Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kisah Penuh Inspirasi Muhammad Rahmani Abduh, Tukang Sapu Kampus UIN Antasari Lolos Seleksi Dosen CPNS

Indra Zakaria • Minggu, 19 Januari 2025 - 16:02 WIB
INSPIRATIF: Muhammad Rahmani Abduh, 25 tahun, saat menyapu taman kampus UIN Antasari Banjarmasin, Jumat (17/1) pagi. (Foto: RIYAD DAFHI RIZKI/RADAR BANJARMASIN)
INSPIRATIF: Muhammad Rahmani Abduh, 25 tahun, saat menyapu taman kampus UIN Antasari Banjarmasin, Jumat (17/1) pagi. (Foto: RIYAD DAFHI RIZKI/RADAR BANJARMASIN)

 

Abduh mulai menjadi petugas kebersihan kampus saat menulis skripsi. Ia tetap menyapu taman kampusnya, saat menempuh kuliah S2 dan mengajar.

******

Jarum jam menunjuk angka tujuh ketika Muhammad Rahmani Abduh melangkah keluar dari indekos sederhana di Gang 7, Kompleks Bina Brata, Jalan Manunggal II, Kebun Bunga, Banjarmasin Timur.

Di halaman, motor Honda Supra X andalan sudah menanti. Setelah memanaskan mesin, pemuda 25 tahun itu mengenakan helm dan memulai perjalanan menuju Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Jalan Ahmad Yani Kilometer 4,5 Banjarmasin.

Setiba di kampus, Abduh–begitu ia akrab disapa–langsung mengambil peralatan kerja seperti sapu, serok, dan bak sampah. Tugasnya sebagai petugas kebersihan kampus ini telah ia jalani sejak tahun 2020. Meski berat, inilah cara Abduh mewujudkan mimpinya.

Perjuangan Abduh


Abduh lahir dan besar di Desa Sinar Baru, Rantau Badauh, Barito Kuala. Orang tuanya, Muhammad Riduan dan Siti Rahmah, adalah petani sederhana yang penghasilannya pas-pasan.

Namun, keterbatasan ekonomi keluarga tidak pernah memadamkan semangat Abduh untuk sekolah. Sejak masuk kuliah pada 2016 di Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Antasari, Abduh sudah menyadari ia perlu bekerja untuk membiayai pendidikannya.

Pekerjaan pertama yang ia lakoni adalah karyawan di sebuah rumah makan sejak 2017. Namun, pada 2020 ia terpaksa resign karena harus menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Tandilang, Batang Alai Timur, Hulu Sungai Tengah. 

Selesai KKN, Abduh sempat kebingungan mencari pekerjaan baru untuk menopang kehidupannya di perantauan. Hingga muncul lowongan petugas kebersihan di kampusnya. Saat melamar, ia sempat ditanya apakah yakin bisa bekerja sambil menyelesaikan skripsi.

Abduh menjawab, "Saya sudah dapat izin dari dosen pembimbing skripsi. Saya juga berkomitmen menyelesaikan kuliah meski sambil bekerja." Ia diterima, dan bertugas membersihkan taman-taman kampus sambil membagi waktu untuk kuliah dan menulis skripsi. 

Abduh tidak pernah merasa malu pada teman-teman kuliahnya. Baginya, pekerjaan itu adalah jalan untuk memperjuangkan harapan orang tua di kampung. "Melihat perjuangan orang tua saya, banting tulang sebagai petani, mengapa harus malu?" ujarnya.

Ia juga bersyukur karena memiliki teman-teman yang selalu mendukung pekerjaannya.  "Mereka paham dengan kondisi saya dan selalu memberi semangat. Semuanya baik. Itu membuat saya semakin kuat," katanya.

Lulus Sarjana


Pada 2020, Abduh menyelesaikan studi sarjananya. Kisahnya menginspirasi banyak pihak, termasuk Munisah, atasan sekaligus Kasubbag Rumah Tangga dan Barang Milik Negara UIN Antasari.

Tersentuh oleh kegigihan Abduh, Munisah menawarkan bantuan agar ia melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. "Saya bilang tidak punya uang," kenang Abduh.

Namun Munisah bersedia membiayai pendaftaran S2-nya secara cuma-cuma. Berkat itu, Abduh mendaftar dan diterima di Prodi Magister Hukum Ekonomi Syariah di almamaternya. 

Sambil tetap bekerja sebagai petugas kebersihan, Abduh melanjutkan kuliah. Pada 2022, ia mulai menyusun tesis berjudul "Praktik Sanda dan Bakakarun dalam Perspektif Fikih Muamalah".

Namun, Abduh lagi-lagi dihadapkan pada masalah biaya, kali ini untuk mengikuti ujian tesis. Munisah kembali memberikan dukungan. Ia bersedia menjadi penjamin bagi Abduh supaya dapat meminjam uang dari koperasi kampus. Berkat bantuan ini, Abduh berhasil menyelesaikan tesisnya dan lulus magister.

Bagi Munisah, Abduh bukan lagi bawahan, melainkan sudah seperti keluarga. "Saya sangat dekat dengan Abduh. Saya tahu dia sering kesulitan, bahkan untuk makan sehari-hari. Tapi dia tidak pernah mengeluh," ujar Munisah. Di samping itu, Munisah mengaku terkesan dengan sikap santun Abduh.

