TANJUNG REDEB - Ketua Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI) Berau Indrawati, membantah adanya dugaan gratifikasi untuk pemberian medali emas untuk kontingen kabupaten/kota lain.
Makanya dia membantah informasi dugaan pengaturan medali pada pelaksanaan Porprov VII Kaltim 2022, yang sempat diwarnai aksi protes para atlet dan juga kontingen yang bertanding. Salah satunya yang melakukan protes adalah dari kontingen dan atlet dansa Samarinda.
Kontingen Samarinda pun melakukan walk out meninggalkan arena pertandingan, karena menduga adanya kesepakatan bagi-bagi medali emas pada kontingen.
Namun Indrawati yang juga Ketua Panitia Pertandingan Cabor Dansa di Porprov VII Kaltim, tidak membenarkan dugaan yang seolah-olah kontingen Berau mengatur atau dugaan pembagian medali, seperti kabar yang beredar. Justru menurutnya, aneh jika dugaan tersebut diarahkan ke pihaknya.
"Padahal hari pertama lomba, Samarinda aja sudah dapat 7 medali emas, Kukar 2 emas, Berau 2 emas, Balikpapan 1 emas. Maksudnya siapa yang disebut ini bagi-bagi emas, sehingga hari kedua ini Samarinda sampai walk out. Berau terpojok dengan kabar yang beredar," ujar Iin – sapaan akrabnya, kemarin (9/12).
Disebutnya, justru pihak IODI Samarinda yang berbuat tidak adil dengan kabupaten/kota lainnya. Bahkan melanggar kesepakatan dan aturan terkait atlet. Bukan hanya itu, setelah 7 emas di hari pertama diambil, Samarinda melakukan walk out di hari kedua tanpa ada komunikasi dengannya sebagai ketua panitia.
"Perdebatan dengan Berau pun tidak ada. Itu karena keegoisan dan emosi dari pihak IODI Samarinda yang sudah merasa malu, karena melanggar komitmen dan sudah memicu keributan," ungkapnya.
"Makanya mereka pergi meninggalkan tempat tanpa memikirkan atlet Samarinda lainnya. Mereka (atlet) menangis minta main tapi ketua Samarinda dengan egonya melarang mereka main," sambungnya.
Kendati itu, persoalan ini pun diharapkannya tidak memberikan kesan buruk terhadap tuan rumah sebagai pelaksanaan event empat tahunan tersebut. Apalagi akibat dari provokasi pihak Samarinda, sampai salah satu pengurus IODI Berau atau Panpel Porprov cabor dansa, harus terkena imbasnya. Karena memicu kontingen lainnya yakni Kukar melakukan tindakan pelemparan medali, sehingga berujung pelaporan polisi.
Menurut pengakuan oknum kontingen Kukar yang melempar medali, dalam surat pernyataan dan kesepakatan bersama, tindakan tersebut dilakukannya secara spontan karena sebelumnya mendapatkan provokasi dari kontingen IODI Samarinda atas ketidakpuasan keputusan juri. Hingga klimaksnya kontingen IODI Samarinda melakukan walk out (WO).
"Sehingga membuat pihak pelempar ini berpikir keputusan juri yang diambil tidak tepat, maka itu juga berimbas ke kabupaten/kota lainnya," lanjutnya.
Jadi pihaknya menegaskan persoalan ini harus menjadi evaluasi untuk Porprov VIII Kaltim di Kabupaten Paser tahun 2026 mendatang. "Kami tidak ingin ada gesekan-gesekan sebenarnya. Tetapi kami juga tidak akan tinggal diam dengan adanya dugaan yang bagi-bagi medali oleh panitia pelaksana cabor dansa," tutupnya. (mar/udi)
Editor : uki-Berau Post