JANGAN kada ingatlah, kue Pia nang di Hokky itu, pesan WA sahabat saya Bu Meiliana. Dia tidak menyebut banyaknya. Yang penting dia bisa nikmati dan sebagian dibawa pulang.
Padahal janjian, sebelum kembali ke Samarinda bersama Dubes Seychelles Niko Barito, minum kopi dulu di Hokky. Bu Mei itu, sering dibuat taganang dengan kue Pia buatan Giok, pemilik warung. Apalagi menikmati dengan secangkir kopi tanpa gula.
Beberapa waktu lalu, ia berencana ke Pulau Maratua. Skedulnya, dari Bandara Kalimarau langsung ke dermaga wisata. Skedul diubah. Mampir dulu minum kopi dan kue Pia di Hokky. Saya diminta menemani.
Sebagai teman sekampus di Jalan Flores, Samarinda, kalau bertemu seperti itu, sering mengulang cerita lama. Bagaimana Pak Rizal Effendi, mantan Walikota Balikpapan. Bagaimana Mas Syaiful dan beberapa nama dosen. Kami berbincang sambil membayangkan menikmati ati ampul goreng dan kare ayam di depan kampus Fekon, Unmul. Di warung Asui.
Karena sibuk, setelah acara di Hotel Bumi Segah, Bu Mei bersama Nico Barito tak sempat lagi ke Hokky. Kue Pianya dikirim saja ke hotel. Bisa untuk sarapan dan sekalian oleh-oleh pulang ke Samarinda.
Jumpa Bu Mei sekarang dan dulu, jauhlah bedanya. Dia punya jam terbang di eksekutif. Dia banyak jaringan di level nasional. Dia dekat dengan banyak pejabat penting. Dan, memang dia pintar. Kalau dibanding dengan saya, mungkin tujuh level bedanya. Saya tak bisa mengejar. Saya jauh tertinggal. walau sama-sama pernah menangani kehumasan. Dia kepala biro, saya hanya kepala bagian. Haha.
Yang membedakan. Saya setiap hari bisa menikmati kue Pia Hokky kesukaannya. Dia harus pesan dulu. Sebaliknya, dia bisa menikmati nasi kuning depan Hotel Bumi Senyiur setiap dia mau. Sementara, saya hanya bisa memesan dengan teman yang kebetulan ke Berau. Termasuk ayam goreng Banjarmasin.
Masih sekitar Pia warung Hokky. Kami ada coffee Morning di Hokky. Padahal saya belum mandi. Ada WA Pak Aliang. Sigkat saja. Hanya dua huruf. HK, begitu wa pak Aliang. Saya meluncur saja. Kebetulan mau beli ikan di Jalan Soetomo. Ada Ikan Kaneke yang tidak disukai banyak orang, namun jenis itu populer di Makassar.
Hampir bersamaan tiba di Hokky. Saya naik motor, Pak Aliang naik mobil KT 88 OL. Dia pesan kopi susu, saya teh susu. Dia pesan telur setengah masak dua biji. Saya pesan tiga biji. Saya pesan nasi telur dadar. Dia bilang masih kenyang.
Tak lama datang Kajari Hari Wibowo. Lengkaplah, pagi kemarin itu di Hokky kami pun Coffee Morninglah. Mungkin sekali-sekali, para petinggi bertemu di Hokky. Saya yakin, akan banyak persoalan serius bisa terselesaikan. Persoalan yang dead lock, bisa tuntas di hokky.
Sebutlah urusan pesawat ke Bandara Maratua dari Kalimarau. Kalau ternyata masih deadlock di ruang Sangalaki, Pemkab. Bisa selesai di Hokky. Dihadirkan para perwakilan. Dihadirkan perwakilan perusahaan tambang, perusahaan perkebunan. Mereka pasti siap menyimpan (deposit) dana untuk kepentingan mereka juga.
Para pejabat Muspida. Lebih suka dengan kata Muspida seperti dulu, sebelum jadi Forkopimda. Tak pernah lama-lama bertugas di Berau. Ada target waktu. Paling panjang 2 tahun. Bisa saja, Pak Hari Wibowo tiba-tiba di tarik ke gedung bundar di Jakarta. Atau di Kejati Kaltim. Semua serba tiba-tiba. Namanya juga Tour of Area.
Makanya, saat ada terobosan untuk kepentingan masyarakat luas, perlu diseriusi. Momen itu takkan pernah datang dua kali. Seperti yang ditawarkan Hari Wibowo membantu akses ke Pulau Maratua. Membantu agar jumlah wisatawan terus naik jumlahnya.
Saya jadi ingat pertanyaan teman saya yang seorang dosen di Makassar. Dia bilang, tempat tinggalmu (Berau) sudah benar-benar siap kah bila besok, lusa, atau bulan depan IKN mulai berjalan? Saya hanya bisa manggut-manggut. Selama ini, selalu didengungkan siap jadi penyangga.
Kalau Makassar atau Sulawesi Selatan kata teman saya, sudah sejak lama siap. Bahkan sudah bisa memasok hampir semua kebutuhan ke wilayah Kaltim dan Kaltara. Saat IKN nanti sudah kick off, semua kebutuhan IKN akan mengalir deras ke Kaltim.
Taruhlah harapan salah satunya adalah pariwisata. Benar-benar siap kah menyambut kehadiran IKN? Jangan-jangan hanya dalam ucapan. Sementara realita di lapangan tidak sesuai dengan ekspektasi. Itu jadi pertanyaan besar kami di warung Hokky kemarin, sambil menikmati Pia buatan Giok. (*/sam)
@cds_daengsikra
Editor : uki-Berau Post