Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Penanggulangan Bencana di Kalsel, Gubernur Tegaskan Perlu Melakukan Ini

M Fadlan Zakiri • Kamis, 9 Mei 2024 - 20:08 WIB
PEMADAM : Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor terlibat langsung dalam upaya pembasahan lahan gambut di Ring 1 Bandara, Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru beberapa waktu lalu (FOTO: BIRO ADPIM PROV KAL
PEMADAM : Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor terlibat langsung dalam upaya pembasahan lahan gambut di Ring 1 Bandara, Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru beberapa waktu lalu (FOTO: BIRO ADPIM PROV KAL

 

 Meski BMKG menyebut akan terjadi pergeseran jadwal musim kemarau untuk wilayah Kalsel, bukan berarti Banua aman dari bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bahkan bencana hidrometeorologi berupa banjir, longsor, dan angin kencang juga masih menjadi ancaman serius.

Hal ini diungkapkan Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor saat memimpin apel peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana di halaman Kantor Setdaprov Kalsel di Banjarbaru, Rabu (8/5) siang. 

Bahkan, gubernur yang akrab disapa Paman Birin ini mengakui jika risiko atau ancaman kedua bencana tersebut masih tinggi di Kalsel. “Karena itulah pada peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana ini kita terus memperkuat sumber daya personel dan sarana prasarana penanggulangan bencana," tegasnya.

Paman Birin menekankan bahwa penanggulangan bencana tidak hanya tugas dari pemerintah dan institusi terkait, juga sektor swasta. “Ini menjadi tanggung jawab bersama dan perlu pelibatan masyarakat luas. Mulai upaya mitigasi hingga penanganan bencana di lapangan,” ujarnya.

“Semakin banyak masyarakat yang sadar akan potensi bencana, maka ketangguhan kita semakin meningkat,” yakinnya.

Penekanan itu dilakukan bukan tanpa alasan. Belum lama tadi BMKG Kalsel mengimbau pemerintah daerah (pemda) bersiap menghadapi karhutla.

Selain itu, mereka juga mengimbau kepada instansi terkait dan seluruh elemen masyarakat agar lebih siap menghadapi bencana itu. “Aktivitas pembersihan lahan dan hutan yang dibakar terjadi tiap tahunnya, meskipun kondisi sifat hujan kemarau 2024 tidak di bawah normal,” ujar Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) Kalsel, Goeroeh Tjiptanto.

Goeroeh juga mengimbau masyarakat melakukan langkah antisipatif dalam penanganan bencana hidrometeorologi. Terutama untuk tanaman pertanian dan hortikultura yang sensitif terhadap curah hujan. “Tindakan antisipasi juga diperlukan pada wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau atas normal atau lebih basah dari biasanya,” lanjutnya.

BMKG memprediksi awal kemarau di Kalsel dimulai pada pertengahan Juni 2024. Masyarakat diminta agar mengoptimalkan penyimpanan air melalui gerakan memanen air hujan. “Dalam skala kecil hingga besar, lebih optimal dilakukan pada akhir musim hujan untuk memenuhi danau, waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpan air lainnya,” sarannya.

Kepala BPBD Kalsel, R Suria Fadliansyah mengatakan pihaknya terus memperkuat kesiapsiagaan baik personel dan sarana penanganan bencana. Termasuk upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman bencana.

"Upaya antisipasi bencana ini akan lebih digencarkan, karena kita baru saja bantuan sarana prasarana dari BNPB untuk 13 kabupaten/kota di Kalsel," terangnya. (*)

 
 
Editor : Indra Zakaria
#kalsel