan diri kita secara utuh. Jawablah pertanyaan ini, maka Anda menemukan sebuah hakikat. Apapun jawaban Anda, maka itulah relung terdalam dari jiwa Anda.
Bersyukur adalah ungkapan rasa terdalam dari jiwa manusia. Begitu luar biasanya rasa syukur, Allah pun menjanjikan menambah nikmat bagi hamba yang pandai bersyukur. Saat membuat tulisan ini, saya bersyukur Allah masih memberikan nikmat sehat, sehingga bisa berkumpul bersama keluarga. Saya bersyukur semua tugas dan tanggung jawab sebagai Ketua KPU Kalsel dimudahkan dan dilancarkan.
Rasa syukur terbesar saya adalah bisa merasakan kedamaian dan kebahagiaan hidup di negara ini. Sungguh semua itu adalah nikmat yang luar biasa. Kita tak bisa mencari kesempurnaan hidup, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Itulah yang selalu menjadi prinsip saya bahwa hidup patut disyukuri. Sebagai wujud rasa syukur itulah, saya bersama seluruh Komisioner KPU Kalsel dan daerah bekerja ikhlas agar proses dan pelaksanaan pilpres, pileg, dan pilkada berjalan lancar, aman dan damai.
Kami hanya fokus pada prosesnya untuk mengantarkan pemilu yang berkualitas, bermartabat, dan berintegritas. Siapapun yang terpilih adalah pilihan seluruh rakyat Indonesia. Siapapun yang menjadi pemimpin adalah pemimpin seluruh rakyat Indonesia. Inilah politik demokrasi, memberi ruang dan kesempatan kepada seluruh rakyat untuk menentukan siapa calon pemimpin yang dianggap terbaik.
Karena itu, gunakanlah hak pilih dengan baik dan bijak. Semua orang memiliki hak politik setara. Tak peduli profesor, pengusaha, pejabat, tukang parkir, pedagang, pelajar, semua memiliki hak yang sama. Tak ada perbedaan strata sosial. Tak ada perbedaan si kaya dan miskin. Sarjana atau bukan, bekerja atau tidak, semua punya hak politik untuk memilih siapa yang terbaik menurut versi masing-masing.
Bersyukurlah karena kita masih diberi kesempatan untuk memilih dan menentukan siapa pemimpin yang dianggap layak. Kalaupun yang dianggap layak ternyata tak terpilih, bukan berarti pemimpin terpilih dianggap tak layak. Jangan terbawa dendam, apalagi sampai membenci karena perbedaan pilihan. Soal pilihan cukup sampai di balik bilik suara, jangan sampai masuk ke hati.
Terima dan syukuri semua proses, tahapan, hingga hasil akhir dari pilpres, pileg dan pilkada yang berjalan lancar dan aman. Syukurilah hidup ini, niscaya hati kita menjadi damai dan tenang.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih (QS: Ibrahim:7). (*)