TANJUNG REDEB – PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) memiliki program yang unik untuk membantu para emak-emak. BUMA mengeluarkan program Wifepreneur, yaitu program pengolahan kerajinan tangan hingga makanan yang bekerja dari rumah, untuk menghasilkan jutaan rupiah.
Kondisi pandemi seperti sekarang, tak dipungkiri telah menghantam sektor perekonomian termasuk industri batu bara. Pada awal 2021, harga batu bara dunia sempat tertekan hebat sehingga berdampak bagi karyawan perusahaan pertambangan batu bara. Belum lagi perilaku masyarakat yang berubah drastis karena hampir semuanya dilakukan secara daring.
Meski begitu, selalu ada peluang di tengah kesulitan. Perubahan perilaku masyarakat menuju era digital pada masa pandemi, justru membuka lebih banyak ruang bagi perempuan yang telah berumah tangga untuk menyalurkan potensinya. Para istri bisa menekuni bisnis tanpa perlu banyak keluar rumah. Selain tidak menyita waktu, para istri pun dapat membantu penghasilan para suami yang terganggu selama pandemi.
Melihat potensi itu, BUMA kemudian mengadakan program Wifepreneur. Program ini berbentuk pelatihan kewirausahaan dan pendampingan bisnis kepada istri-istri karyawan. Perusahaan ingin agar keluarga karyawan siap dalam menghadapi situasi yang tidak pasti, khususnya pada masa pandemi. Dengan demikian, keluarga karyawan dapat berdaya secara ekonomi sebagai penopang pilar ekonomi keluarga.
“Program ini merupakan bagian dari usaha BUMA dalam berkontribusi mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan di bidang ekonomi dan sosial,” terang Helen Adhi Yasadipura selaku Specialist Sustainability BUMA.
Program Wifepreneur dimulai pada awal 2021 dan berjalan dua gelombang (batch). Program Wifepreneur batch pertama diikuti 46 peserta dari istri pekerja dan karyawati site Lati dan Binungan, Berau, Kaltim. Sedangkan batch kedua diikuti 57 peserta, semuanya juga perempuan. Program ini berfokus kepada tiga pilar pengembangan yaitu penguatan kompetensi, networking, dan akses pembiayaan.
Pelatihan berjalan 100 persen daring. Peserta dibagi ke dalam kelompok sesuai bidang usahanya seperti kelompok fashion, kuliner, jasa, kerajinan tangan, dan start-up. Seorang liaison officer (LO) disediakan di setiap kelompok, untuk membantu peserta mengimplementasikan ilmu yang mereka dapat saat pelatihan.
BUMA juga memfasilitasi desain logo dan kemasan produk yang dihasilkan para peserta. Dengan demikian, pada saat peserta selesai mengikuti pelatihan, produk sudah siap dipasarkan dan berdaya saing. Setelah pelatihan pun, BUMA secara berkala memantau progres penjualan, dan konsistensi peserta dalam aktivasi usahanya. Peserta dengan performance usaha yang baik lantas disiapkan untuk mengikuti program akselerasi penguatan bisnis selanjutnya.
Dari berbagai bisnis yang ditekuni, paling banyak merupakan kuliner. Produknya bermacam-macam mulai sambal keripik, kue kering, hingga aneka minuman. Sampai saat ini, pelatihan sudah melahirkan 88 brand UMKM dengan sebagian besar peserta berdomisili di Kaltim.
“Sementara menurut data penjualan 23 ibu yang aktif dari batch pertama sejak Agustus-Desember 2021, omzet rata-rata Rp 4,8 juta per bulan,” terang Helen. Jumlah usaha yang aktif diprediksi terus bertambah karena peserta batch kedua baru menyelesaikan pelatihan pada Januari 2022.
Menurut Helen, perusahaan berharap konsep pelatihan Wifepreneur mencetak agen perubahan bagi perempuan-perempuan di sekitar mereka. Lebih banyak perempuan yang terjun di UMKM, imbuh Helen, akan memperkuat fondasi perekonomian. Kehadiran para perempuanjuga tentu membawa dampak bagi diri mereka, keluarga, maupun lingkungan sekitar. Termasuk, melahirkan lebih banyak entrepreneur perempuan lagi.(hmd/adv/arp)
Editor : uki-Berau Post