Polsek Banjarmasin Utara menciduk tujuh remaja yang diduga mengeroyok Januar alias Ebeh (29) sampai tewas pada malam tahun baru kemarin di Jembatan Pangeran, kawasan Kayu Tangi.
Mereka ditangkap pada Senin (1/1) secara terpisah. Inisialnya TH, MYP, AR, RA, AL, FR, dan DF. TH yang paling jauh, dia dibekuk di Kapuas, Kalteng. Barang buktinya, disita sebilah senjata tajam (sajam). Sepupu korban, Farid Saputera (32) mengatakan Januar seorang penyandang disabilitas. Dia bisu dan tuli.
Diceritakannya, pada malam pergantian tahun itu, Januar naik sepeda motor, membonceng temannya SR. Farid mengaku tak mengenal siapa SR. "Orang kampung sempat melihat korban berangkat sama SR. Januar yang bonceng, dan SR terlihat sudah mabuk. SR sempat mengajaknya makan, tapi ditolak. Januar memakai bahasa isyarat dengan memegang perutnya, tandanya sudah kenyang," kisahnya, Selasa (2/1).
Keluarga sangsi Januar adalah pemicu masalah. Mereka menduga Januar cuma korban salah sasaran. Sebab Farid mendengar, sebelum pengeroyokan itu, tak jauh dari kawasan itu terjadi perkelahian. "Tidak tahu apakah ributnya sama Ebeh, dengan kawan Ebeh, atau sama kelompok lain. Soalnya tidak masuk akal, hanya gara-gara berteriak diserang," tegasnya.
Penolong yang membawa Januar bernama Adit. Dialah yang mengantar korban ke Rumah Sakit Ansari Saleh di Kayu Tangi.
"Adit ini yang melihat korban dikeroyok, diseret dari musala sampai kolong jembatan. Sampai kakinya lecet dan kukunya koyak. Luka yang parah di perut dan punggungnya," kata Farid. Di rumah sakit, Farid masih mendapati Januar bernapas. Dia lalu menuju TKP untuk mencari pengeroyok.
"Adit mengaku mengenali beberapa pelaku yang berasal dari Kampung Arab," tambahnya. Keluarga berharap polisi serius dalam mengungkap kasus ini hingga tuntas. "Semoga motif sesungguhnya terungkap," harapnya. Ibu Farid, Siti Aminah menceritakan, orang kampung mengenal Januar sebagai pemuda yang sopan.
Januar masih bujangan. Bekerja serabutan. Bisa disuruh mengecat rumah atau bertukang. "Banyak warga sini yang kaget mendengar Januar meninggal karena berkelahi. Sebab warga tahu sifatnya. Dia suka bantu-bantu. Tak mungkin dia meneriaki orang atau mengolok-olok, namanya saja orang bisu," ujarnya. "Saya rasa sangat tidak mungkin," tegas Aminah.
Terpisah, Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin Kompol Thomas Afrian mengatakan, gelar perkara telah menetapkan tersangka. "Dari delapan yang diamankan, tiga orang kami tetapkan menjadi tersangka," ujarnya. (*)