Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ini Dia Masjid Tertua di Sukamara, Dibangun Tahun 1928, Tanah Wakaf Haji Ahmadal, Awalnya Beratap Daun Nipah Kering

Indra Zakaria • 2025-03-13 12:00:00
SEJARAH: Masjid Al Aqsa Sukamara tempo dulu yang sempat dibangun dengan beratap daun maupun sirap.
SEJARAH: Masjid Al Aqsa Sukamara tempo dulu yang sempat dibangun dengan beratap daun maupun sirap.

 

Masjid jami Al Aqsha Sukamara menjadi salah satu masjid kebanggaan masyarakat Sukamara, karena merupakan masjid tertua dan saksi bisu sejarah terbentuk dan berkembangnya Kota Sukamara.

Masjid ini letaknya diantara jalan Cakra Adiwijaya dan Setia Yakin. Tak jauh dari kompleks pasar Inpres Sukamara. Posisinya strategis berada di kompleks pasar maupun pertengahan antara kelurahan Mendawai dan Padang, tentu fungsinya sebagai pengumpul jamaah, dan tepat jika disebut sebagai masjid jami. Masjid yang berada di bantaran sungai Jelai ini dibangun sekitar tahun 1928, dikala Kota Sukamara masih berupa bagan (kelompok pondok kecil).

Setelah penduduknya bertambah banyak dan bagan terbagi menjadi bagan mendawai, bagan tengah dan bagan padang, maka masyarakat sepakat membangun sebuah masjid berukuran sekitar 6×6 meter berdinding dan beratap daun nipah di atas tanah wakaf Kai Ahmadal.

”Pertama kali dibangun hanya berdinding dan beratap daun. Masjid kecil itu menjadi tempat berkumpulnya warga dari semua bagan,” cerita Ardiansyah salah seorang pengurus masjid. Bagan-bagan semakin berkembang hingga menjadi sebuah perkampungan. Para pendatang pun terus berdatangan termasuk para pedagang. Salah satunya adalah pedagang dari Turki bernama Habib Eben, yang menjual minyak wangi.

Melihat kondisi masjid berdinding dan beratap daun, ia pun merasa prihatin. Habib berinisiatif mengumpulkan warga yang tergolong mampu. Setelah warga berkumpul, Habib Eben sengaja merobek dinding masjid yang terbuat dari daun kajang dan menusuk-nusuk atap masjid hingga berlubang-lubang. Ia pun mempertanyakan dimana saja orang kaya sehingga kondisi masjid seperti itu.

Mendengar perkataan Habib Eben, para pedagang dan orang kaya saat itu pun sadar dan tergerak untuk memperbaiki masjid. Kemudian mereka sepakat membongkar dan mengganti dengan bangunan baru berdinding papan kayu dan beratap sirap kayu ulin. Setelah itu terbangunlah sebuah masjid baru berukuran 10×10 meter, beratap sirap dan bagian atas berbentuk limas persegi lima. Warga sepakat memberi nama masjid itu Al-Aqsha.

Setelah bagan berkembang menjadi perkampungan, jumlah penduduk juga semakin bertambah sehingga kondisi masjid perlu diperluas lagi. Dari riwayat yang diingat oleh Ardiansyah, pemugaran masjid pernah dilakukan pada era tahun 70-an, dimana bentuk atap limas diubah menggunakan kubah. Kemudian, masuk tahun 80-an bentuk bangunan mulai diubah total dan diperluas hingga masuk tahun 90-an. Pembangunan masjid itupun terus berlanjut hingga sekarang dengan desain lebih modern. (***/ign)

 

Editor : Indra Zakaria