"Abduh memiliki akhlak baik dan pekerja keras. Di balik semua itu, saya melihat dia cerdas dan punya potensi yang harus diberi kesempatan."

Titik Balik


Lulus S2, pintu rezeki Abduh terbuka lebar. Ia ditawari menjadi pengajar (dosen luar biasa) di Prodi Bimbingan dan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Antasari.

Selain itu, ia juga menjadi asisten dosen di Prodi Hukum Ekonomi Syariah Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al-Banjari. Meski begitu, pekerjaannya sebagai cleaning service tidak lantas ditinggalkan.

"Biasanya, kelar bersih-bersih sekitar pukul 09.30 Wita, saya balik ke kos dulu. Ganti baju, lalu berangkat mengajar," ujarnya. Kepada mahasiswa, ia tak ragu untuk mengungkap kisahnya sebagai petugas kebersihan. 

"Saya sampaikan kepada mereka, kalau melihat saya sedang bersih-bersih di kampus, mohon ditegur. Jangan sungkan," tutur Abduh. Respons mahasiswa pun membuatnya bahagia. Mereka tidak hanya memahami, tetapi juga menghormatinya.

"Sering ada mahasiswa yang menyapa dengan ramah. Bahkan, ada yang mencium tangan meskipun saat itu tangan saya kotor," ungkapnya sambil tersenyum.

Perjalanan hidup tidak selalu mulus. Ada cerita kegagalan yang pernah Abduh alami. Dua kali ia menelan kekecewaan saat mencoba peruntungan mendaftar seleksi ASN.
Kegagalan pertama terjadi tahun 2020, sesaat setelah ia menyelesaikan studi S1. Abduh melamar posisi analis barang dan jasa di Pemerintah Kabupaten Barito Kuala.

Namun, langkahnya terhenti bahkan sebelum seleksi awal. Ia dinyatakan gagal karena kesalahan teknis dalam penulisan format surat lamaran. "Format surat lamaran saya ternyata salah. Itu jadi pelajaran besar buat saya."

Kegagalan berikutnya terjadi saat ia mencoba menjadi dosen di Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban) setelah menuntaskan S2. Proses seleksi berlangsung ketat hingga tahap akhir, tetapi Abduh harus menerima kenyataan pahit.

Ia kalah bersaing dengan kandidat lain yang telah menjadi dosen tetap di kampus tersebut. "Tersisa dua orang, sementara hanya ada satu formasi. Saingan saya memang lebih berpengalaman," ujarnya.

Meski demikian, kegagalan itu tidak membuat Abduh terpuruk. Hingga pada 2024, UIN Antasari membuka lowongan untuk posisi dosen. Kesempatan ini menjadi momen yang dinanti Abduh.

Sebanyak 18 peserta mendaftar, namun hanya ada dua posisi yang tersedia. Abduh tahu persaingan ini tidak mudah. Ia mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, bahkan mengikuti bimbingan belajar demi memantapkan penguasaan materi tes CPNS.

Kerja keras itu membuahkan hasil. Setelah melewati serangkaian ujian, Abduh dinyatakan sebagai satu dari dua orang yang lolos.

Abduh merasa begitu bahagia bisa menjadi dosen di tempat yang telah membentuk dirinya—kampus tempat ia menimba ilmu sekaligus mengabdi sebagai petugas kebersihan.


Benih Kebaikan
Kepala Biro Administrasi Umum Perencanaan Keuangan dan Kepegawaian UIN Antasari, Moh Junaidin bangga atas pencapaian Abduh.

Baca Juga: Yamaha Aerox Alpha Ready Stock di Kalselteng, Harga Mulai Rp32 Jutaan OTR Banjarmasin, Tipe Tertinggi Pakai Turbo Rp40 Jutaan

"Saya baru beberapa bulan bertugas di kampus ini. Awalnya, saya sering melihat Abduh sibuk membersihkan taman. Dia terlihat begitu sederhana."

Namun, di balik kesederhanaannya, Junaidin baru mengetahui bahwa Abduh adalah lulusan magister.

"Selama ini dia tidak pernah bilang. Sederhana sekali anak ini," imbuhnya.

Baca Juga: Soal Rencana Pembangunan Rest Area di Jalur Alternatif Banjarbaru-Batulicin, Ini Kata Bupati Tanah Bumbu Terpilih

Junaidin menegaskan, kelulusan Abduh menjadi dosen bukan karena bantuan pihak kampus, melainkan hasil kerja keras dan kebaikan yang telah Abduh tanam selama ini.

"Tes ini dibuka secara nasional. Kampus tidak mungkin membantu seseorang kalau orang itu tidak membantu dirinya sendiri. Abduh telah melakukannya—membantu dirinya sendiri dengan benih kebaikan yang ditebarkannya," kata Junaidin.

Ia mengagumi tekad kuat Abduh yang rela bekerja sebagai tenaga kebersihan taman. Abduh juga tak pernah minder dengan latar belakangnya sebagai orang kampung.

"Dia ini berbeda. Tekadnya luar biasa," ucap Junaidin. Di akhir, Junaidin menyampaikan pesan khusus kepada Abduh. Ia berharap Abduh tetap menjadi pribadi yang rendah hati meski nanti berada di posisi yang lebih baik.

"Saya berpesan kepada Abduh, hiduplah seperti kau hidup sekarang. Jangan pernah berubah," tutup Junaidin. (*)

Editor : Indra Zakaria
#uin antasari banjarmasin