Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Wajah Kalimarau

uki-Berau Post • 2022-11-16 03:52:17
-
-

JADI ingat Pak Panjul. Petugas porter Bandara Kalimarau. Ia meninggal dunia beberapa waktu lalu.

Sejak bandara lama, sudah bekerja di bandara. Membantu penumpang yang datang dan yang akan berangkat.

Sekarang sepertinya jasa seorang porter mulai berkurang. Penumpang yang datang, bisa dengan sabar membawa sendiri barang-barangnya.

Begitupun yang akan berangkat. Tak lagi menggunakan jasa seorang porter. Beberapa bulan lalu, memang sedikit repot.

Harus antre di depan pintu masuk, bergantian meletakkan barang pada ban berjalan melewati x-ray. Dari situ lanjut ke tempat check-in.

Naik dan menurunkan barang bawaan memang sedikit menyita waktu. Akan sangat terasa bila seorang diri, dengan barang yang banyak.

Sekarang bagaimana? Di pintu masuk tak terlihat lagi fasilitas x-ray. “Semua sudah dipindah di balik dinding pak,” kata salah seorang petugas bandara.

Calon penumpang langsung ke meja check-in saja. Urusan bagasi tinggal dimasukkan. Sudah ada x-ray dan petugas di balik dinding.

Praktis memang. Juga nampak lebih rapi. Cara kerja ini sudah diterapkan di hampir semua bandara besar. Setelah check-in, langsung ke lantai dua saja. Di ruang tunggu.

Calon penumpang harus konsentrasi. Sebab semua belum selesai. Bila petugas x-ray tiba-tiba memanggil nama, itu artinya ada masalah dengan isi tas bagasi. Penumpang harus ke meja check-in untuk menjelaskan.

Bandara berstatus internasional itu, sekarang lagi ‘lesu’. Dengan terminal yang demikian besar dan luas, hanya melayani satu maskapai.

Sedangkan biaya operasional bandara cukup besar. Walaupun ada dukungan solar cell, tapi penggunaan listrik cukup tinggi.

Jadi, jangan mengeluh bila berada di ruang tunggu keberangkatan, udaranya tidak sedingin dulu. Bandara sedang melakukan penghematan.

Sewaktu bandara masih berstatus perintis, semua serba terbatas. Sekarang kan kelasnya sudah tinggi.

Setiap hari, hanya Wings Air yang terbang sebanyak lima kali menuju Balikpapan dan satu kali ke Samarinda.

Dengan enam kali terbang, rata-rata kursi terisi penuh, tinggal mengalikan saja. Yakni sebanyak 72 penumpang sekali bergerak.

Bagaimana dengan maskapai lainnya? Masih ada jalan buntu dalam komunikasi antara pemkab dan maskapai. Bisa saja, tawaran block seat tak bisa dipenuhi.

Entah sampai kapan, penumpang harus membayar mahal untuk sekali penerbangan. Entah sampai kapan, jenazah yang akan dimakamkan di luar Berau, harus berusah-payah lewat darat.

Ini sebetulnya ujian juga. Apalagi sedang berlangsung porprov. Apalagi jelang akhir tahun yang banyak wisatawan ingin datang liburan Natal dan Tahun Baru.

Yang berstatus ASN tak masalah. Perjalanannya ditanggung daerah. Mungkin kita harus sabar lebih lama lagi. @cds_daengsikra. (*/udi)

Editor : uki-Berau Post
#Catatan