Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Gado-Gado

uki-Berau Post • 2022-11-22 13:29:59
-
-
HARI minggu (20/11) udaranya panas. Panas yang rasanya tak biasa. Kata teman, panasnya meigut (menggigit). Tapi tetap saja beraktivitas di luar rumah.
 
Saya diundang agar bisa hadir menyaksikan terbentuknya kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di Teluk Bayur. Di alun-alun yang wajahnya sudah dipercantik. Lebih cantik ketika lapangan itu masih digunakan perusahaan tambang Batu bara asal Belanda.
 
Ada dua acara pentingnya. Pokdarwis dan launching Teluk Bayur sebagai kota tua. Tidak salah dengan sebutan itu. Teluk Bayur memang kota tua. Banyak peninggalan Belanda yang memperkuat status tua.
 
Walau tak bisa menampilkan utuh, tapi teman-teman dari dinas pariwisata, ingin menggugah, bagaimana Teluk Bayur tempo dulu. Bagaimana alun-alun yang dulu dijadikan tempat bertemunya para pekerja tambang, menjadi tempat bertemunya warga Teluk Bayur.
 
Saya sendiri tak bisa membayangkan, bagaimana suasana waktu itu. Pernah bertemu dengan salah seorang yang pernah melihat aktivitas tambang batu bara kala itu. Dia bukan pekerja tambangnya, tapi sebagai pembayar gaji.
 
Disbudpar, ingin memvisualkan kepada generasi di Teluk Bayur, bahwa aktivitas perusahaan menjadkan Teluk Bayur, sebetulnya lebih pas jadi ibu kota. “Ingin menggugah kenangan itu,” kata Bu Sam, sebagai penggagas perhelatan tersebut.
 
Saya tidak duduk pada jejeran bangku di depan. Memilih berkeliling lapangan, sambil mencermati urutan acaranya. Mengasyikkan, warga yang datangpun diajak sambil menikmati berbagai jenis makanan yang ditawarkan UMKM.
 
Sukseslah acara itu. Dan, menjadi tantangan Pokdarwis untuk menggagas sebuah festival kota tua. Mereka pasti bisa. Mereka anak muda yang kreatif dan penuh semangat.Mereka mampu membuat Teluk Bayur tampil beda.
 
Sepanjang acara berlangsung, yang ada dalam bayangan saya adalah makan siang dengan menu gado-gado. Warung yang jualannya dekat terminal ketinting. Warung yang tidak bisa dipisahkan dengan sejarah hadirnya warga di Teluk Bayur.
 
“Kita ketemu di penjual gado-gado,” kata Pak Agus Pancau. Ia dulunya penggerak anak-anak muda di Teluk Bayur. Satu generasi dengan Edy Jumantara, Almarhum Zulkifli dan banyak lagi nama-nama tokoh pemudanya.
 
Menyebut gado-gado, saya hanya punya referensi yang berjualan dekat pasar. Duduklah seorang diri, menikmati sepiring gado-gado, sambil menunggu Agus Pancau. Sudah seleai makan, Pak Agusnya tidak muncul juga.
 
Oh, rupaya saya terlambat informasi. Di Teluk Bayur, dalam kawasan ‘kampung Cina’ ada penjual gado-gado yang baru. Gado-Gado Bu Sur namanya. Tidak jauh untuk ukuran jalan kaki. Tapi lumayan dibawa sinar matahari terik.
 
Belum lagi duduk, penjualnya sudah membawakan satu piring gado-gado. Sebetulnya mau saja berkata sudah makan gado-gado. Sudahlah, saya nikmati saja. Kamipun sambil bercerita tentang Teluk Bayur kekinian.
 
“Bagus juga dibuat event setiap minggu sekali,” kata Agus. Kalau setiap minggu saya juga hadir, maka setiap minggu itu pula saya menikmati gado-gado yang sama-sama enaknya. Atau barangkali, bisa saja sesekali membuat ‘festival gado-gado’, kan menarik.
 
Teluk Bayur akan semakin dikenal dengan sebutan barunya ‘kota tua’. Bukan hanya konsep festivalnya, tapi sekaligus merubah sedikit wajahnya. Wajah bangunan yang ada di sekitar alun-alun, yang dulunya rumah bagi petinggi perusahaan. @cds_daengsikra. (*/udi)
Editor : uki-Berau Post
#Catatan